Kecurigaan

1246 Words
. . . . Saat Sila menuju tempat parkir mobilnya, dari ekor matanya tidak sengaja dia melihat seorang perempuan masuk kedalam mobil Roland. Jelas itu membuat Sila bertanya-tanya tentang siapa perempuan itu. Saat mengetahui mobil Roland meninggalkan kampus, diam-diam Sila mengikuti dari belakang dengan jarak cukup jauh. Jelas Roland hafal dengan mobilnya dan akan membuat Sila kesulitan bila Roland menyadarinya. Setelah beberapa menit mengikutinya, mobil itu berhenti disebuah warung bakso. Tidak ada yang perlu dicurigai, karena interaksi Roland dan wanita itu biasa saja, hanya semenjak mereka turun tangan wanita itu tidak pernah lepas bergelayut manja dilengan Roland, dan itu sedikit membuat Sila risih. Karena ada pekerjaan, Sila tidak bisa mengikuti Roland lebih jauh lagi. Sila tidak ingin pekerjaan dan orang-orang yang terlibat menjadi dirugikan karena kegiatan Sila mengikuti mobil Roland. Dengen terpaksa Sila melanjutkan perjalannya, tapi, sebelum itu Sila memotret mereka berdua. Dia memerlukan foto si wanita untuk mencari tahu, siapa dia dan memiliki hubungan apa dengan Roland. Sila tidak ingin menerka-nerka dahulu karena ini kali pertama Sila melihat Roland jalan berdua dengan wanita lain, meskipun rasa curiga sudah muncul didalam hatinya. . . . . "Besok harinya Sila?? apa pacarmu sudah siap untuk datang kesini??" tanya Ayah Sila saat sarapan bersama. "Semoga saja sudah siap pa..." jawab Sila tidak yakin. "Semoga??" timpal Ilen mengulangi jawaban Sila. Sila hanya menganggukkan kepalanya. "Kalau tidak berani kesini, tinggalkan saja Sila. Itu sudah jadi bukti kalau dia tidak serius dengan kamu." pesan Ilen untuk adik satu-satunya. Diam-diam Sila memikirkan perkataan dari kakaknya. "Apa benar Roland hanya main-main?" batinnya. . . . Semakin hari waktu yang diberikan ayah Sila semakin dekat. Tapi, Sila masih belum bisa merubah fikiran Roland. Disetiap membahas hal itu selalu mendapat akhir yang sama. Bertengkar, adu argumen dan terakhir jalanin dulu. "Kecut amat itu muka." ucap Tara. Sila dan para sahabatnya saat ini sedang menikmati sabtu malam disebuah PUB milik kakak seniornya. "Masih masalah yang sama?" tanya Rena. "Iya. Gue sampai bingung harus menggunakan cara apa lagi agar Roland mau dateng kerumah gue." jawab Sila dengan segala kebingungannya. "Apalagi waktunya tersisa besok. Kalau sampai besok gue tidak bisa bawa Roland, sudah dipastikan minggu depan gue sudah jadi istri orang." lanjutnya. "Coba besok diajak bicara lagi, kalau dia masih tidak mau, iya terpaksa lo terima kado dari orang tua lo." sambung Ana. "Lagipula kalian pacaran hampir satu tahun, masak dia gak pengen kenal sama keluarga lo?" tanya Lola Sila hanya mengangkat bahunya tidak mengerti. "Waktu gue hanya tinggal besok. Kalau besok Roland masih setia dengan keputusannya, gue terpaksa ikut keputusan orang tua gue, tidak ada alasan lagi buat nolak." jelas Sila. Mereka mengakhiri pembahasan tentang Roland dan Sila. Sesekali membahas topik random untuk menghibur Sila agar fikirannya sedikit tenang, meskipun mereka yakin sampai dirumah fikirannya akan kembali lagi. Setidaknya ada jeda untuk bersenang-senang. Dengan lattar musik yang cukup mengusik telinga, sesekali mereka meliuk-liukkan badannya tanpa turun kedance floor, karena mereka sadar dance floor sama saja seperti sarang buaya dan mereka sedang tidak ingin bermain-main dengan para buaya yang sudah melalang buana. . . "Eh, kemarin kayaknya gue lihat Roland deh?! tapi, dia sama perempuan." ucap Lola tiba-tiba. Tanpa menanggapi omongan Lola, Sila langsung mengeluarkan hp nya dan menunjukkan foto yang kemarin sempat Sila ambil diam-diam. "Yang ini bukan perempuannya??" tanya Sila. "Iya, bener dia. Kemarin gue ketemu ditoko perlengkapan bayi. Dia gak lihat gue, soalnya gue ada dilantai 2." jelas Lola. "Coba lihat fotonya." ucap Rena. Sejenak mengamati dan sesekali memperbesar fotonya agar terlihat lebih jelas. "Masak lo gak tahu sih, Sil?" tanya Rena. "Serius, gue gak tahu. Memangnya dia siapa?" tanya Sila. "Dia kan satu kelas sama cowok lo. Masak gak sadar. Gue tahu karena mereka sering kemana-mana bersama. Kata kenalan gue mereka memang sering satu kelompok kalau lagi ada tugas." jelas Rena. "Kalau namanya gue gak tahu." lanjutnya. "Seberapa sering??" tanya Tara. "Lumayan sih, kalau dibanding dengan Sila, kayaknya sering sama tuh cewek deh." jawab Rena. "Kapan lo terakhir ketemu Roland?" tanya Ana. "Beberapa hari yang lalu deh. Sekitar 4hari yang lalu. Terakhir sih masih sama pembahasannya." jawab Sila. "Terus sampai sekarang juga gak ada chat. Gue baru sadar kalau ternyata beberapa bulan ini interaksi gue dan Roland jarang banget." jelas Sila dengan melihat riwayat chat dengan Roland. "Gue jadi mikir yang enggak-enggak." jawab Lola. "Terbiasa sehari-hari berhubungan kayak gini, gue merasa biasa-biasa saja dan gak merasa curiga." timpal Sila. "Lebih baik cari tahu, bukannya berperasangka buruk dengan Roland. Tapi, ya... kayak gitu lah." saran Ana. "Gue setuju dengan Ana. Gue bakal minta bantuan sama kenalan gue yang satu jurusan, syukur-syukur ada yang satu kelas jadi bisa lebih jelas." ucap Rena. . . . . Benar saja, setelah pulang dari PUB fikiran Sila kembali lagi melalang kemana-mana. Mulai menyusun cara agar Roland merubah keputusannya, kalau pun masih sama, entah apa yang harus Sila lakukan. Disisi lain siapkah Sila menjadi seorang istri dari dosennya? berbagai kemungkinan, keresahan dan kebingungan mendadak membayangi fikiran Sila. "Sayang, beberapa hari ini kok kamu gak ada kabar?" tanya Sila saat makan siang bersama Roland. "Biasa tugas lagi numpuk sayang. Terlalu fokus jadi gak sempat pegang hp kecuali untuk browsing materi." jawab Roland. Sila hanya manggut-manggut. "Jadi, kapan kamu bisa dateng kerumahku?" tanya Sila setelah memastikan makanan mereka sudah habis. Sila tidak ingin gara-gara topik pembicaraannya membuat nafsu makan Roland mendadak hilang dan makanannya jadi mubadzir. "Aku kira pembahasan itu sudah berakhir Sila." ucap Roland. "Datanglah sekali, coba kenali keluargaku. Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa dan mereka tidak akan merendahkanmu meskipun kamu masih kulah." rayu Sila. "Aku tidak tahu kalau kamu punya sifat keras kepala Sila." ucap Roland dengan nada yang sedikit tinggi. "Apa salahnya Roland?? kita sudah hampir berhubungan 1 tahun." tanya Sila dengan perhatian penuh tertuju pada Roland. "Tidak ada yang salah. Hanya waktunya belum tepat." jawab Roland. "Beri aku kepastian, kapan waktu yang tepat itu Roland?" desak Sila. "Tidak tahu Sila." jawab Roland mulai jengah. "Mari kita jalani seperti ini dulu, oke?!" lanjutnya. Sila hanya diam tanpa niat menjawab permintaan Roland. Sila mulai berfikir, sepertinya perjodohannya akan benar-benar terjadi. Tidak ada lagi alasan untuk menolak. Dan untuk kelanjutan hubungannya dengan Roland biar seperti ini dulu. Entah nanti berakhir atau yang lain biar semuanya berjalan sesuai arus, Sila tidak ingin menerka atau memutuskan akhirnya untuk saat ini. Fikiran Sila bercabang sekarang dan Sila tidak ingin salah mengambil keputusan yang akan membuatnya menyesal. Entah itu hubungannya dengan Roland atau perjodohonnya dengan Pak Dwi. . . . . Hari yang ditentukan ayah Sila akhirnya datang, dan mereka mengundang pacarnya Sila untuk makan malam bersama, berhubung mereka berdua masih kuliah, ayah Sila tidak akan menuntut untuk langsung lamaran. Mungkin untuk malam ini perkenalan saja cukup, itu sudah jadi bukti kalau pacarnya Sila tidak main-main saat berhubungan dengan anak perempuan mereka satu-satunya. Mereka sudah berkumpul dimeja makan dan sedang menunggu tamu yang katanya kekasih putrinya. "Dimana pacarmu sayang?" tanya ibu Sila. Jam yang dijanjikan sudah lewat, tapi, tidak ada tamu yang datang. "Emm... sepertinya dia tidak datang papa." ucap Sila pelan. "Kenapa?" tanya sang kakak. "Katanya belum siap, kak." ucap Sila putus asa. "Baiklah kalau begitu. Besok kamu fitting baju pengantin dengan Alex. Alamatnya nanti tanya mamamu. Kita harus cepat karena waktunya terlalu mepet. Setelah ini papa akan memberitahu pihak pria." ucap papa Sila final. "Tapi, pa bagaimana dengan karir modelku? aku menyukai profesi ini." tanya Sila. "Untuk kuliah kamu bisa melnjutkannya sampai lulus. Untuk masalah pekerjaan kamu harus diskusikan dengan calonmu. Bijaklah dalam mengambil keputusan dan jangan gegabah bila semua tidak sesuai dengan keinginanmu." ucap papa Sila. . . . . TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD