Tiga - Harapan

1268 Words
“Oh jadi kamu staff baru disini?” “Iya.” Jawabku singkat. “Kenalin, saya Kenan. Saya diberi tanggung jawab untuk ngajarin kamu disini.” “Kyara, kamu mengerti komputer kan? MS. Office?” tanya Pak Kenan. “Iya pak.” Jawabku sambil terus terpesona oleh wajah tampan Pak Kenan. “Yakin kamu sudah mengerti? Apa yang sudah kamu mengerti?” Pak Rayyan bertanya dengan nada ketus juga dengan tatapan matanya yang tajam seperti ingin mengulitiku. “Loh Pak Rayyan?” tanyaku dengan terkejut sambil menunjuk ke arah Pak Rayyan. Sejak kapan lelaki itu ada di belakangku?   ***   Jam pulang kantor pun tiba. Hari pertamaku bekerja berlalu dengan mulus. Walau pada awalnya terjadi sedikit hal yang membuatku sangat malu karena kepergok memperhatikan wajah Pak Kenan yang tampan oleh Pak Rayyan. “Kya, maaf ya nunggu lama!” Elsa datang menghampiriku dengan sedikit berlari. Aku sudah lumayan lama menunggunya di depan kantor. Aku malas menunggu di dalam, karena aku masih staff baru dan aku merasa risih jika banyak yang memperhatikanku. “Yaudah yuk kita pulang!” ajakku. “Eh kamu jadi mampir ke rumahku?” lanjut aku bertanya. Elsa menggelengkan kepalanya. “Enggak hari ini deh kayaknya Kya. Aku mau istirahat aja dirumah. Sakit kepalaku hari pertama kerja udah disodorin banyak banget dokumen. Mana satu dokumen itu tebel banget lagi, kalah deh kamus bahasa Inggris aku!” keluh Elsa. Aku tidak menjawabnya, aku juga tidak mau banyak berkomentar karena ini adalah hari pertama kami bekerja. Sudah pasti aka nada hal baru yang melelahkan di hari pertama bekerja. Aku dan Elsa pulang dengan menggunakan taksi online. Kebetulan rumah kamu hanya berbeda gang saja. Jadi kami bisa pulang bersama menggunakan satu taksi dan berhenti di depan gang rumahku. Lalu setelah itu Aku dan Elsa akan sampai di rumah masing-masing dengan berjalan kaki dari depan gang. Setidaknya akan lebih menghemat ongkos, karena kami akan membagi dua ongkos yang harus kami bayarkan. Aku sampai di rumah sekitar jam 6 sore. Pas sekali waktu maghrib. Aku pun bergegas mengganti pakaianku, mengambil wudhu lalu melaksanakan solat maghrib. Kewajiban seorang muslim atau muslimah adalah melaksanakan solat 5 waktu. Walaupun lelah di hari pertama bekerja aku tetap tidak boleh meninggalkan kewajibanku yang satu itu. “Kya, sudah solatnya? Ini mama bawain cemilan buat kamu. Gimana hari pertama kerja?” Mama datang dan membawa sebuah piring berisi potongan kue bolu pelangi. “Baru aja selesai solat ma. Sebentar ya ma Kya lipat mukena dulu.” Kulipat dengan rapih perlengkapan solatku dan meletakannya di sebuah kursi yang ada di pojok kamarku. Mama duduk menungguku di pinggir tempat tidur. Aku pun menghampirinya dan ikut duduk disebelahnya. “Ini mama bikin sendiri ma bolu pelanginya?” tanyaku sambil menyomot sepotong bolu pelangi yang mama tawarkan. “Enggak Kya, tadi mama beli di toko kue yang baru di ujung jalan sana.” Jawab mama. “Ujung jalan yang mana ma?” tanyaku. Aku tidak melihat ada toko kue baru di ujung jalan saat pulang tadi. “Itu loh Kya di ujung jalan yang sebelah sana, yang deket pertigaan itu loh.” Jelasnya. “Hoo yang di deket pertigaan sana. Kya kira di ujung jalan gang rumah kita ma.” “Bukan Kya. Eh enak gak bolu pelanginya menurut kamu?” Kuambil sepotong lagi bolu pelangi yang ada di piring dan langsung kulahap dengan cepat. Lalu aku mengangguk-anggukan kepalaku layaknya seorang masterchef yang sedang mencicipi hidangan. “Gimana Kya? Enak?” mama masih menunggu jawaban dariku. “Ehhmm gimana ya ma?” “Gimana maksudnya?” raut wajah mama semakin penasaran menunggu jawaban yang akan kuberikan. “Yaa gimana ya ma? Kalau makannya 2 potong kayak tadi sih gak enak ma, mungkin kalau makannya 1 loyang sendirian baru berasa enak.” Jawabku sambil mengunyah bolu pelangi di dalam mulutku. Raut wajah mama langsung berubah masam setelah mendengar jawabanku. “Yasudah ini kamu habisin sendirian saja!” diberikannya piring berisi potongan kue bolu pelangi yang sedari tadi dipegang olehnya. “Hahaha mamaku