Mulai tanpa aba-aba

1575 Words
. . . . Alex menatap hp Sila yang masih menyala diatas sofa. Mendadak ada rasa penasaran. Bolak balik matanya melihat pintu kamar mandi dan hp Sila secara bergantian, memastikan kalau kagiatannya saat ini tidak akan kepergok oleh Sila. Hampir 15 menit Sila berada dikamar mandi. Tidak ada kegiatan yang berarti karena Sila hanya mencuci mukanya dengan air berkali-kali hingga fikirannya bersih dari adegan vulgar yang baru saja dilihatnya. "Aaaa... ya ampun pak Alex, bapak mengagetkan saya lagi." ucap Sila kaget saat membuka pintu kamar mandi ada Alex yang berdiri disamping pintu. "Bapak mau kekamar mandi juga??? kenapa tidak ketuk pintu saja?" Tanpa menjawab Alex mengikis jarak antara mereka. "Apa yang sedang kamu fikirkan Sila?" bisik Alex tepat disamping telinga Sila dengan tangan yang memberikan hp pada tangan Sila. Sila menatap tangannya, dia melihat hpnya yang masih menyala dan sedang memutar vidio yang tadi sempat dilihatnya. Gluk... Sila menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Deg... degg... degggg... mendadak jantungkan berdetak lebih cepat. "Sia**n, kenapa diri gue mendadak terpojok kayak gini, gue udah dewasa, umur gue juga udah legal dan yang jelas gue juga udah nikah, gak ada pelanggaran disini. Tapi, kenapa posisi gue sekarang kayak orang ketahuan lagi maling?!" batin Lola. "Saya... saya... lagi.... tidak memikirkan apa-apa." jawab Sila sekenanya. "Kalau tidak memikirkan apa-apa kenapa mukamu merah Sila?? dan sepertinya kamu sedikit berkeringat." timpal Alex dengan jari yang mengusap keningnya. Sila langsung menampik tangan Alex. "Ini sisa air cuci muka pak. Tadi kepala pusing mungkin karena sudah terlalu banyak minum." bantah Sila. "Apa benar begitu?? bukan karena menginginkan sesuatu?" tanya Alex berbisik ditelinga Sila. "Ti...tidak pak. Saya hanya ingin tidur." kabur Sila dengan berjalan menuju ranjang. Alex hanya tersenyum melihat Sila yang salah tingkah melangkah menuju ranjang. . . Sila menutup semua tubuhnya dengan selimut. Jujur saja saat ini dia sangat malu pada Alex karena ketahuan melihat vidio vulgar yang dikirim para sahabtnya. Rasa malu dan juga menginginkan sentuhan sungguh satu kesatuan yang tidak baik. Antara gengsi dan berharap. "Bodo amat. Segera tidur saja lama-lama perasaan pengennya juga bakal hilang. Dan besok pagi pasti akan baik-baik saja seperti semula." batin Sila mencoba memejamkan matanya. . . . . Sila waspada saat mendapati pergerakan disamping ranjangnya. Sila langsung membuka selimutnya dan bertanya kepada Alex. "Bapak ngapain naik kesini?" "Saya mau tidur Sila, memangnya apa lagi?" jawab Alex dengan merebahkan tubuhnya. "Maksud saya, kenapa bapak tidur disini?" tanya Sila memperjelas maksud pertanyaannya. "Lalu dimana lagi kalau bukan disini?? kita sudah menikah Sila." jawab Alex santai dengan merebahkan tubuhnya. Belum sempat Sila menimpali jawaban Alex, tubuh Sila sudah mendapat pelukan dari belakang tubuhnya yang sukses membuat Sila menjadi kaku. Nafas Alex yang menghembus dileher belakang Sila, mampu membuat bulu halus ditubuh Sila merinding. "Pak, apa bapak tidak ingin memakai baju dulu?" tanya Sila pelan tanpa menghadap Alex. Pemandangan yang tak sengaja Sila lihat dari tubuh atas Alex yang tanpa penutup membuat fikiran Sila kemana-mana. "Saya sudah terbiasa tidur tanpa baju Sila. Jadi, sekarang kamu harus terbiasa setiap malam melihat saya seperti ini." jawab Alex santai. "Baju tidur kamu tidak ada yang lain?" tanya Alex. "Ada pak, modelnya sama kayak gini tapi bedanya enggak ada outernya. Kenapa pak?" jawab Sila binggung. Alex membuang nafasnga pelan. "Baju tidur kamu membuat saya sedikit gerah." jawaban jujur