Dalam kehangatan usai badai rasa, Abyan dan Reyna masih saling mendekap erat. Nafas keduanya perlahan teratur, namun keintiman itu belum melepaskan genggamannya. “Sayang…” suara Abyan pelan, nyaris seperti bisikan. “Tadi yang telepon itu Sarah, sekretaris Mas.” Reyna mendongak sedikit, matanya menyipit. “Tapi kenapa bicaranya mesra banget, Mas? Pake ‘sayang’ lagi…” ucapnya kesal, bibirnya manyun. Abyan tersenyum kecil, jari-jarinya mengusap lembut rambut Reyna. “Maafkan Mas, Sayang. Mas janji nggak akan begitu lagi. Tadi Mas cuma bercanda sama Sarah.” “Reyna nggak suka, Mas,” jawabnya jujur, suaranya lirih tapi tegas. Abyan menatapnya dalam, lalu menghela napas penuh penyesalan. “Iya, iya… Sayang. Maafin Mas, ya? Mas bakal jaga hati kamu. Cuma kamu yang ada di hati Mas.” Rey