yang cantik ini jangan ngambek dong..” kucoba merayu mama yang memasang wajah masam padaku. “Gak ngambek Kya, cuma mama heran aja ternyata nafsu makan kamu bagus banget sampai mau habisin bolu pelangi sama loyang-loyangnya.” “Hah? Gak sama loyangnya ma. Emang Kya apaan makan sama loyangnya segala sih ma!” Mama menggelengkan kepalanya dan kini terpampang senyum pasrah di wajahnya karena sikapku yang terus menggodanya. “Hahaha becanda yaa mamaku sayang..” kupeluk mesra mama yang duduk disebelahku. “Kya.. Kya.. Gimana nanti kalau kamu sudah dapat jodoh ya? Pasti mama kesepian banget gak denger katawa kamu.” Mama berkata demikian sambil membelai lembut kepalaku. Aku pun melonggarkan pelukanku dan menatap wajah mama. “Mama kok ngomongnya gitu ma?” tanyaku. Padahal sama sekali tak terlintas di benakku pemikiran seperti itu. Senyum di wajah mama terpancar lembut. Tatapannya juga sangat lembut menatapku. Tangannya yang sudah tidak semulus saat muda dulu kini kembali membelai kepalaku. “Kya, kamu udah semakin dewasa. Suatu saat kamu juga pasti akan menemukan jodoh kamu.” Kedua bola mata mama terlihat berkaca-kaca. Seperti sedang menahan tangisnya. “Nanti kalau memang kamu sudah nemuin jodoh kamu, mama cuma berharap kamu bahagia dengan jodoh kamu itu ya Kya. Karena mama dan papa juga sudah sepenuh hati berusaha membahagiakan kamu.” Lanjutnya. “Iihh mama apaan sih ngomongnya begitu! Kya baru juga masuk kerja ma, baru satu hari, masa mama udah ngomongnya jauh begitu sih!” kataku sambil meraih tangan mama yang mengelus kepalaku. “Tapi hal itu kan suatu saat pasti terjadi Kya. Kamu putri mama papa satu-satunya. Sudah pasti mama papa mengharapkan yang terbaik untuk kamu. Mama papa pasti inginnya ngelihat kamu bahagia terus.” Entah ada apa dengan mamaku, dia sudah seperti akan ditinggal menikah olehku besok. Padahal jodoh saja entah masih dimana. Belum terlihat tanda-tanda jodohku sudah dekat. Aku juga masih punya keinginan untuk membahagiakan kedua orang tuaku. Sebagai anak semata wayang sudah pasti mama papa sangat memanjakan aku. Jadi aku ingin sedikit saja membalas apa yang sudah mereka berikan untukku. “Maa..” kugenggam tangan mama dengan erat. “Masalah jodoh kita omonginnya kapan-kapan lagi aja ya ma! Sekarang Kya mau minta doa mama biar kerjaan Kya lancar ma, jadi Kya bisa nyenengin mama sama papa.” Mama menarik tubuhku dan mencium keningku. “Kalau itu sih gak usah kamu minta, mama papa sudah pasti mendoakan kamu Kya. Agar semuanya lancar. Pokoknya semua doa yang terbaik untuk kamu Kya.” Ujarnya. Kemudian kami berdua berpelukan mesra mengakhiri perbincangan kami. Lalu aku dan mama beranjak dari tempat kami dan melangkahkan kaki keluar kamar. Kami menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Papa akan pulang sebentar lagi. Setelah makan malam aku kembali ke kamarku. Melepaskan pakaian yang melekat di tubuhku dan menutupinya dengan handuk model kimono. Akan lebih segar jika aku membersihkan tubuhku sebelum beranjak tidur. Dihujani air yang keluar dari pancuran di atas kepalaku, aku teringat kembali tentang perbincanganku dengan mama tadi. Seketika aku pun merasa takut kehilangan kebahagiaan dari mama dan papa jika nantinya aku akan menikah. Aku tak ingin meninggalkan mereka. Aku ingin tetap terus bersama mereka walau aku sudah menikah nanti.   ***   Tak ada orang tua yang mengharapkan anaknya hidup tidak bahagia. Begitu juga dengan kedua orang tuaku, terutama mama yang sudah mengandung dan melahirkanku. Saat itu pun aku masih belum tahu jika jodohku sudah berada di dekatku. Namun jodohku tersebut belum bisa sepenuhnya mengabulkan harapan mama. Dia belum bisa memberikan kebahagiaan dalam hidupku. Dia juga belum sepenuhnya mengerti tanggung jawabnya sebagai suami. Seorang suami tidah hanya bertanggung jawab mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan materi seorang istri. Tetapi seorang suami juga harus bisa bertanggung jawab atas kebahagiaan batin anak istrinya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD