Hanif mengemudi mobilnya dengan hati-hati menuju rumah sakit. Di sampingnya, Aryan duduk dalam diam, sementara di kursi belakang ada Elsa, istri Aryan dan teman dekat Reyna, yang tampak sangat khawatir. Hanif tahu, Aryan datang bukan karena panggilan kerja, melainkan karena didorong oleh rasa sayangnya yang tulus pada Reyna dan juga bujukan Hanif yang mati-matian. "Aku nggak tahu harus bilang apa ke Reyna, Nif," bisik Aryan, suaranya pelan. Elsa menimpali, memegang lengan suaminya. "Bilang yang sebenarnya, Sayang. Kamu udah nolong dia. Jangan pedulikan Mas Abyan yang lagi kalut. Aku yakin, Reyna nggak akan marah, dia justru berterima kasih." Hanif mengangguk. "Betul, Ary. Kamu pahlawannya. Kamu harus tenang. Abyan juga udah siap minta maaf, dia tadi kayak nggak punya muka, nyesel banget

