Pusaka penghancur kegelapan

1472 Words

Suara tawa dingin dari dalam rumah dukun itu semakin jelas, seperti menggema dari berbagai arah. Kabut di sekitar lereng gunung makin pekat, membuat udara sesak. Kakek Mulyana berdiri tegak, sorot matanya menembus gelap. Ia tak bergeming sedikit pun meski tubuhnya dihantam angin kencang yang tiba-tiba berputar. “Bimo, jangan goyah. Terus baca doa. Cahaya iman kita adalah kunci,” ucapnya tanpa menoleh. Bimo menggertakkan gigi, meski bulu kuduknya berdiri. Bibirnya bergetar, namun ia terus melantunkan ayat suci. Dari balik pagar bambu, sosok bayangan besar perlahan muncul. Tubuhnya tinggi, matanya merah menyala, gigi taring mencuat. Suaranya berat, menakutkan. “Pulanglah, orang tua… cucumu sudah jadi milikku. Kalian takkan bisa menembus rumah ini.” Kakek Mulyana menatap lurus, lalu t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD