Reyna menarik selimut, berusaha menenangkan napasnya setelah keintiman panjang bersama Abyan malam itu. Tubuhnya masih terasa lemas, namun ia tahu dirinya harus membersihkan diri. “Mas, aku ke kamar mandi dulu, ya,” ucapnya lirih sambil mengusap d**a Abyan yang masih hangat. Abyan hanya mengangguk pelan, bibirnya menempel di kening Reyna sebelum ia kembali terlelap. Reyna bangkit, melangkah gontai menuju kamar mandi. Setelah beberapa menit, ia keluar dengan wajah segar, rambut sedikit lembap, dan tubuh yang kembali dibalut piyama tipis. Ia berjalan menuju meja rias, duduk sambil merapikan rambutnya. Suasana kamar hening. Hanya suara napas Abyan yang teratur terdengar dari ranjang. Namun tiba-tiba— Ting! Suara notifikasi ponsel memecah keheningan. Mata Reyna secara refleks menoleh. La