Alex sontak membuat Sila langsung beralih menghadap Alex. "Bapak sedang bercanda?? bagaimana bapak bisa gerah lha wong bapak tidak pakai baju, AC nya juga menyala. Apa perlu sa... ya..." tiba-tiba Sila menghentikan omongannya saat mengerti arti dari kata "gerah" yang dimaksud Alex. "Ma... af... sa.. ya.. terbiasa memakai baju seperti ini." ucap Sila dengan membenarkan kimononya yang mlorot. "Ya.. kita harus mulai membiasakan diri." timpal Alex. "Tidurlah!!" Sila mulai merebahkan diri, memposisikan tubuhnya membelakangi Alex. Sila masih menormalkan detak jantungnya. . . Jam terus berputar tanpa disadari malam akan segera berganti pagi, tapi keadaannya sekarang mereka yang baru berstatus suami istri belum juga bisa memejamkan mata. Sila masih dengan posisi yang sama membelakangi Alex, dia belum tidur tapi, Sila terlalu canggung bahkan untuk bergerak berganti posisi. "Sil... sudah tidur?" tanya Alex memecah kesunyian. "Belum pak!" sahut Sila. "Apa saya akan terlihat kurang ajar kalo sekarang ingin memeluk kamu?" tanya Alex yang diselimuti izin. "Bapak berhak melakukan apapun pada saya." jawab Sila. Tanpa membuang waktu, Alex memutar tubuh Sila dan merapatkan tubuhnya mengikis jarak diantara mereka. Alex mengeratkan pelukannya pada Sila. "Mari pertahankan pernikahan ini. Apa kamu mau?" tanya Alex dengan mengutarakan keinginannya. "Apa bapak sudah benar-benar memikirkannya?? jujur saja, saya tidak memiliki pikiran kedepan untuk pernikahan ini. Tapi, kalau bapak ingin mempertankan pernikahan ini, saya akan ikut bapak." terang Sila. "Bagaimana dengan kekasihmu?" "Semua akan berakhir pada waktunya." jawab Sila. "Kamu tahu, saat ini saya merasa menjadi selingkuhan kamu." kekeh Alex. "Apa bapak tidak keberatan dengan itu?" "Saya tidak apa-apa kalau punya dua laki-laki. Satu suami dan satu pacar." timpal Sila dengan menatap mata Alex. "Sayangnya saya bukan tipe laki-laki yang suka berbagi." tegas Alex membalas tatapan Sila. Seolah menegaskan milikku hanya untukku tidak untuk dibagi atau dimiliki yang lain. Dari perkataannya, Sila dapat menyimpulkan kalau Alex tipe laki-laki yang possesive. Mendadak Sila menyesali keputusannya. Bagaimana dia dengan mudahnya mengiyakan ajakan untuk mempertahankan pernikahan tanpa mencari tahu lebih jauh sifat dan sikap yang dimiliki oleh pasangannya terlebih dahulu. Sila masih menatap kedua mata Alex dengan bersusah payah menelan ludahnya. "Sepertinya sekarang kamu mulai menyadari salah satu sifat saya." ucap Alex saat menyadari ekspresi mata dan bahasa tubuhnya yang mendadak bingung. Sila hanya pernah menjalin hubungan satu kali yaitu bersama Roland. Itupun dengan hubungan yang santai tanpa pengekangan. Sila belum pernah mengalami keposessivan pasangan selama ini, Sila terbiasa melakukan sesuka hatinya, sesuai keinginannya dan tanpa ada paksaan. Lalu bagaimana kalau Sila dihadapkan dengan Alex yang memiliki sifat posessive seperti ini? Disisi lain Sila masih ingin mengejar karir modelnya. Akankah Alex akan mengizinkannya untuk tetap berkerja dibidang pilihannya??. "Kamu tidak suka dengan laki-laki possesive?" tanya Alex. Mengingat sifat possesive fikiran Sila langsung menuju ke Kenda, kakak tiri Tara yang benar-benar membatasi pergerakan Tara dan itu terlihat memuakkan bagi Sila. Apa sekarang Sila juga akan bernasib sama?? tapi, kan tidak semua sifat posessive over seperti Kenda. "Gue harus berfikir positif, tidak semua sifat posessive itu menyebalkan." batin Sila. "Tidak, bukan begitu. Hanya sedikit kaget karena pak Alex terlihat begitu bersahabat ternyata memiliki sifat posessive." alasan Sila sekenanya. . . Sila benar-benar bersyukur disituasi canggungnya, tiba-tiba hpnya berbunyi. Tapi, siapa yang menelfon malam-malam begini??. "Maaf pak, saya mau angkat telfonnya dulu." pamit Sila pada Alex tanpa turun dari ranjang. "Halo sayang??!" Sila beberapa kali melihat nomor yang tertera dilayar hpnya. Belum tersimpan tapi, sudah memanggil sayang. "Siapa?" jawab Sila. "Roland sayang!?" "Nomor kamu baru?? kok baru ngabari aku?" tanya Sila. "Nomorku masih sama sayang, ini punya temen. Maaf baru ngabari." jelas Roland. "Iya sudah kalau begitu. Kamu lagi ngapain?? kok belum tidur jam segini?" tanya Sila. "Ini lagi dirumah temen. Biasa nongkrong jadi pada ngajakin begadang. Kamu sendiri lagi ngapain?? tumben jam segini belum tidur?!" tanya Roland. Belum sempat Sila menjawab, mendadak lidahnya menjadi kelu. Ada tangan yang terulur dibahunya, menurunkan kimono yang tadi sudah dirapikan oleh Sila. Disusul kecupan-kecupan di sekitar leher hingga bahu. Tanpa menoleh pun Sila tahu siapa yang melakukannya. "Dosen sia**n." umpat Sila dalam hati. "Salah siapa telfonan disamping suami." batin Alex yang diam-diam tersenyum. "Halo... halo sayang... sudah tidur kah?" tanya Roland yang masih menunggu jawaban dari Sila. "Be.. belum sayang. Lagi nonton film, terlalu fokus. Sorry...!?" jawab Sila dengan sekuat tenaga menahan desahannya. Perbincangan Sila dengan Roland lewat telfon masih terus belanjut, seperti sepasang kekasih yang sedang menjalani LDR-an hingga Sila lupa kalau ada Alex yang mendengarkan percakapan mereka berdua. . . . "Sia**n. Gue berasa jadi orang ketiga." umpat Alex dalam hati. Alex terus melanjutkan aksinya. Ciumannya semakin menjadi, Alex juga dengan sadarnya memberikan kissmark dileher Sila bahkan tangannya tidak sungkan lagi untuk masuk kedalam selimut. Alex menurunkan tali baju tidur Sila. Ada bagian yang diinginkan oleh Alex. Malam pertamanya ini akan Alex jadikan memuaskan meskipun belum hadir rasa cinta. Rasa bisa tumbuh seiring berjalannya waktu dan keintiman pasangan, yang terpenting sekarang Alex akan menandai Sila. Tidak peduli sekarang Alex berada diantara mereka, karena sekarang Sila sudah menjadi istrinya, Sila hanya miliknya. Akan Alex lakukan berbagai cara agar Sila segera memutuskan hubungannya dengan Roland. Meski Sila sudah mengatakan akan berjuang bersama mempertahankan pernikahan ini, tapi Sila sekarang masih menjadi kekasih pria lain dan Alex tidak suka dengan kenyataan itu. Alex tidak ingin pada akhirnya Sila berubah fikiran dan memutuskan untuk bercerai. Alex memberikan beberapa tanda didada Sila. Sesekali Alex juga meniup ujung d**a Sila. Sekuat tenaga Sila menutup mulutnya sendiri dengan tangan agar desahan yang ditahannya tidak lolos dan terdengar oleh Roland diseberang telfon. Sila menggelengkan kepalanya dan menatap Alex dengan tatapan memohon, seolah ingin mengatakan jangan dilanjutkan. Tapi, Alex berlagak t***l tidak mengerti maksud dari Sila. "Dasar dosen m***m". umpat Sila dalam hati saat menyadari kalau Alex sengaja melakukan kegiatannya. Alex mulai menghisap puncak d**a Sila, sesekali mengulumnya dan menghisapnya. "Matikan telfonnya sekarang Sila." bisik Alex ditelinga Sila. Tapi, Sila tidak ingin menuruti perintah dari Alex. Sila masih ingin mengobrol dengan Roland setelah beberapa hari tidak ada kabar darinya. Meskipun Sila tahu, pasti Roland sedang sibuk bersama selingkuhannya. Sadar Sila tidak menurutinya, Alex kembali memainkan jarinya membawa kebagian bawah tubuh Sila. Tubuh Sila menegang dan tanpa disadari desahan pelan keluar dari mulut sexy Sila. Alex diam-diam tersenyum. "Gue akan buat lo mendesah dengan kencang Sila. Sampai lo memilih buat mematikan telfon dari pacar lo." batin Alex. . . . . TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD