GELISAH

1099 Words
"Vita ayo lah, jangan memperkeruh suasana, mama mohon ya." Pinta Rika dengan mengiba. "Yaudah ini semua Vita lakuin demi mama," ucap Vita dengan malas. Billy pun turun dari tangga, untuk segera makan malam bersama keluarga nya. "Ayo, papa udah siap nih," ajak Billy lalu duduk di kursi meja makan. "Loh, kok makanan nya gadak ma?" ucap Billy melihat meja makan kosong. "Iya bentar ya, Mas, mama ambil dulu makanan nya, tadi mama lagi ngobrol sama Vita. jadi lupa deh nyiapin makanan nya." "Vita sini sayang, bagaimana pelajaran kamu di universitas?" ucap Billy tersenyum. "Semua baik-baik aja kok." cetus Vita lalu duduk di kursi. Rika yang memperhatikan sikap Vita, berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya Rika juga merasakan hal yang sama dengan perkataan Vita. tapi dia juga tidak punya bukti untuk membenarkan perkataan Vita, terlebih lagi Rika sudah berjanji tidak akan mencurigai Billy tanpa alasan yang tak jelas. "Semua pelajaran Vita baik kok, Mas. Vita bulan depan ada pertandingan piano loh," ucap Rika yang membuat suasana tidak tegang. "Benar kah itu vita kata mama mu?" "Iya." cetus Vita. Rika memegang tangan Vita, untuk berusaha tetap lebih baik berbicara kepada Billy, Rika berharap jangan merusak makan malam ini. Vita berusaha untuk menahan perasaan yang mulai membenci ayah nya, untuk tidak memperlihatkan kebencian nya. Makan malam pun berlanjut dengan suasana hening, setelah makan malam berakhir, Vita pun masuk ke kamar nya, dan Rika membersihkan sisa makanan yang tak habis, Rika sengaja tidak memakai jasa pembantu. Kerena Rika berpikir dia bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah dan dia juga tidak punya pekerjaan. "Ma, Vita masuk kamar ya, ada tugas yang mau di kerja kan." Ucap Vita berlalu pergi meninggalkan meja makan, tanpa pamit kepada Billy yang memperhatikan nya. "Rik, kok Vita cuek ya sama aku?" tanya Billy heran. "Ah, itu perasaan kamu aja,Mas." ucap Rika yang berusaha menutupi. "Iya beneran, Vita mengacuhkan aku di sini, kamu juga dengar dia hanya pamit sama kamu," Billy yang penasaran dengan tingkah Vita. "Yaudah, nanti aku yang ngobrol sama Vita, mungkin dia lagi datang bulanan, kamu kan tahu mas, bagaimana mood wanita, bisa berubah-ubah," ucap Rika yang berusaha untuk meyakinkan Billy. "Mungkin kali ya? yaudah aku masuk kamar deluan ya," Billy yang bangkit segera menuju tangga. "Iya, nanti aku nyusul ya, setelah membersihkan semua ini." "Iya sayang." Di dalam kamar Vita yang terlihat kesal membayangkan apa yang telah dia lihat tadi siang, di saat Vita ada tugas dari kampus dan tak sengaja melihat Billy dan selingkuhannya sedang bermesraan memilih mobil. Dia menyaksikan semua itu, dengan senyuman yang lebar tersirat dari bibir Billy, dan memeluk dengan erat pinggang wanita itu.Vita terlihat shock, melihat ayah yang dia cintai, ayah yang dia bangga kan, dan akan dia jadi kan panutan untuk masa depan nya, Ternyata sudah menghianati diri nya dan juga ibu nya.Runtuh sudah harapan Vita, hanya kekecewaan dan kebencian yang tertanam di hati nya sekarang. Vita melempar kan buku nya Kedinding-dinding kamar, semua konsentrasi nya sudah hilang untuk belajar. "Aku benci!, aku benci pada mu pa!" teriak Vita penuh amarah. Vita menangis membayangkan keluarga nya akan segera hancur, dia juga tak bisa melihat ibu nya menangis jika mengetahui semua ini. Dia seperti di lema, akan kah dia harus memberi tahu Rika tentang perselingkuhan ini, atau hanya diam menyaksikan perselingkuhan ayah nya. *** Di dalam kamar lain Billy dan Rika sedang bersama memadu kasih, Rika yang haus akan sentuhan, mencoba kembali mengajak Billy melakukan seks bersama nya. "Mas, kita udah lama loh?" ucap Rika merabai tubuh Billy dengan jari jemarinya. "Sudah lama apa? kamu ngomong kok pake isyarat?" jawab Billy yang berpura-pura tidak mengerti. sebenarnya dia mengerti apa yang di inginkan Rika, tapi dia sudah tidak punya hasrat lagi kepada nya, tapi dia sadar dia juga harus bersikap normal, dia tidak ingin Rika mencurigai diri nya semakin jauh. "Kamu ini, pura-pura engak ngerti lagi?" cetus Rika yang mulai kesal. "Iya aku ngerti, jangan cemberut begitu dong," jawab Billy yang berbalik ke arah Rika. Billy pun segera menyentuh Rika dengan perasaan malas, tapi dia tetap harus menyentuh Rika, saat Rika mulai menggeliat di atas tempat tidur, Billy terbayang aksinya saat beradu ranjang bersama Erika. Nafsu nya mulai memuncak, dia mulai menciumi tubuh Rika satu persatu. dia berguling-guling bersama Rika di atas tempat tidur, dia memperhatikan gaya yang pernah dia lakukan bersama Erika. dia suruh Rika berada di atas tubuh nya, Rika naik ke atas tubuh Billy, lalu bergoyang di atas tubuh nya, rintihan suara mendesah terdengar dari kedua pasangan itu. "Mas, malam ini kamu sangat ganas? aku belum pernah merasakan gaya seperti itu sebelumnya," ucap Rika memulai pembicaraan dengan memeluk tubuh Billy. "Hahaha, kamu menikmatinya?" ucap Billy dengan tersenyum kikuk. "Iya mas, kamu berbeda malam ini, kamu sangat liar, tidak biasa nya kamu seperti ini.Aku yakin kamu juga pasti sangat merindukan aku, setelah sekian lama tak bersama seperti ini." ucap Rika dengan senyum bahagia. Billy hanya tersenyum mendengar perkataan Rika,dia bahkan menghiraukan perkataan Rika Tak berapa lama handphone Billy pun berdering, dengan sigap Billy mengambilnya. Dia tak mau, kalau sampai Rika yang akan mengangkat nya.Billy yang melihat nama tertera di dalam layar,"Rekan Kerja" yang menelponnya larut malam. "Ada apa dia menghubungi ku malam-malam seperti ini?" gumam Billy dalam hati. Billy tidak ingin Rika mengetahui perselingkuhan nya dengan Erika, dia segera memati kan handphone nya, dan kembali melanjutkan tidur. Tapi handphone terus berbunyi berkali-kali, sampai Rika terbangun mendengar dering handphone itu. "Siapa sih, Mas?" "Urusan kantor, biarin aja!," ucap Billy cepat. "Angkat dong mas, siapa tau itu urusan penting." "Kita bisa membicarakan nya besok di kantor, mereka tidak lihat ini sudah larut malam dan waktu nya untuk tidur." Ucap Billy mencari alasan. "Iya udah, kita lanjut tidur lagi ya,Mas." lalu Rika memejamkan matanya kembali. "Iya kamu tidur lagi ya, kamu udah capek satu harian masak buat aku," ucap Billy dengan mengelus kepala Rika. "Makasih ya, Mas! kamu udah perhatian sama aku." "Tentu saja, kamu istri aku yang cantik, dan cuma kamu yang satu-satunya aku cintai di dunia ini." Ucap Billy penuh dusta. Telepon terus berdering, namun Billy menghiraukan nya, dia tak mau membuat masalah baru untuk diri nya dan Rika. "Ada apa sih? kok Erika nelpon aku terus? kan bisa di bicarakan besok." Ucap Billy dalam hati merasa gelisah. Billy tak bisa tidur malam itu, dia penasaran kenapa Erika menelpon nya larut malam seperti ini, tapi dia juga tak bisa mengangkat Telepon dari Erika, dia tak sabar menantikan pagi hari, dia ingin segera tahu, apa yang di butuhkan Erika selarut ini. Bersambung .... Happy reading ? semoga terhibur ya ? Dan terima kasih udah mampir buat baca novel aku yang receh ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD