Setelah pemakaman selesai, keluarga besar berkumpul di rumah Abyan. Suasana masih muram, tapi perlahan percakapan kecil mulai terdengar. Reyna duduk di samping Abyan, menepuk tangannya lembut. “Mas… ikhlaskan, ya. Ayah sekarang sudah tenang di sisi-Nya. Kita harus kuat.” Abyan mengangguk, meski matanya masih sembab. Ia menatap istrinya penuh syukur. “Kamu benar, Sayang. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku sudah jatuh.” Di sudut ruangan, Anita sibuk menggendong Banyu yang tertawa-tawa, seolah tidak paham suasana duka yang baru mereka lalui. Bayi itu meraih jari Anita dengan tangan mungilnya, membuat semua mata menoleh. “Ya ampun… gemes banget sih ini bocah,” Anita menciumi pipinya. Haris tersenyum samar. “Bener-bener jadi penghibur keluarga. Di tengah duka, dia bisa bikin semua

