.
.
.
.
"Kamu sendiri yang bilang, kalau saya berhak melakukan apapun padamu." lanjut Alex dengan menjilat telinga Sila.
Sila semakin erat menggenggam hpnya. Sekuat tenaga menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara. Melihat Sila menggigit bibirnya, Alex langsung menyatukan bibirnya. Menciumnya dengan sedikit kasar.
"Jangan gigit bibirmu Sila."
"Hhhmmmmpp... hhmppp..."
Mereka menghirup udara sebanyak mungkin setelah Alex melepaskan ciumannya.
"Sayang, besok masuk jam berapa?" tanya Roland.
"Besok aku izin gak masuk sayang, ada acara dirumah." jawab Sila
"Padahal lagi kangen banget." ucap Roland kecewa.
"Bagaimana kalau makan malam?" tawar Sila.
"Boleh, tapi lihat dulu besok ya, ada tugas atau tidak." jawab Roland.
Dan Sila lupa lagi kalau masih ada Alex yang setia memperhatikan percakapan mereka.
"Sia**n" umpat Alex.
Alex menjauh dari Sila, akhirnya Sila bisa bernafas lega. Mendapat ciuman tiba-tiba sudah mampu membuat nafas Sila ngos-ngosan.
"Sudah lama gak ketemu, aku ganti video call ya?" tanya Roland.
"Boleh!" jawab Sila dengan cepat memperbaiki posisi dan kimononya.
"Sudah malam tapi, sayangku masih cantik saja sih??!! jadi pengen meluk!" puji Roland setelah panggilannya berubah menjadi video call.
Meskipun Sila tahu itu hanya basa-basi dan gombalan dari Roland, tapi tetap saja Sila tersipu. Wanita mana yang tidak suka dipuji. Alex semakin terlihat marah saat menyadari respon dari Sila.
"Makanya kalau mau peluk, sekali-kali main kerumah!" jawab Sila.
"Iya sayang, nanti ya...?!"
"Selalu begitu." merajuk Sila.
Terlalu asik berbicara dengan Roland, Sila tidak sadar dengan apa yang dilakukan oleh Alex.
Tubuh Sila mendadak tegang saat kedua matanya melihat Alex sudah berada bagian bawah tubuhnya, dengan celana dalam yang sudah berada dibawah ranjang.
"Kapan dia melepasnya?" tanya Sila dalam hati.
Sila menjauhkan hpnya.
"Apa yang bapak lakukan??" tanya Sila pelan antara malu, takut dan tegang.
Alex tidak menjawab dan dengan kurang ajarnya Alex meniup bagian sensitif Sila yang sudah berada didepannya.
"Aaahhhhhh...." desahan keluar dari mulut Sila. Tubuhnya semakin tegang. Sensasi dingin, geli dan b*******h berkumpul menjadi satu.
"Tutup telfonnya sekarang Sila atau kamu mau kekasihmu itu melihat kegiatan malam pertama kita." ancam Alex, berucap tepat ditelinga Sila.
"Tidak, bapak tidak akan melakukan apapun pada saya. Saya yakin itu." jawab Sila yakin.
"Kenapa tidak?"
"Karena bapak tidak menyukai saya." jelas Sila. Alex hanya tersenyum mendengar penjelasan dari Sila.
Alex menjauh dari hadapan Sila dan melanjutkan kegiatannya yang tadi tertunda. Sila terlalu yakin dengan jawabannya. Dan Sila terus melanjutkan video call nya dengan Roland. Semua terlihat baik-baik saja seolah hubungan mereka harmonis tidak ada penghianatan. Sungguh Sila benar-banar totalitas saat berpura-pura. Begitu juga Roland, wajahnya benar-benar terlihat sempurna penuh kesetiaan.
.
.
Disaat Sila fokus pada Roland, Alex dengan pasti mengarahkan wajahnya pada bagian bawah Sila. Tanpa peringatan Alex membuka kedua paha Sila dan mengulum rakus va***a Sila.
"Euuughhhhhh." Sila membusungkan dadanya kaget saat mendapat serangan dari Alex. Tanpa sadar tangannya menjauhkan hp yang sedari tadi dia pegang berharap Roland tidak mendengar lenguhan yang keluar dari mulut Sila karena ulah Alex. Sila tidak ingin Roland berfikir kalau Sila berselingkuh dan menjadi pihak yang bersalah apabila hubungan mereka berakhir.
Sila sudah memiliki rencana untu memutuskan Roland dan membongkar penghianatan Roland. Jadi, demi memperlancar rencana dan menjadi pihak yang tersakiti sebisa mungkin Sila berlagak polos tidak tahu apa-apa dan menerima semuanya.
Sila menatap kebagian bawah tubuhnya. Matanya bertatapan langsung dengan mata Alex. Mata yang biasanya terlihat bersahabat, malam ini terlihat ada kemarahan dan b*******h. Seolah mengatakan "gue bisa melakukan apapun yang gue mau".
Semakin rakus Alex melumat bagian sensitif Sila, semakin Sila dibuat kelabakan karena hp nya yang masih terhubung dengan Roland. Sebisa mungkin Sila terlihat biasa didepan layar hingga pelepasannya mulai datang Sila tidak dapat lagi menahannya. Jarinya mematikan sambungan video call dan hp yang dipegang Sila jatuh kelantai.
"Aahhhh...eeuugggghhhhh.... pak stop. Sa... ya.... ing...in ke kamar man...di." mohon Sila dengan nafas tersenggal-senggal dan tangan yang meremas kuat sprei.
Alex tidak bergeming, dia tetap melanjutkan kegiatannya dengan tangan yang masing-masing memegang paha Sila agar tetap terbuka lebar. Tidak lupa memberi tanda dikaki Sila. Alex tidak peduli kalau besok akan terlihat karena tidak ada yang salah dalam kegiatan ini. Alex bercinta dengan istrinya, meskipun saat ini Alex menjadi pihak ketiga.
"Aaaahhhhhhh...." lenguhan panjang keluar dari mulut Sila, dia mendapatkan pelepasannya. Nafasnya masih terengah-engah dengan mata sayu. Penampilan yang berantakan tapi, malah terlihat sexy dimata Alex. Alex menekuk kedua lututnya matanya memindai tubuh Sila yang terlihat lemas. Kimono yang tersampir disatu tangannya, inner yang turun hingga memperlihatkan kedua pay****a yang penuh dengan kissmark dan tidak lupa posisi kaki yang terbuka lebar memperlihatkan bunga yang baru saja dimanjakan oleh mulut Alex. Sungguh Alex tidak menyangka bisa melihat pemandangan seperti ini dipernikahannya lewat sebuah perjodohan.
Sila masih mengatur nafasnya, matanya dengan sayu melihat Alex yang sedang membersihkan mulutnya dan tangannya mulai menanggalkan celananya sendiri.
"Apa yang akan bapak lakukan?" tanya Sila, alarm kewaspadaannya mulai menyala.
"Tentu saja menikmati malam pertama. Memangnya apa lagi?" jawab Alex santai.
Alex memposisikan diri untuk memasuki Sila, sejenak dia melihat kebawah tempat hp Sila terjatuh. Alex hanya tersenyum miring.
.
.
"Aaaaaaaaa... sa...kit.... pak sa...kit!" ucap Sila saat Alex tiba-tiba memasukinya.
"Tahan sebentar oke!"
Sila dengan erat memeluk leher Alex dan Alex langsung menghentakkan pinggulnya. Desahan kenikmatan keluar dari mulut Alex. Meskipun Sila merasakan sakit diawal, tapi untuk setelahnya semuanya menjadi panas dan b*******h.
.
.
.
Setelah pertempuran panas yang cukup menyita waktu, akhirnya Sila bisa tertidur dengan damai. Kelelahan dan mengantuk jelas kombinasi yang baik untuk memejamkan mata.
Alex mengecup kening Sila sebelum membenarkan letak selimut dan bantal Sila.
"Lo milik gue, istri kecil gue." monolog Alex dengan memotret Sila. Dia akan menggunakan foto ini sebagai wallpaper hp. Sebagai kenangan dan pengingat bagaimana panas dan bergairahnya malam pertama mereka sebagai pengantin.
.
.
Alex keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri hanya memakai boxer. Setelahnya Alex mengambil hpnya Lola yang terjatuh. Panggilan videonya sudah terputus tapi, ada sebuah pesan yang belum terbaca. Alex mengarahkan sidik jari Sila ke hp nya dan lockscreennya terbuka.
"Selamat tidur sayangku." pesan singkat dari Roland. Roland pasti berfikir kalau VC nya mati karena Sila tertidur.
Setelah membaca chat dari Roland, Alex mulai menjelajahi hp Sila. Mulai menambah sidik jarinya dilockscreen, memasang GPS dan tidak lupa menyimpan nomornya sendiri dengan nama yang mencolok, "suami Sila". Mungkin itu terkesan narsis, dan kelakuan Alex sekarang terlihat seperti seseorang yang lancang karena membuka hp tanpa izin dan tanpa bertanya pada pemiliknya. Tapi, siapa yang peduli. Sila sudah menjadi istrinya.
Padahal jelas-jelas kesepakatan awal Alex sendiri yang menuliskan untuk tidak mencampuri privacy masing-masing. Tapi, kenyataannya Alex sendiri yang seenaknya mengobrak-ngabrik privacy Sila.
.
.
.
.
Alex merebahkan badannya disamping ranjang Sila. Memposisikan diri untuk bersiap tidur menghadap Sila.
"Gue gak nyangka kalau lo masih virgin."
"Dengan riwayat lo yang keluar masuk club, perokok dan modeling, lo cukup pandai membatasi diri." batin Alex.
Sepertinya Alex harus mengucapkan terima kasih pada para tetua atas terjadinya pernikahan ini. Setidaknya sekarang Alex tidak sendirian saat tidur.
.
.
.
.
TBC