Malam di Ciwiday – Rumah Kakek Mulyana Udara Ciwiday terasa sejuk, angin malam membawa aroma kebun teh yang menenangkan. Rumah kayu besar milik Kakek Mulyana berdiri kokoh di tengah pekarangan luas. Suasana desa yang tenang seolah jadi pelindung baru bagi Reyna. Malam itu, setelah shalat Isya berjamaah bersama keluarga, Reyna duduk di teras depan rumah. Ia mengenakan selendang tipis, sambil sesekali mengelus perutnya yang membesar. Matanya menerawang ke langit gelap bertabur bintang. Abyan datang dari belakang, lalu memeluk istrinya dengan hangat. “Eh, ternyata bintang-bintang iri lihat kamu, Rey,” ucapnya sambil menempelkan dagu di pundak Reyna. Reyna menoleh dengan senyum malu. “Mas ini, ada-ada aja…” Abyan terkekeh kecil, lalu menempelkan telinganya di perut Reyna. “Sayang, de

