Dua - Kesan Pertama

1325 Words
“Pak Rayyan tadi nyuruh aku ke tempatku, tapi tempatku dimana ya?” kulempar pandanganku berkeliling mencari meja kosong di ruangan tersebut. “Terus katanya tadi yang bakal ngajarin aku namanya Kenan. Nahh si Kenan itu orangnya yang mana juga?” aku menambahkan. Aku melihat ke kiri lalu ke kanan mencari meja yang tidak ditempati oleh karyawan. Pandanganku terhenti pada sebuah meja yang terletak di pojok dan tidak ditempati oleh siapapun. Namun ada dokumen bertumpuk di atas meja itu. Apa iya itu tugas yang sudah menunggu? Baru hari pertama sudah harus mengerjakan tugas sebanyak itu? Aku menghela nafas dengan lesu dan melangkahkan kaki ke meja tersebut. Aku melewati beberapa karyawan untuk bisa sampai kesana. “Permisi ya mas, permisi mba..” kupasang senyum di wajahku sambil sedikit membungkukan tubuhku. Setelah sampai di meja kosong dengan tumpukan dokumen itu, kuletakan tas tangan yang kusangkutkan di bahu kiriku. Kemudian kutarik kursi yang ada di belakang meja dan kududuki. “Ini seriusan tugas yang harus aku kerjain? Eh apa ini meja orang lain ya?” gumamku. “Tapi kan cuma ini kursi yang kosong. Yaudahlah aku coba baca-baca dokumen yang ada disini.” Lanjutku. Kuambil sebuah map besar yang berada ditumpukan paling atas. Kukeluarkan beberapa lembar kertas dari dalamnya. “LIST VENDOR PENYEDIA BARANG”. Tulisan tersebut dicetak tebal di halaman pertama bagian atas. “Hoo ini rekanan penyedia barangnya ya?” kataku. Aku pun membaca lembaran demi lembaran agar aku bisa sedikit memahami tugasku. Sampai-sampai aku tidak menyadari jika ada seorang lelaki yang sudah berdiri di belakangku. Karena aku masih terus serius membaca dokumen-dokumen yang ada di atas meja, lelaki itu pun akhirnya menepuk pundakku pelan. “Serius amat sih!” katanya. “Iya nih, baru masuk hari pertama udah dapet tumpukan dokumen begini.” Jawabku tanpa menoleh ke belakang. “Oh jadi kamu staff baru disini?” “Iya.” Jawabku singkat. “Kenalin, saya Kenan. Saya diberi tanggung jawab untuk ngajarin kamu disini.” Kenan? Seketika aku menghentikan kegiatanku membaca dokumen dan langsung membalikan tubuhku untuk melihat wajah lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Kenan. Tinggi. Tampan. Wajahnya sedikit ditumbuhi kumis dan janggut. Harum. Dan dia sedang tersenyum padaku. “Pagi pak Kenan, saya Kyara.” Kataku pelan saat memperkenalkan diri. Seharusnya aku berdiri untuk memperkenalkan diriku, tetapi sepertinya aku terkesima dengan ketampanan Pak Kenan ini sehingga aku terus memperhatikannya tanpa berkedip. “Nama kamu Kyara? Baik Kyara, saya Kenan.” Dia mengulurkan tangannya. Sempat aku terdiam sekitar 5 detik sebelum kusambut uluran tangannya. “Iya pak, saya Kyara.” “Hmm Kyara, yang kamu duduki itu tempat saya.” Pak Kenan melirikan pandangannya ke arah kursi yang sedang kududuki. Aku tidak fokus pada apa yang Pak Kenan katakana. Aku terlalu terkesima dengan wajah tampan dan senyuman di wajahnya. Bahkan kedua ikut menyipit seolah tersenyum padaku. “Kyara? Kamu dengar saya kan?” tanya Pak Kenan. “Hah? Apa pak?” tanyaku balik padanya. “Itu, kursi yang kamu duduki itu.” kali ini dia mengarahkan jari telunjuknya ke arah kursi yang kududuki. “Iya kenapa Pak kursinya?” “Itu kursi saya.” Jawabnya lembut. Sontak aku pun langsung bangkit dari kursi tersebut dan meminta maaf. “Maaf Pak, maaf.. Maaf yaa Pak..” Kubungkukan tubuhku beberapa kali saat mengucapkan kata maaf. “Hahaha gak apa-apa Kyara, kamu kan masih baru jadi wajar saja kalau kamu belum tahu dimana tempat kamu.” Pak Kenan tertawa sambil menempati kursi yang sebelumnya kududuki. “Iya maaf ya pak, saya kira tempat saya disini. Karena tadi disini kosong pak gak ada yang duduk disini.” Dengan sedikit perasaan malu aku memberikan alasan pada Pak Kenan mengapa aku menempati tempatnya. “Ohh gitu, yasudah gak apa-apa Kyara. Kamu sudah bertemu dengan Pak Rayyan?” “Sudah pak, katanya nanti Pak Kenan yang akan mengajari saya.” Pak Kenan melirik ke kanan dan kiri kemudian dia bangkit dari tempatnya. Dia berjalan mendekati mesin fotokopi. Lalu dia menarik kursi kosong yang ada di sebelah mesin fotokopi tersebut. “Kyara, seminggu ini kamu masih satu meja dengan saya ya! Banyak yang harus saya ajarkan sama kamu karena kata HRD kamu masih fresh graduate. Benar?” Apa? Satu meja dengan Pak Kenan? Aku harus satu meja dengan si tampan Pak Kenan? “Ehm anu pak.. Satu meja sama bapak?” tanyaku memastikan. “Iya Kyara, karena banyak yang harus saya ajarkan sama kamu dalam waktu singkat. Oke, silahkan duduk Kyara!” Pak Kenan menepuk-nepuk kursi yang barusan ditariknya dan sudah berada bersebelahan dengannya. Deg deg deg. Jantungku berdebar dengan kencang saat ingin menduduki kursi tersebut. Perlahan-lahan aku meletakan bokongku di kursi dan terasa seperti ada getaran berbeda saat aku menduduki kursi yang sebenarnya biasa saja itu. Aku menolehkan kepalaku ke sebelah kiri, menatap wajah tampan Pak Kenan dengan intens. “Ya Tuhan kalau kayak gini sih gak bakalan bisa fokus. Mana harum parfumnya Pak Kenan kok jadi nyengat banget gini.” Gumamku dalam hati. “Kyara, kamu mengerti komputer kan? MS. Office?” tanya Pak Kenan. “Iya pak.” Jawabku sambil terus terpesona oleh wajah tampan Pak Kenan. “Nah coba kamu lihat file ini. Ini adalah keperluan tiap divisi, kamu boleh baca dulu dan coba mengerti apa saja yang diperlukan di setiap divisi. Ini kebutuhan yang paling pokok ya.” Pak Kenan membuka sebuah file di komputernya dan berusaha menjelaskannya padaku. Namun apalah daya, ketampanan Pak Kenan membuatku sangat tak bisa fokus. Aku hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasannya. “Kamu sudah mengerti tugas kamu?” suara berat seorang lelaki terdengar dari belakangku. Aku hanya menganggukan kepalaku mengira jika suara tersebut adalah suara Pak Kenan. “Heh kamu! Malah ngelamun! Sudah ngerti?” suara berat tersebut kembali terdengar namun berubah menjadi sedikit ketus. Kemudian Pak Kenan menolehkan kepalanya padaku. “Iya pak ngerti.” Dengan cepat aku menjawab. Pak Kenan memberikan kode dengan lirikan matanya jika aku harus menoleh ke belakang. Aku pun memutar kepalaku sesuai dengan kode yang diberikan oleh Pak Kenan. “Yakin kamu sudah mengerti? Apa yang sudah kamu mengerti?” Pak Rayyan bertanya dengan nada ketus juga dengan tatapan matanya yang tajam seperti ingin mengulitiku. “Loh Pak Rayyan?” tanyaku dengan terkejut sambil menunjuk ke arah Pak Rayyan. Sejak kapan lelaki itu ada di belakangku? “Iya ini saya, Rayyan. Apa yang sudah kamu mengerti? Kamu mengerti kalau Kenan itu ganteng? Jadi kamu terus-terusan ngeliatin dia dan gak fokus dengan apa yang dia ajarkan sama kamu?” Semua yang dia katakana barusan sudah seperti anak panah yang mengenai sasaran. Tepat sekali. Aku tak sanggup menjawab dan hanya bisa melongo menatap Pak Rayyan yang sepertinya menjadi sangat kesal padaku. “Hihihihi.. Ray, jangan galak-galak sama anak baru. Kasihan tuh dia sampai gak bisa jawab gitu.” Terdengar Pak Kenan yang terkekeh dan menegur Pak Rayyan. “Lu juga sih Ken kenapa juga lu harus sok tebar pesona sampai anak baru lu bikin jadi gak fokus gitu!” jawab Pak Rayyan. “Yaudah sana deh, ini Kyara biar gue yang urus. Pokoknya dalam seminggu udah harus bisa gue lepas kerja sendiri kan? Udah deh sana balik lagi ke ruangan lu!” sahut Pak Kenan. “Oke gue percayain nih anak baru sama lu. Dalam seminggu dia harus bisa kerja sendiri, kalau gak biar gue minta HRD cari staff baru buat gantiin dia.” Pak Rayyan berkata demikian dengan tatapannya yang tajam padaku. Tega sekali dia berkata seperti itu dihadapanku. Pak Rayyan pun meninggalkan kami dan kembali ke ruangannya. Aku masih belum bisa berkata apa-apa. Speechless mendengar apa yang baru saja Pak Rayyan katakan. “Kyara, yuk kita pelajari file yang tadi. Tapi kali ini fokus ya! Kalau mau mengagumi saya, setelah kita pelajari file ini ya!” sambil tersenyum Pak Kenan memintaku untuk fokus. Wajahku menjadi memerah karena tersipu malu. Sungguh sepertinya aku sudah memberikan kesan pertama yang memalukan. Pak Kenan terlalu tampan, aku benar-benar menjadi tidak fokus duduk berdampingan dengannya seperti ini. Jika dipikir-pikir sebenarnya Pak Rayyan juga tampan, tetapi aura yang dia tunjukkan membuatnya menjadi menakutkan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD