.
.
.
.
Harinya sudah berganti, matahari sudah mulai menunjukkan sinarnya. Tapi, sepasang suami istri yang baru saja melakukan malam pertama masih setia dengan ranjang dan selimut yang membungkus tubuh mereka.
"Sia**n.... siapa yang telfon pagi-pagi begini. Ganggu saja." umpat Alex saat telfonnya berdering, sepertinya dia belum sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul 9. Sudah lumayan cerah untuk disebut pagi.
"Maaf pak mengganggu." ucap sekertaris Alex dikantor, Ben.
"Ada apa? Saya kemarin sudah izin cuti kan?" jawab Alex dengan beranjak dari ranjangnya. Sesekali melihat Sila, takut kalau suaranya akan membangunkan tidur Sila.
"Ada meeting dengan klien pak. Beliau meminta untuk negosiasi langsung dengan anda." Jelas Ben.
"Huft...!?" Alex menghela nafasnya kasar.
"Jam berapa?" tanya Alex.
"Jam sebelas pak."
"Baiklah, setelah ini saya akan kekantor. Kamu siapkan apa yang perlu dibawa." ucap Alex lalu memutuskan sambungan telponnya.
Alex mendekati ranjang sebelah Sila. Mahasiswi yang sekarang merangkap menjadi istrinya. Benar-benar takdir yang lumayan lucu. Alex dengan pesona laki-laki tampan dan mapan. Yang selalu dikelilingi wanita berbagai macam pesona, sekarang berakhir dengan mahasiswinya sendiri yang umurnya jauh dibawah Alex.
"Gue bukan termasuk pedofilkan??"
"Apa sekarang gue terlihat seperti sugar daddy??" batin Alex
Alex senyum sendiri dengan pikiran konyolnya. Meninggalkan Sila yang masih tertidur karena kelelahan. Alex harus segera bersiap masuk kekantor, meskipun pada awalnya Alex sudah meminta izin untuk cuti.
.
.
Setelah Alex sudah siap dengan pakaian kerjanya, Aex keluar dari kamar menuju dapur. Sedikit berperang dengan peralatan dan bahan dapur seadanya. Tidak mungkin dia meninggalkan Sila dengan keadaan yang seperti itu tanpa memberi makan untuk mengisi tenaganya.
Alex menghampiri sisi ranjang Sila. Tangannya yang lebar mengusap pipi Sila pelan. Sila perlahan membuka matanya.
"Ehhmmmmm.... haus." ucap Sila serak.
Alex memberikan segelas air putih yang dibawanya dan membantu Sila minum tanpa beranjak dari ranjang.
Sejenak Sila memperhatikan pakaian yang dikenakan Alex.
"Pak Alex berangkat kerja??" tanya Sila pelan. Suaranya seperti bergumam, bahkan Sila merasa badannya remuk dan sulit untuk bergerak. Karena menikah dengan perjodohan dan jarang berinteraksi, Sila tidak mengetahui jadwal dari Alex, dosennya yang sekarang sudah sah menjadi suaminya.
"Iya, ada meeting penting. Saya sudah siapkan sarapan. Jangan lupa dimakan. Kalo masih lemas istirahat saja." pesan Alex.
"Hmmm... terima kasih." ucap Sila lalu tertidur kembali.
"Maaf sudah membuatmu kelelahan. Saya juga tidak tahu kalau kemarin malam, saya bisa berbuat seperti itu." kata Alex yang melihat Sila tertidur kembali. Dengan merapikan selimutnya sejenak dan mencium kening Sila, Alex berlalu pergi meninggalkan Sila sendiri diapartemen.
.
.
.
.
"Siapa klien kita yang ingin bertemu denganku?" tanya Alex pada sekertarisnya yang sekarang sudah berhadapan dikantor Alex.
"Tuan Aji Barata." jawan Ben.
Alex langsung menghentikan langkahnya dan berbalik untuk melihat Ben dengan tatapan bingung.
"Bukankah semuanya sudah selesai?" tanya Alex memastikan.
"Mendadak tuan Aji memberikan syarat tambahan." jawab Ben.
"Apa syaratnya?" timpal Alex.
"Hahhh..." Ben menghembuskan nafasnya kasar.
"Gue bilang kayak gini sebagai sahabat lo bukan sekertaris lo." pesan Ben sebelum menjawab intinya. Alex hanya menganggukkan kepalanya.
"Dia mau lo nikah sama anaknya."
"Siapa anaknya?" tanya Alex.
"Ratu Dinda Barata. Lebih baik lo pikirin ini baik-baik meskipun kerja sama ini menguntungkan, sekarang lo sudah punya istri." jawab Ben mengingatkan Alex.
"Baiklah, ayo temui dia sekarang. Thanks sarannya." jawab Alex lalu melanjutkan langkahnya diikuti Ben.
.
.
"Selamat siang Tuan Barata." sapa Alex dengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Selamat siang Tuan Alex." jawab tuan Barata dengan menyambut uluran tangan Alex.
"Silahkan duduk Tuan Barata."
"Apa ada masalah dengan proposal kerja sama kita? Asisten saya berkata kalau anda ingin bertemu dengan saya secara langsung sebelum tanda tangan kontrak." tanya Alex bersikap tidak tahu maksud dari tuan Barata.
"Seperti biasa anda terlihat sangat-sangat menghargai waktu, terbukti saat ini andai langsung memulai tanpa ingin berbasa basi dulu menanyakan kabar." timpal pak Barata dengan terkekeh.
"Baiklah saya akan langsung pada intinya. Saya ingin mengajukan persyaratan tambahan." lanjut pak Barata.
"Katakan." jawab Alex singkat.
"Saya ingin anda menikahi putri saya. Ratu Dinda Barata." jelas pak Barata.
"Anda pasti kenal dengan putri saya itu. Dia seorang model terkenal dan yang pasti pernikahan kalian nanti akan menguntungkan banyak pihak." sambung pak Barata.
"Kalau memang begitu, katakan keuntungannya bagi saya bila pernikahan itu terjadi." tanya Alex.
"Anda bisa menggunakan putri saya sebagai BA diproduk anda yang tentu saja itu bisa menghemat pengeluaran perusahaan. Bukankah anda juga berbisnis dibidang perhiasaan. Selain itu putri saya juga sudah dididik untuk menjadi istri yang baik disamping kerjaannya sebagai model, dan soal kecantikan tentu saja itu bonus. Dan untuk kerja sama kita, saya akan memberikan keuntungan 65% untuk anda." jelas pak Barata.
Alex hanya menganggukkan kepalanya.
"Sebentar." timpal Alex singkat.
Alex memanggil asistennya yang sudah diberi tugas dadakan. Jelas Alex mengharuskan hasil yang cepat dan akurat.
"Bagaimana?" bisik Alex pada asistennya.
"Sudah, semuanya ada didalam map dan jaminan akurat dan benar." jelas Ben.
"Terima kasih."
.
.
.
.
Alex membuka map yang diberikan oleh Ben. Membaca dengan cepat hal-hal yang tertulis disana. Dan senyum tipis terbit dibibirnya.
"Sepertinya anda belum melihat kegiatan putri anda akhir-akhir ini." ucap Alex tenang yang membuat alis pak Barata mengerut tidak mengerti.
"Sebenarnya saya tidak suka kalau masalah pribadi dihubungkan dengan bisnis meskipun itu memberikan keuntungan yang lumayan."
"Jadi, mari kita batalkan kerja sama ini." jawab Alex final.
"Kenapa tidak anda fikirkan terlebih dahulu pak Alex? saya berani jamin keuntungan lebih banyak dipihak anda." timpal pak Barata.
"Saya tidak perlu memikirkannya lagi pak Barata. Saya sudah sangat yakin dengan keputusan saya. Kalau begitu saya permisi." pamit Alex.
Baru beberapa langkah, Alex menghentikan langkahnyà dan berbalik ke arah pak Barata.
"Lebih baik anda membatasi pergaulan putri anda tuan Barata." pesan Alex lalu pergi meninggalkan pak Barata yang sedang menahan amarahnya. Niat untuk memiliki menantu potensial dan kaya malah berakhir dengan penolakan. Tidak hanya itu pak Barata juga kehilangan kerja sama yang menguntungkan bagi perusahaannya.
"Kirim orang untuk mengawasi putriku." perintah pak Barata pada asistennya. Jujur saja pak Barata tidak terima dengan perkataan Alex, karena pak Barata lah yang mengetahui segala hal tentang putrinya. Dan Alex dengan lancangnya mengatakan kalau pak Barata tidak mengetahui kegiatan putrinya.
.
.
"Aku akan pulang Ben. Pastikan setelah ini tidak ada yang mengganggu cutiku." pesan Alex pada asistennya.
"Baik pak." jawab Ben patuh.
"Bagaimana malam pertamanya bos?" lanjut Ben dengan nada penuh godaan.
"Apa yang lo harapkan??" tanya Alex balik dengan mode santai. Antar sahabat.
"Jelas dong malam pertama yang panas dan menggairahkan seperti dinovel-novel." jawab Ben.
"Hah, sialan. Bacaan lo sudah mempengaruhi isi otak lo." ejek Alex.
"Panas dan menggairahkan?!" gumam Alex. Tiba-tiba ingatan Alex kembali pada kegiatannya yang mengganggu Sila video call an dengan pacarnya.
"Lo tahu, Ben? gue berasa jadi selingkuhannya Sila." ucap Alex.
"Gue akui posisi lo cukup b******k. Lo hadir ditengah-tengah orang yang sedang menjalin hubungan. Yah, setidaknya hubungan lo lebih intim. Lo suaminya." timpal Ben.
.
.
Setelah berbicara singkat dengan Ben, Alex melajukan mobilnya menuju apartemen. Alex ingin melihat keadaan Sila. Karena pekerjaan cuti Alex sedikit terganggu. Padahal Alex ingin melihat bagaimana wajah bangun tidur Sila.
Alex membuka pintu apartementnya tidak ada yang berubah, sepi, sunyi tidak ada tanda-tanda kalau ruangannya baru didatangi atau dipakai seseorang. Kakinya melangkah menuju kamar yang ada dilantai dua.
Setelahnya mata Alex terpaku pada makan dan minuman diatas meja sebelah tempat tidur. Masa sama ditempat semula dan belum tersentuh, hanya suhunya mungkin yang sekarang sudah menjadi dingin. Itu menandakan Sila belum bangun sedari tadi.
Alex melepas jas dan sepatunya terlabih dahulu lalu mendekati Sila. Dia harus membangunkannya sekarang dia harus makan agar tenaganya segera pulih.
.
.
.
.
TBC