Aku dan Kenan tidak tahu jika ada sepasang mata yang memperhatikan mobil Kenan dari dalam rumah mewah yang dimasuki Rayyan tadi. Pemilik sepasang mata itu mulai menerka-nerka mengapa mobil tersebut belum juga pergi. Dan pemilik sepasang mata itu yang nantinya akan menjadi awal dari ketidakbahagiaan hidupku.
***
“Kamu lagi lihat apa sih sayang?” seorang wanita muda memeluk Rayyan dari belakang dengan manja.
Rayyan menutup gorden kemudian membalik tubuhnya agar bisa memeluk wanita tersebut dari depan. “Bukan apa-apa kok!”
“Kamu yakin?” wanita itu kemudian membelai dagu Rayyan yang ditumbuhi sedikit janggut.
“Iya, memang tidak apa-apa. Mau kemana kita sekarang Carissa?” tanya Rayyan pada wanita muda tersebut.
“Aku mau kerumah kamu, Ray!” dengan bersemangat wanita yang dipanggil Carissa itu mengatakan keinginannya.
“No, no, no! Belum waktunya sayang. Kamu tahu kan kalau mamaku itu masih belum menyetujui hubungan kita?”
Raut wajah Carissa mendadak berubah lesu. “Sampai kapan sih Ray mama kamu gak setuju sama hubungan kita?” Carissa mulai merajuk.
“Carissa sayang..” Rayyan menarik tangan Carissa lalu memeluk tubuhnya. “Kamu harus bersabar, kalau aku sudah sepenuhnya dipercaya sama Mama Papa untuk memimpin perusahaan Mama pasti akan segera menyetujui hubungan kita.”
“Tapi sampai kapan aku harus nunggu?” Carissa kembali merajuk.
“Sabar ya, sayang.” Rayyan mengecup kening Carissa lalu mengeratkan pelukannya.
Sebenarnya Rayyan dan Carissa belum terlalu lama saling mengenal. Mereka berdua bertemu secara tidak sengaja saat Rayyan sedang berlibur ke Bali tahun lalu. Saat itu Rayyan tidak sengaja menumpahkan minumannya ke kursi pantai dan mengenai topi bundar milik Carissa. Rayyan yang hendak membersihkan sisa-sisa air yang membasahi topi tersebut dipergoki oleh yang punya. Carissa mengkhawatirkan topi bundar miliknya. Tetapi saat Rayyan meminta maaf, Carissa seperti mendapatkan kesempatan emas untuk berkenalan dengan pemuda tampan itu.
Mulai dari saat itu hubungan mereka berdua perlahan semakin dekat. Kini mereka berdua sudah berpacaran. Namun tampaknya Ibu Kirana, ibu dari Rayyan, tidak terlalu suka pada Carissa setelah mengetahui latar belakangnya. Carissa adalah gadis keturunan Perancis, keluarganya juga terhitung keluarga yang mapan. Carissa tumbuh besar di Australia, hanya sampai usia 9 tahun saja dia berada di Indonesia, dia melanjutkan sekolahnya di Australia mengikuti sang ayah yang ditugaskan disana. Sepertinya Ibu Kirana berpikir jika kehidupan Carissa di Australia sangatlah bebas, jadi sampai saat ini Ibu Kirana belum memberikan izin pada Rayyan untuk melamar Carissa.
“Hmm sayang, kita makan malam dulu gimana? Aku udah lapar nih.” kata Carissa dengan nada yang dibuat sangat manja.
“Boleh, kita coba makan di restoran baru yang temanku rekomendasikan. Gimana?”
“That’s a good idea!” jawab Carissa sambil mendaratkan sebuah kecupan manis di pipi Rayyan.
Dengan menggunakan mobil milik Carissa, kini sepasang kekasih tersebut sudah sampai di sebuah restoran bergaya Jepang yang direkomendasikan oleh Kenan, sahabat Rayyan.
“Japanese food?” tanya Carissa.
“Ah, iya. Aku lupa bilang kalau restoran yang direkomendasikan itu restoran Jepang. Tapi gak apa-apa kan?”
“Okay!” Carissa tak mungkin menolak, mereka sudah sampai di restoran tersebut.
Mereka berdua memasuki restoran diiringi oleh pelayan yang akan menunjukan meja untuk mereka tempati. Carissa menggandeng lengan Rayyan dengan sangat manja. Seolah dia tak ingin ada mata wanita lain yang mencuri pandang pada kekasih tampannya tersebut.
Tiba-tiba langkah Rayyan terhenti. Rayyan menyipitkan kedua matanya melihat sepasang kekasih sedang berbincang dan tampak ceria. Mereka adalah Kenan dan Kyara.
“Kamu lihat apa sayang?” tanya Carissa.
“Disana ada temanku. Boleh aku sapa mereka dulu?” tanpa menunggu persetujuan Carissa, Rayyan langsung menghampiri meja Kenan dan Kyara.
Kyara terlebih dahulu menyadari kedatangan Rayyan dengan seorang gadis cantik. Melihat Rayyan yang berjalan mendekat ke mejanya dengan tatapan dingin membuat Kyara tiba-tiba menundukan kepalanya. Kyara sangat takut dengan tatapan Rayyan yang seperti itu.
“Kalian berdua ada disini?” sapa Rayyan tanpa berbasa-basi.
Kenan menolehkan kepalanya ke arah suara lelaki yang sangat dia kenal. Sontak kedua mata Kenan terbuka lebar melihat Rayyan sedang menggandeng seorang wanita yang dia belum kenal.
“Hei, Ray! Ngapain disini?” Kenan berdiri menyapa sahabatnya itu.
Rayyan tak menjawab pertanyaan Kenan, matanya masih menatap Kyara dingin. Carissa melihat sikap aneh sang kekasih yang menatap wanita di depannya itu tanpa berkedip. Carissa pun mulai memperhatikan Kyara dari ujung kepala hingga separuh badannya, kalau saja kaki Kyara tidak terhalangi oleh meja maka Carissa memperhatikannya sampai ujung kaki.
“Eh kok pada bengong? Kalian mau dinner juga kan? Gabung bareng kita aja satu meja!” dengan ramah Kenan mengajak Rayyan dan Carissa untuk duduk satu meja dengannya.
“Thank you, tapi kayaknya kita …” belum selesai Carissa berbicara, Rayyan memotongnya dan mengiyakan ajakan Kenan.
“Boleh juga, Ken! Lebih banyak orang bakal lebih seru kan!” kata Rayyan sambil tersenyum sinis.
Akhirnya Rayyan dan Carissa ikut duduk bersama dengan Kenan dan Kyara. Kyara sangat terlihat canggung berada di antara mereka bertiga. Lagipula mengapa juga Rayyan mengiyakan ajakan Kenan. Hal itu membuat Kyara merasa sangat tidak nyaman.
“Ray, cewek lu?” Kenan menyenggol lengan Rayyan dan melirik pada Carissa.
“Ehem, kenalin saya Carissa, pacarnya Rayyan.” Carissa mengulurkan tangannya dengan anggun pada Kenan.
“Oh hai, gue Kenan dan yang ini Kyara!” Kenan ikut memperkenalkan Kyara saat menjabat tangan Carissa.
Kyara tidak ikut menjabat tangan Carissa, dia hanya memamerkan senyumnya pada Carissa yang juga menyungingkan senyum padanya saat Kenan memperkenalkan dirinya.
Mereka pun memesan makanan yang bisa dinikmati bersama. Kebetulan sekali Kenan dan Kyara yang terlebih dahulu sampai juga belum memesan makanan untuk mereka berdua. Mereka berempat setuju memesan shabu-shabu yang bisa dinikmati bersama.
Shabu-shabu adalah jenis makanan Jepang yang berupa irisan tipis daging sapi yang dicelupkan terlebih dahulu ke dalam panci khusus berisi air panas dan di celupkan ke dalam kuah sebelum dimakan. Biasanya di dalam panci juga dimasukan sayur-sayuran dan tahu. Mereka akan disuguhkan daging mentah dan juga sayuran mentah yang akan mereka masak sendiri.
Saat menu yang mereka pesan sudah tersedia di atas meja, dengan sigap Kenan memasukan sayuran, tahu dan juga irisan daging ke dalam panci yang berisi air panas tersebut. Rayyan ikut membantu Kenan.
“Kya, ini sudah matang dagingnya.” Seru Kenan. “Sebentar sini aku celup ke sini dulu baru aaaa...” Kenan menyodorkan sumpit yang menjepit daging tersebut ke arah mulut Kyara.
“Ken aku bisa makan sendiri kok!” Kyara berusaha menolaknya dengan lembut.
“Jangan gitu, Kya. Buka mulutnya karena ini spesial untuk kamu.” Kenan tetap memaksa.
Kyara pun membuka mulutnya dan menyuap daging yang diberikan oleh Kenan. “Heemm enak Ken!” ucap dengan mata yang berbinar dan mulut yang sedang mengunyah.
“Enak kan kalau aku yang suapi! Hehehe.” Kenan terkekeh sambil mengaduk-aduk isi yang ada di dalam panci.
Sikap manis sepasang kekasih tersebut tak pernah luput dari perhatian Rayyan. Walau Carissa berusaha bersikap tak kalah manis dari Kenan tetapi pandangan Rayyan tak bisa lepas dari Kyara. Wajah Kyara yang sangat menikmati makanan tersebut dengan mata berbinar-binar membuat hati Rayyan sedikit tergelitik.
“Hihi ini beneran enak Ken. Besok kita makan disini lagi yuk!” kata Kyara pada Kenan.
“Tapi gantian kamu yang bayar ya, Kya?” goda Kenan.
“Gak masalah asal bisa makan disini lagi” jawab Kyara seraya sedikit memajukan wajahnya pada Kenan.
Rayyan terus saja memperhatikan apa yang Kyara lakukan, dan juga mencuri dengar apa yang Kyara katakan. Rayyan tak bisa fokus dengan kekasihnya yang terus bersikap manja padanya. Hati Rayyan mendadak menjadi panas melihat senyum bahagia Kyara pada Kenan. Rayyan tak suka melihat hal tersebut. Lebih tepatnya Rayyan tak suka jika Kyara tersenyum bahagia karena Kenan.
“Alhamdulillah kenyang ya, Kya!” Kenan mengelus-elus perutnya yang sedikit membuncit karena kekenyangan.
“Ya pasti kenyang, kamu makannya banyak banget Ken.” Sindir Kyara.
Kenan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Ray, gue harus anter Kyara pulang sekarang. Udah jam segini ternyata. Takut makin kemalaman.”
“Gue ikut!” seru Rayyan.
Carissa langsung mengerlingkan matanya pada Rayyan. “Kamu kan bareng aku, Ray!” keluh Carissa.
Rayyan pura-pura melihat layar ponselnya. “Sorry sayang, aku lupa ada kerjaan yang harus aku urus sama Kenan!” Rayyan mencari-cari alasan.
Kenan dan Kyara serempak mengernyitkan dahinya, namun Rayyan menyenggol lengan Kenan memberi kode agar Kenan mengiyakan perkataan Rayyan.
“Eh iya iya!” sahut Kenan.
Bibir Carissa langsung cemberut. Raut wajahnya sangat kecewa. Namun sedari awal Carissa tak pernah boleh merengek pada Rayyan jika kekasihnya itu sedang mengurusi pekerjaan. Mereka sudah pernah membicarakan tentang hal tersebut saat memutuskan untuk berpacaran.
“Okay.” Jawab Carissa dengan nada kecewa.
“Jangan cemberut gitu sayang, nanti kamu kelihatan jelek.” Rayyan mencium pucuk kepala Carissa. “Nanti aku telepon kamu!”
Kemudian Rayyan bangkit dari kursinya diikuti oleh Kenan dan Kyara. Kenan dan Kyara berpamitan pada Carissa namun Carissa menanggapinya dengan sinis. Rayyan memberi kode lagi pada Kenan agar segera mengikutinya dan meninggalkan Carissa.
Di dalam mobil Kenan tidak mau banyak bertanya pada Rayyan, dia memilih untuk menanyakannya nanti setelah mengantarkan Kyara sampai ke rumahnya. Jadi Kenan bisa dengan nyaman menanyakan tentang yang tadi pada Rayyan sebagai seorang sahabat. Karena Kenan seperti mengerti jika Rayyan tak akan menjawabnya jika masih ada Kyara di dalam mobilnya.
Mobil Kenan sudah sampai di depan rumah Kyara. Kyara pun bergegas turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumahnya. Kini tinggal kedua sahabat itu yang ada di dalam mobil. Kenan melajukan kembali mobilnya menuju ke rumah Rayyan untuk mengantarkannya pulang, sekaligus Kenan mulai bertanya-tanya pada Rayyan.
“Ray!” panggil Kenan.
“Hmm!” Rayyan menoleh ke arah Kenan.
“Lu gak pernah cerita kalau lu udah punya cewek!”
“Iya, gue emang gak cerita sama lu. Tapi nyokap udah tahu kok!” jawab Rayyan.
“Dia setuju?” tanya Kenan yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Rayyan.
“Kenapa?” lanjut Kenan bertanya.
“Gak tau, Ken!” jawab Rayyan singkat.
Seketika hening diantara kedua pemuda itu setelah Rayyan memberikan jawaban yang singkat pada Kenan. Kenan pun tak ingin lanjut bertanya. Kenan masih menghargai privasi Rayyan.
“Ken, gue boleh bilang sesuatu?” pertanyaan Rayyan mengakhiri keheningan mereka.
“Apa Ray?” Kenan masih fokus mengemudikan kendaraannya dan tidak menoleh pada Rayyan.
“Jauhin Kyara!” dengan tegas Rayyan mengatakan hal tersebut.
“Whatt??” reaksi Kenan sangat terkejut mendengar sahabatnya meminta dirinya untuk menjauhi kekasihnya.
“Lu harus jauhi Kyara! Karena gue mau dia jadi milik gue!” dengan mimik wajah yang serius Rayyan membuat pernyataan yang langsung membuat Kenan meminggirkan mobilnya.
Kenan mengencangkan cengkeramannya pada roda kemudi. Kenan pun menolehkan kepalanya pada Rayyan dan menatapnya dengan amarah.
“Maksud lu apa Ray? Lu tahu kalau Kyara itu pacar gue kan?” suara Kenan terdengar berat dengan penuh amarah.
“Gue tahu, tapi sekarang gue mau dia jadi milik gue!” jawab Rayyan.
“Gue udah pernah peringati lu sebelumnya, jangan sampai lu jatuh hati sama dia. Kyara itu milik gue Ray!” tegas Kenan seraya memukul roda kemudinya dengan tangan kanannya.
Rayyan mengerlingkan matanya tajam pada Kenan. “Oke kalau itu mau lu, Ken. Sekarang Kyara boleh jadi milik lu, tapi itu gak akan lama karena sebentar lagi gue akan ngerebut Kyara dari tangan lu Ken.” Rayyan tersenyum sinis pada Kenan.
Dengan cepat Kenan mencengkeram kerah kemeja Rayyan dan ingin mendaratkan sebuah tinju ke wajahnya. Tetapi Kenan menahan amarahnya, dan hanya mengepalkan tangannya di samping wajah Rayyan. Sedangkan Rayyan hanya tersenyum simpul menyembunyikan keterkejutannya melihat Kenan yang sedang diselimuti oleh amarah.
Apa sebegitu berartinya seorang Kyara bagi Kenan? Begitulah yang kini ada dipikiran Rayyan. Tetapi Rayyan mengakui di dalam hatinya jika dia juga mulai tertarik dengan Kyara karena sikap manis namun tetap santun saat menanggapi Kenan. Rayyan menginginkan wanita seperti Kyara. Rayyan pun merasa sangat yakin jika Kyara akan dengan mudah diterima oleh keluarganya.