53

1193 Words

Dengan ragu, ia menunduk perlahan, memperhatikan mata pria itu tanpa berkedip. Pria itu memandangnya seperti pemburu yang hampir menangkap mangsa. “Bagus… Sekarang, diam saja.” Jemarinya bergerak cepat di sepanjang leher Nadine, lalu turun ke bahu, menekan-nekan ringan seperti sedang memastikan sesuatu. “Kau… benar-benar gila,” desis Nadine di sela napas yang berat. Pria itu hanya tertawa pendek, tanpa melepaskan cengkeraman. “Kalau aku gila, kau sudah mati dari tadi. Ini hanya… misi.” Nadine semakin yakin, pria ini memang bukan sekadar penyusup atau perampok biasa. Caranya bergerak terlalu terlatih, dan tujuan utamanya jelas bukan untuk menyakitinya secara fisik—setidaknya, bukan itu yang ia incar. Pria itu melirik sekilas ke arah pintu kamar, seperti sedang menghitung waktu. Nadin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD