bc

Miracle From the Second Woman

book_age18+
19
FOLLOW
1K
READ
goodgirl
brave
dare to love and hate
drama
sweet
humorous
suger daddy
city
affair
polygamy
like
intro-logo
Blurb

Ketika selingkuh menjadi satu-satunya cara untuk mengisahkan perjalanan cinta yang rumit, penuh pengorbanan serta derai air mata

..

..

Johan dan Renata memulai hubungan terlarang mereka, hingga suatu saat Johan sadar jika Renata bukan hanya seorang selingkuhan saja baginya, keberadaan gadis itu membuatnya menyadari jika banyak hal yang tidak dia nikmati selama hidup, dia merasa menjadi manusia yang paling tidak bersyukur.

Kehidupan sederhana Renata, cara gadis itu menghadapi pahit getirnya hidup membuat Johan semakin yakin, Renata adalah cinta lain yang dihadirkan Tuhan dalam hidupnya.

Lalu bagai dengan Tita, istri sahnya? Haruskah mereka berpisah, lalu bagaimana dengan anak-anak yang sudah hadir dalam rumah tangga mereka?

Ikuti perjalanan cinta rumit itu di sini

chap-preview
Free preview
Renata
"Telat lagi kan!" ketusnya dengan bibir manyun. "Tadi kerjaan numpuk, kalo ditinggal bakal makin numpuk lah, terpaksa Abang beresin dulu," aku melirik Seico di pergelanganku, lalu duduk di sampingnya. Hm, pantas saja dia marah, kami janjian pukul lima belas dan sekarang hampir pukul enam belas, satu jam sudah dia menungguku. "Kebiasaan," wajahnya ditekuk. "Kebiasaan? Lah perasaan baru kali ini doang,” aku menangkupkan tangan di dada. "Kalau gitu harus bayar!" Renata mencelos kesal. "Bayar apa?" kuangkat alisku berulang kali. "Bayar telatnya lah, bayangin aku nungguin abang di sini satu jam lebih, karatan tau!" jawabnya judes. "Karatan apaan, abis dua gelas jus gitu," aku melirik dua gelas besar jus yang sudah kosong. "Makanya bayar sini, emang dikira abang nunggu itu enak?" "Bayar-bayar, bayarnya pake apa? Ini?" aku nyodorin bibir. "Idih! Ni om-om mesum amat," Renata menonjok bahuku, aku meraih tangannya, dia menepiskannya dan justru makin cemberut. "Apa dong, Sayang?" aku menaikan alis berulang kali, terkadang bingung juga ngadepin Renata kalau dia ngambek kayak begini. "Abang eggak peka." "Enggak peka gimana sih?" "Enggak peka ya enggak peka, Abang kok jadi ngeselin sih!" "Ya enggak ngeselin, kan abang enggak tau kamu maunya apa?" "Mau aku banyak, Bang," "Iya tapi mau apa, Re? Beli aja semua yang kamu mau," tandasku, agar dia tak manyun lagi. "Serius mau beliin aku apa aja?" Aku mengangguk, mengusap pucuk kepalanya. Dia diam, lalu, "Jadi boleh aku minta beliin jam tangan hari ini?" mata bulat itu memandangku, lalu mengerjap, tersenyum senang, sedikit agak genit tapi entah, aku suka melihatnya, dari pada tadi, manyun kagak karuan. "Hm!" "Hm tandanya iya kan?" gadis berambut panjang itu berlari kecil menuju toko jam di seberang jalan. Sikapnya langsung berubah, aku membuntutinya cepat. "Haduh, gak bisa apa dia jalan-pelan aja," gerutuku. "Abang! Yang ini bagus kan?" jeritnya mengangkat jam berwarna pink, entah bagus atau tidak, mataku tak jelas melihatnya. "Bagus enggak?" Aku mengangguk, terpaksa. Beberapa pasang mata menatap ke arah kami bergantian. "Murah, cuma tiga ratus rebuan, beliin ya?" dia berteriak lagi. Astaga! Ni anak urat malunya udah putus mungkin, di tengah keramaian gini, gak bisa apa pas aku udah deket aja nanti. Orang-orang berbisik, melihat perbedaan kami yang kentara, laki tiga puluh tahun jalan bareng gadis SMA belasan tahun, sedikit ganjil, tapi itu keadaannya. Sial, lagi-lagi Renata membuatku malu. "Serah kamu deh," terengah aku berdiri di sampingnya. "Tuh kan, jadi keringetan kan abangnya, makanya jan lari-lari," sigap dia mengusap keringat yang mengalir di dahi dan pelipisku, Aku