Setelah shalat Subuh di musholla kecil dekat rumah, Abyan berjalan pulang dengan langkah gontai. Matanya terlihat mengantuk. Begitu masuk ke kamar, ia melihat Reyna baru saja melipat sajadah. “Mas udah shalat?” tanya Reyna pelan. “Iya, Sayang…” jawab Abyan sambil merebahkan diri di kasur. Reyna menatapnya iba. “Mas capek, ya?” “Sedikit, Sayang.” Abyan tersenyum lemah lalu menarik Reyna ke dalam pelukannya. Reyna pun bersandar di dadanya, jemarinya mengusap lembut d**a Abyan. “Tidurlah lagi, Mas. Masih pagi…” “Tapi aku nggak enak kalau nggak bantuin, Mas,” ucap Reyna ragu. “Ngga apa-apa, Sayang. Kamu istirahat aja dulu,” Abyan mengeratkan pelukannya, seolah tak ingin melepaskan. Akhirnya Reyna pun pasrah. Keduanya tertidur dalam dekapan hangat. Matahari sudah tinggi ketika jarum j

