“Sayang,” ujar Abiyan, mendekat dan mencium kening Reyna. “Gimana kerjanya, Mas? Elsa gimana? Dia datang jenguk?” tanya Reyna, menyebut nama teman dekatnya, istri Aryan. “Elsa belum datang, Sayang. Dia lagi ada jadwal yoga pagi. Tapi Mas yakin nanti dia ke sini. Dan tadi, guess what? Asisten kesayangan Mas, Hanif, dia tiba-tiba dirawat di kamar sebelah. Kamar 302.” “Hanif? Mas Hanif yang super sibuk itu? Sakit apa dia?” tanya Reyna, penasaran. “Diare dan dehidrasi parah karena salah makan. Kayaknya diare terburuk abad ini, sampai harus diinfus,” jawab Abiyan, menahan tawa. “Mas mau ke sana sebentar, cek kondisinya. Papa, Mama, Mas titip Reyna sebentar ya.” Papa Rudi mengangguk. “Sana, biar sekalian kamu refreshing sebentar. Hanif itu asisten yang baik.” Abiyan pun melangkah keluar, l