menepisnya pelan, sedikit tak nyaman saat orang-orang memperhatikan kami. Sikap refleksnya kadang membuatku terpesona, tapi itu jika kami sedang berdua saja, kalau ditempat umum kek begini sih risih juga. "Malu nih ye! Biasa aja kali, Om, eh Bang." ujarnya, sambil mencubit perutku lalu terkekeh geli sendiri, mungkin dia merasa tingkahnya sedikit lebay, dan menyebalkan, tapi jujur saja aku menyukai semuanya. Bagiku, melihat senyum Renata adalah candu, bersamanya adalah waktu yang sangat berharga, terkadang aku ingin meluangkan waktu untuk bisa pergi bersamanya ke suatu tempat, agar kami tak diburu waktu perpisahan dan rasa khawatir akan ada orang yang memergoki kedekatan kami ini. "Abis ini anter Re nyari batik buat acara sekolah ya, Bang!" wajahnya setengah memaksa. Aku mengangguk pelan, dia bersorak gembira. Pipi ranum itu memerah seketika, matanya mengerjap indah. Ya Tuhan! Aku tau aku khilaf, hingga tak mengenali siapa diri ini. Renata yang perlahan membuatku lupa jika ada aku punya banyak pekerjaandi kantor, juga ada seorang wanita dan dua anak di rumah yang tengah menunggu kepulanganku hari ini. Tapi di lubuk hati yang teramat dalam aku menyadari jika aku mulai mencintai dan menyayanginya, Renata, gadis delapan belas tahun yang kini tengah menatapku dengan senyum manisnya, dan hati ini ikut bahagia saat melihat wajah cerianya. Ternyata hal seperti ini, belanja barang-barang murah di toko pinggiran pun baginya sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Setelah membayar jam, aku kembali menemani gadis delapan belas tahun itu keliling mall, mencari batik yang dimaunya. Tubuhku lunglai, dan hampir tumbang, dengan kaki sedikit ngilu, sedangkan dia seperti punya kekuatan ekstra untuk mengelilingi toko di seluruh mall. "Hah, makanya Jo, punya pacar itu jangan remaja, capek sendiri kan lu?"batinku. "Gila ni anak, mana jalannya cepet banget lagi, gak bisa apa dia santai dikit," aku ngomong sendiri, sementara Renata masih sibuk dengan barang-barang incerannya. "Bang, nyari kado buat Tante Vira ya, besok dia ulang tahun." "Iya boleh," aku menjawab dengan napas terengah. "Apa coba?" dia minta saran. "Serah kamu aja, tapi jangan sore-sore ya, aku harus jemput Putra dari rumah neneknya." "Hm!" Renata cemberut. Lalu melangkahkan kakinya kembali menyusuri toko demi toko. Aku membuntutinya. Mungkin ni anak ngemilnya batu baterai, energinya gak abis-abis. "Re, kamu jalan sendiri aja deh, aku nunggu di sini." "Duitnya?" dia membuka telapak tangan. "Nih," kusodorkan kartu ATM-ku. Aku percaya Renata tak akan menghabiskan duit banyak, selera pakaiannya payah, dia tak mau ke butik mahal, cukup jeans dan T-shirt harga ratusan ribu, itu sudah membuatnya senang. "Pin-nya?" "Tanggal jadian kita." "So sweet banget!" dia mencium pipiku sekilas. Astaga, Renata! Sebelum aku sempat berkata sesuatu gadis itu berlalu cepat ke sebuah toko pakaian sambil mengacungkan kartu ATM, lalu meleletkan lidahnya. Giliran pipiku yang memerah saat ini, kugelengkan kepala berkali-kali, semoga tidak ada orang kantor yang melihatku hari ini. .. .. Perkenalan kami diawali dengan hal yang tidak terduga sebelumnya, kala itu Renata tengah bediri di halte bus, dengan baju sedikit basah, dia masih mengenakan seragam SMA, dan mendekap sweater pink yang warnanya sudah agak memudar, dari gayanya yang sederhana aku menyimpulkan kalau dia bukan siswa dari kalangan atas, padahal logo SMA yang yang tertulis di lengan bajunya menunjukkan sebuah sekolah elite yang pasti biayanya sangat besar, mungkin dia anak cerdas hingga bisa masuk ke sana. Pikirku saat itu. "Butuh tumpangan?" tanyaku sopan, dengan membuka kaca mobil setengahnya. Gadis itu menggeleng, sesekali dia menatap ke arah jalur di belakangku, berharap ada bus yang segera bisa ditumpanginya. "Ayolah! Saya bukan orang jahat, insya Allah saya anter sampe rumah kamu," tawarku lagi dengan raut sewajarnya, setidaknya agar dia berpikir kalau aku bukan om-om gatel yang berotak mesum. Setelah tiga kali ajakan baru rona wajahnya berubah ramah, tersenyum setengah terpaksa padaku. Gadis itu melirik jam tangan murahan yang melingkar di lengan mulusnya, lalu mengangguk perlahan. "Saya duduknya di mana?" tanyanya grogi. "Terserah kamu, maunya di mana?" jawabku agak dikeraskan, karena hujan lumayan deras. Akhirnya dia membuka pintu mobil bagian depan, dan duduk di sampingku, sambil mengibaskan rambut panjangnya yang basah terkena air hujan. Gadis itu pun mengusap wajah dengan ujung sweaternya. Parasnya terlihat lebih cantik saat dilihat dari dekat, tahi lalat di ujung bibir menambah pesona tersendiri baginya, gadis itu pun punya dagu belah sempurna, serta barisan gigi yang rapi, bibir merah alami tanpa olesan lisptik, pun dengan pipi ranumnya, terlihat begitu natural, bukan karena air hujan saja, tapi dari gayanya aku tau gadis ini tidak mengenakan riasan layaknya remaja SMA jaman sekarang. "Keringkan pake ini," kusodorkan tissu padanya. "Terima kasih, jawabnya sopan," dia mengelap wajah dengan tissu yang kuberikan. Aku menjalankan kembali mobil dengan pelan, setelah memintanya menyebutkan alamat rumah yang akan dia tuju. "Anak SMA 86 ya?" tanyaku membuka percakapan. Dia mengangguk. "Hebat, kan itu sekolah pavorit, saya aja dulu ditolak masuk situ," ujarku sambil tersenyum. "Kebetulan aja, gak sengaja," tukasnya cepat, baru juga aku bertanya lagi dia langsung berkata dengan "Komplek Griya Ratu Bilqis," Hm, aku mengernyitkan dahi, ternyata tebakanku salah, alamat yang dia sebut adalah salah satu hunian elit di kota ini, harga rumahnya tak jauh beda dengan tempat tinggalku sekarang. Gadis itu tak banyak bicara, sesekali dia melirik jam tangannya kembali, padahal di dashboar mobil tertera jelas pukul berapa saat itu. "Kamu buru-buru ya? Aku ngebut nih," ujarku membuka percakapan, karena bete juga ada teman dalam mobil tapi tak bicara sepatah kata pun. "Enggak juga, santai aja, Om," jawabnya pelan. "Panggil saya Abang, mas atau apalah, jangan om-om gitu umur saya baru tiga puluh tahun," jawabku. "Oh iya Om, Mas, eh Bang," ujarnya kikuk. "Panggil abang aja, abang Jo, nama saya Johan Aditya," aku memperkenalkan diri pada akhirnya. "Saya Rere ... em---Renata nama lengkapnya," dia tersipu, pipinya merona, kini wajahnya mulai berangsur sedikit cerah, tak lagi terlihat khawatir dan malu. "Oke, saya panggil kamu, Rena ya, boleh kan?" Aku memberanikan diri menatap wajah cantik yang merah merona. "Boleh, Bang," jawabnya pelan. "Nah, bagus itu, Bang Jo, terdengar manis kan?" aku tertawa, gadis itu pun menyunggingkan senyum manisnya, cantik sekali! Tak sengaja mata kami beradu, dia buru-buru menunduk saat manik hitamku menatap lekat wajahnya. "Stop!" Renata berteriak. "Oh, ini rumah kamu," Gadis itu menggeleng. "Kok turun di sini?" aku keheranan. "Tante saya kerja di sini, jadi tukang cuci gosok, tiga hari ini dia demam, jadi gak masuk, saya mau ambil gajinya minggu lalu, untuk biaya berobat," terangnya. Oh, pantas saja, ternyata dugaanku benar, hm, kasian juga dia. "Oke, silahkan turun, saya tunggu di sini," "Enggak usah nunggu, abang pulang aja, saya jadi enggak enak," tolaknya. "Enggak apa-apa, udah sana, kamu masuk, saya nunggu kamu di sini," "---tapi ... Bang!" "Udah sana, buruan!" "Ya udah kalo gitu tunggu sebentar ya," gadis itu buru-buru turun walaupun terlihat dia grogi dan kesulitan saat membuka pintu mobilku. Aku membantunya membuka pintu, tanpa sengaja kami bersentuhan, ada rasa aneh yang menjalari darahku. Gadis itu buru-buru turun, dia menuju samping kanan gerbang, sepertinya Renata sudah sering datang ke rumah ini. Hujan kini mulai mereda, tak sederas tadi. Tak berapa dia kembali masuk mobil dengan wajah muram, bahkan terdengar dia menghela nafas berat saat duduk di sampingku. "Kenapa? Kok muram?" "Emm ... anu, Bang, Nyonya Kinan sedang tidak ada di rumah, katanya masih di luar kota, padahal kami butuh uangnya, tante demam tinggi," keluhnya dengan wajah sedih. Ya Tuhan, entah kenapa aku jadi ikut sedih melihat wajah sendunya. Melihatnya sesedih itu mengingatkan pada adikku, Nara, persis sekali. "Kamu butuh banget ya uang itu?" tanyaku. Dia menoleh padaku, lalu mengangguk. "Mau kalau saya kasih uang?" Dia menggeleng. "Kenapa?" "Kita baru ketemu, Bang, gak enak, tar abang kira saya ini cewek apaan gitu, yang memanfaatkan situasi," ucapnya dengan suara parau. "Ya enggak gitu, saya kasih kamu uang cash lima ratus ribu sekarang, mau kamu anggap pemberian boleh, mau anggap kamu hutang juga boleh, terserah kamu, asal kamu terima uangnya dan bawa tante kamu ke dokter, deal!" kusodorkan lima lembaran merah padanya. Dia masih ragu, segera kutambahkan lagi dua lembar, takutnya dia merasa uang yang kuberikan kurang jumlahnya. "Bukan itu bukan, Bang, tapi ... tapi ...." "Sudahlah, pegang saja, nanti kalau kamu udah punya rejeki boleh bayar ke saya, dicicil juga boleh kok," kujejalkan uang itu ke telapak tangannya. Dia terdiam, lalu mentapapku dengan penuh rasa terima kasih. "Thanks banget nih, Om eh, Bang," Renata tersipu, memasukan uang delapan ratus ribu ke dalam tas ranselnya. ... Sekitar dua puluh menit, kami tiba di sebuah Gang kecil dengan deretan rumah sederhana, di depan gank nampak gapura bertuliskan gang 'Cinta pada pandangan pertama' "Elah, ada gang namanya unik kek begini rupanya," aku membatin. Sebelum dia turun, kuberikan kartu nama padanya. "Ini kartu nama saya, boleh hubungi kalau kamu ada perlu atau ... atau mau nyicil hutang kamu tadi, hehe!" aku tertawa lirih. "Oke, mudah-mudahan minggu depan udah bisa cicil, Bang, tanteku bisa gajian," "Becanda kali, Re, aku menepuk bahunya, dia menoleh sekilas. Sumpah! Gadis ini sangat cantik, dengan wajah tanpa riasan sedikit pun, dia sudah terlihat menawan. "Stop, Jo, jangan pandang dia lama-lama, ingat Tita ada di rumah nungguin kamu!" buru-buru kuusap wajah lalu beristighfar. "Thanks sekali lagi deh," ucapnya pelan, lalu meraih tanganku lalu menciumnya. Drttt! Aliran darahku terasa berhenti seketika, tangannya terasa begitu hangat, apalagi saat kulihat eksresi Renata yang perlahan menjadi cerah tak semurung dan datar saat pertama kali dia naik ke dalam mobilku. Tapi aku tak menyangka juga kalau dia mencium tanganku layaknya adik mencium tangan abangnya, atau istri pada suaminya. Renata turun perlahan, dia menutup pintu mobil, melambaikan tangannya saat aku menjalankan kendaraan meninggalkannya yang masih mematung memandangi kepergianku. Renata, aku tak pernah menyangka kalau kisah kami ternyata lebih dari sekedar pertemuan biasa saja, bahkan akan menjadi sedekat ini.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Secretly Rejected My Alpha Mate

read
35.8K
bc

The Lone Alpha

read
125.5K
bc

Claimed by my Brother’s Best Friends

read
819.9K
bc

The Luna He Rejected (Extended version)

read
613.5K
bc

His Unavailable Wife: Sir, You've Lost Me

read
10.5K
bc

Bad Boy Biker

read
8.7K
bc

The CEO'S Plaything

read
19.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook