Pertemuan

1620 Words
. . . . Seperti yang dikatakan ayah Sila, saat ini dia bersama ibunya sedang menuju sebuah butik yang akan digunakan untuk memesan baju. Sila terlihat biasa saja, tidak seantusias seperti calon pengantin pada umumnya dan juga tidak menolak, karena Sila pun tidak ada alasan lagi untuk menolak. Satu-satunya alasan dia menolak perjodohan ini karena ada hati yang harus dia jaga. Hati yang sudah menempati hati Sila satu tahun belakangan ini. Tapi, disaat Sila mencoba berjuang agar hati kekasihnya tidak kecewa, namun kenyataannya Sila sendiri yang harus menelan kekecewaan karena sang kekasih menolak permintaan Sila untuk mengenal keluarganya. "Huft..." Sila menghembuskan nafas berat didalam mobil yang disopiri sopir pribadi ibu Sila. Sila tidak tahu akan dibawa kemana nanti hubungan pernikahan ini dan hubungannya dengan kekasihnya, Roland. Untuk saat ini otak Sila buntu dan benar-benar tidak bisa berfikir. "Ayo Sila, katanya nyonya Sarah sudah ada didalam." ajak ibunya Sila setelah sampai dibutik. Sila hanya menganggukkan kepalanya dan keluar dari mobil untuk mengikuti ibunya. "Selamat pagi mbak, saya sudah ada janji temu dengan Nyonya Sarah, apa beliau sudah datang?" tanya ibu Sila pada salah satu karyawati disana. "Sudah bu, silahkan lewat sini." jawabnya. Mereka berdua mengikuti karyawati itu yang mengarah kesebuah ruangan. Saat memasuki ruangan itu, sepasang mata Sila melihat seorang wanita paruh baya yang umurnya kurang lebih seperti ibunya dan seorang laki-laki yang sudah cukup matang dengan kemeja berwarna putih dan bawahan kain berwarna hitam tidak lupa sepatu pantofel warna hitam. Ini adalah pertemuan pertama Sila dengan dosennya diluar kampus. Dosen yang terkenal good looking dan sikap yang cuek dan dingin meskipun didalam kelas sedikit bersahabat. "Selamat pagi nyonya Sarah..?!" sapa ibu Sila. "Selamat pagi ibu Ina. Aduh jangan dipanggil nyonya, cukup ibu saja, kan kita sebentar lagi akan jadi besan." jawab ibu Sarah ramah. "Baiklah kalau bu Sarah minta seperti itu." jawab bu Ina tidak kalah ramah. "Kalau begitu kenalkan ini Sila." lanjutnya. "Cantik sekali, ini kenalkan Alex." mereka saling berkenalan dan menjabat tangan. "Lakinya juga ganteng." puji ibu Ina. Tidak pernah terlibat dengan dosennya selain masalah tugas, ternyata cukup untuk membuat Sila merasa canggung dan kaku. Sila harus segera menormalkan kekakuannya agar tidak membuat kesalahan dan akhirnya membuat dia malu. Lagipula Sila harus segera menyelesaikan fitting baju hari ini, karena pekerjaannya sudah menunggu setelah makan siang. "Sekarang karena kalian berdua sudah datang, silahkan berkeliling mencari gaun dan setelan yang cocok dengan kalian. Mama dan bu Ina juga akan berkeliling untuk mencari kebaya." ucap ibu Sarah lalu mengajak ibu Ina pergi meninggalkan mereka berdua. Krikkkk.... kriiikkkk.... kriiikkkk.... Suasana mendadak hening dan tidak ada pergerakan. Sila mulai yakin kalau dosennya ini benar-benar dingin dan cuek bila diluar kampus bukan hanya gosip semata. Nyatanya sedari tadi seperti tidak menganggap Sila ada, padahal sangat terlihat Sila yang duduk dengan tegang diseberangnya. Sepertinya Sila harus segera belajar menyesuaikan diri dengan sikap cuek dosennya bila pernikahannya benar-benar terjadi. "Maaf pak, apa bisa kita bisa memilih bajunya sekarang??? karena saya harus kerja setelah makan siang." tanya Sila sopan. Tanpa menjawab Alex berdiri dan berjalan mendahului Sila. Sila hanya menghela nafasnya, dan segera mengikuti dosennya. Pelan-pelan Sila dan Alex berkeliling memilih gaun dan setelan yang sekiranya sesuai dengan keinginan hati mereka. Meskipun Sila merasa gaun biasapun tidak akan berpengaruh pada pak Alex tapi, Sila tetap ingin terlihat sempurna. Tidak mungkin dia melangsungkan acara tanpa ada dokumentasi buat kenang-kenangan. "Apa bapak punya pilihan untuk saya??" tanya Sila yang mendadak berbalik menghadap Alex. Alex yang tiba-tiba diberi pertanyaan seperti itu jelas saja mendadak cengo. Bingung harus menjawab apa. "Pak... pak... pak..." ucap Sila dengan melambai-lambaikan tangannya didepan muka pak Alex. "Heeee.... iya... ada apa??" tanya Alex. "Bapak punya pilihan gaun yang perlu saya coba tidak??" ulang Sila. "Bagaimana mau ngasih saran, lha wong gue gak pernah ikut campur masalah pakaian wanita." batin Alex. Terbiasa belanja dengan mantan hanya untuk membayar, sekarang Alex merasa bod*h hanya karena dihadapkan pertanyaan yang menurutnya tidak berfaedah. Nyatanya Alex tidak punya pengalaman dalam memilih pakaian wanita. "Tidak ada. Kamu bisa pilih gaun sesukamu. Saya mau kesebelah sana mencari setelan." jawab Alex dan langsung meninggalkan Sila. Setelah berkeliling Sila membawa dua gaun untuk dicoba. Tapi, saat akan masuk kedalam ruang ganti, salah satu karyawati disana memberikan sebuah gaun berwarna putih kombinasi gold dengan model sabrina. "Maaf mbak, ini ada titipan dari mas nya yang tadi bareng sama mbak." ucap karyawati menyampaikan pesan Alex. Saat Alex akan mencari setelan yang akan dipakainya, tanpa sengaja melihat sebuah gaun yang dipajang dimanekin yang menurut bagus, sehingga tanpa pikir panjang Alex meminta tolong karyawati disana untuk memberikannya pada Sila. "Maksudnya bagaimana mbak?" tanya Sila bingung, bukankah tadi dia disuruh untuk memilih sendiri. "Katanya, mbak disuruh mencoba gaun ini juga." jelas karyawati itu. "Oh.... iya terima kasih mbak." jawab Sila dengan mengambil gaunnya. Setelah melihat, mencoba dan mempertimbangkan, akhirnya Sila sudah memutuskan gaun mana yang akan dipakai. Saat gaun itu dicoba tidak ada yang kurang dari gaunnya. Ukurannya pas, kainnya nyaman, modelnya juga Sila suka, yang terbuka hanya bagian leher tapi, tetap membuat Sila terlihat cantik dan sexy. Diam-diam Sila tidak sabar menunggu minggu depan untuk memakainya dengan tatanan rambut dan make up yang full. Sila bisa membayangkan betapa cantiknya dia. Bekerja didepan kamera sebagai model ternyata mampu membuat tingkat kepedean Sila semakin menjadi-jadi. . . "Terima kasih untuk hari ini pak, saya ingin pamit dahulu." pamit Sila pada Alex. Setelah dirasa selesai dalam mempersiapkan gaun Sila izin pamit pada ibu dan calon mertuanya, tidak lupa pamit juga pada Alex. Meskipun yang menikah Sila tapi, tidak banyak yang diurus oleh Sila. Sesuai kesepakatan kedua keluarga, semua diurus ibu Ina dan mama Sarah, Sila hanya bagian mencoba gaun. Karena hari ini Sila berangkat bersama ibunya, jadi siang ini Sila terpaksa naik ojek online. Dia mulai menyesali kenapa tidak naik kendaraannya sendiri, sedangkan bila memaksa menumpang dengan ibunya sudah dipastikan Sila akan terlambat. Sila hafal betul kalau ibunya tidak bisa cepat kalau mengurus sesuatu dengan alasan semuanya harus difikirkan baik-baik, jangan terburu-buru agar hasilnya memuaskan sesuai keinginan. Alasan yang pasaran tapi, benar memang harus begitu. . . Sila sudah mendaratkan bokongnya dikursi penumpang dan sopir sudah siap untuk menginjak gasnya, tapi belum sempat taksinya dijalankan ada seseorang yang mengetuk kaca pintu mobil disebelah Sila. "Kamu mau kemana?" tanya Alex. Karena mendapat desakan dari sang mama untuk mengantarkan Sila, dengan setengah berlari Alex keluar dari butik untuk menghentikan mobil pesanan Sila, dan untungnya masih sempat. Bisa dipastikan kalau gagal akan mendapat wejangan yang nyelekit dari sang mama, dasar laki-laki kaku, tidak bisa PDKT dan laki-laki yang tidak bisa memanfaatkan keadaan. Memang mama yang paling tahu sifat anaknya. "Saya...??" tanya Sila memastikan. "Iya, kamu. Kamu mau kemana setelah ini?" ucap Alex mengulang pertanyaannya. "Saya mau makan siang pak, terus berangkat kerja." jawab Sila. "Saya antar." ucap Alex dan langsung pergi setelah memberi uang pada sopir. Bukan karena disuruh ganti rugi karena batal menggunakan jasanya, tapi lebih keminta maaf karena mengambil penumpangnya. . . . . "Kamu mau makan siang dimana?" tanya Alex memecah keheningan didalam mobil. "Langsung ketempat kerja saya saja pak, disana banyak restoran." jawab Sila. "Dimana alamatnya?" tanya Alex. "Jalan pandan wangi ruko Antarratu no.2." jelas Sila. Tanpa diberitahu lebih panjang pasti Alex tahu alamat yang disebutkan Sila. Salah satu ruko yang lumayan besar dan mahal dikotanya. Dengan bangunan modern, yang cukup luas dan memiliki 3 lantai. Total ada 10 ruko disana dan yang menempati toko-toko yang menjual barang-barang mahal, berkelas dan terbatas. "Saya turun disini saja pak." minta Sila pada Alex " Kamu mau makan disini?" tanya Alex. "Iya pak. Tempat kerja saya juga dekat, nanti bisa jalan kaki." jelas Sila. "Kalau begitu biar saya temani." Alex langsung turun dari mobil, meninggalkan Sila yang berekspresi, entahlah sulit dijelaskan. "Bapak tidak ada kerjaan??" tanya Sila disela-sela mereka menikmati makan siangnya. "Ada." jawab Alex singkat. "Sudah hanya begitu saja jawabnya. Sia-sia gue mulai duluan dengan mengumpulkan segenap keberanian dan mencoba mencari bahan buat ngobrol. Lagipula kalau ada kerjaan kenapa ikut gue makan segala. Bikin canggung saja." batin Sila. Dan akhirnya mereka menyelesaikan makan siang dengan keheningan. "Terima kasih sudah mengantar saya dan menemani makan siang. Kalau begitu saya pamit dulu." ucap Sila dengan meninggalkan Alex dengan berjalan kaki. . . . "Siapa dia?" tanya Tia manager Sila. "Calon gue, kalau jadi." jawab Sila singkat. "Tunggu, gue gak paham. Perasaan pacar lo bukan dia. Apa lo diam-diam udah putus?" cecar Tia. "Gue belum putus. Dan dia calon pilihan ortu gue. Sudah ayok kerja. Tanyanya nanti lagi." jawab Sila final. Entah bagaimana ceritanya, Alex mau ikut Sila ketempatnya bekerja, tadi niat Sila hanya basa basi, tapi ternyata diikuti oleh Alex. Alhasil semenjak Sila memasuki tempat kerjanya, semua mata tertuju pada mereka berdua. Sama-sama memiliki visual yang menarik ternyata cukup membuat orang-orang menolehkan padangan pada mereka, yang Sila yakini ada bermacam-macam pertanyaan yang membuat mereka penasaran. . . Hampir 2 jam Alex menunggu Sila bekerja. Tidak ada yang istimewa, hanya duduk diam dan sesekali memainkan hpnya agar tidak bosan. Selain itu Alex mendapatkan sesuatu yang tidak dia ketahui sebelumnya. Alex fikir Sila hanya seorang mahasiswi biasa yang memiliki keluarga dengan ekonomi keatas, bisa dilihat dari barang yang menempel ditubuhnya dan tidak lupa kendaraan yang sering dia gunakan saat masuk kuliah. Tapi, ternyata dibalik itu semua, Sila juga mengeluarkan tenaganya untuk bekerja. Alex bisa menyimpulkan kalau Sila bukan gadis manja yang hanya bisa merengek. Dan itu poin plus dimata Alex. . . "Apa Bapak bosan??" tanya Sila. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya. "Lumayan. Apa kamu sudah selesai?" tanya Alex saat melihat Sila sudah berganti pakaian. "Sudah Pak. Kalau Bapak bosan, Bapak bisa pulang terlebih dahulu, saya akan naik ojek nanti." jelas Sila. "Kalau begitu saya akan mengantar kamu pulang. Tapi, sebelum itu kita mampir kekantor saya dulu." tawar Alex. Tanpa menunggu jawaban dari Sila, Alex langsung berdiri dari duduknya dan pergi keluar. . . . . TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD