Mobil Hanif melaju seperti kesetanan membelah malam Jakarta yang macet. Di kursi belakang, Abyan mendekap erat tubuh Reyna yang tak sadarkan diri. Wajah Abyan pucat pasi, seluruh emosinya terasa hancur. Bukan hanya karena Reyna terluka, tapi karena ia tahu, dialah penyebab penderitaan terakhir istrinya itu. Setibanya di rumah sakit, Reyna langsung dibawa masuk ke ruang UGD. Abyan nggak bisa ikut masuk, ia hanya bisa berdiri di depan pintu kaca, mondar-mandir seperti setrika. Rasa panik, takut, dan bersalah campur aduk jadi satu, membuat lututnya terasa lemas. Hanif berdiri di sampingnya, berusaha menenangkan Bosnya. "Tenang, Bos. Mbak Reyna pasti kuat. Dia pasti baik-baik aja," ujar Hanif, nadanya terdengar meyakinkan meski ia sendiri khawatir setengah mati. Tiba-tiba, sebuah suara sera

