Lastri duduk di ruang kerjanya dengan wajah merah padam. Telepon di tangannya bergetar ketika anak buahnya melapor dengan suara tergesa. “Bu… dukun itu sudah mati. Dia tewas di tangan Kakek Mulyana. Gubuknya pun hangus terbakar.” Mata Lastri melebar, giginya bergemeletuk menahan amarah. “Apa?!” bentaknya. Ia berdiri, menghantam meja dengan telapak tangannya. “Bodoh semua! Bagaimanapun caranya, Abyan dan keluarganya harus mati! Aku tidak akan berhenti sampai mereka hancur!” batinnya bergemuruh, penuh kebencian. Sementara itu, di rumah Kakek Mulyana, suasana berbalik penuh syukur. Abyan menggenggam erat tangan Reyna yang tampak lemas. Keringat bercucuran dari kening istrinya, kandungannya sudah memasuki bulan sembilan, dan rasa mulas semakin kuat menghantam. “Bertahan, Sayang. Ak

