Aku sedikit merasa bersalah padanya karena tidak segera memberikan jawaban atas perasaannya. Semalam juga dia sudah berbaik hati menjemput dan mengantarkanku pulang. Kenan benar-benar tulus dengan perasaannya terhadapku. Dan kini aku sudah merasa yakin dengan jawaban yang akan kuberikan padanya nanti.
Semoga jawaban yang akan kuberikan nanti tidak akan membuat Kenan kecewa padaku. Aku benar-benar berharap ini adalah jawaban terbaik untuk Kenan.
***
“Lu benar-benar serius sama cewek itu?” Rayyan berjalan menghampiri Kenan yang sedang merapihkan barang-barangnya yang tergeletak di atas meja kerjanya.
“Kyara maksud lu, Ray?” Kenan balik bertanya lalu menolehkan kepalanya pada sahabatnya itu. “Kalau gue udah bilang gue serius, itu artinya gue beneran serius!” jawabnya dengan yakin.
“Terus sekarang lu mau kemana? Tumben lu buru-buru pulang?”
Kenan menyunggingkan senyumnya. “Gue mau anterin Kyara pulang! Sekalian gue mau ajak dia mampir ngopi-ngopi dulu!” Kenan melangkahkan kakinya melewati Rayyan begitu saja.
Tiba-tiba Rayyan menarik lengan Kenan dan membuat langkahnya terhenti. Kenan membalikan tubuhnya dan mengangkat kedua alisnya seakan bertanya mengapa Rayyan menarik lengannya.
“Mending lu ikut gue! Lu bakal nemuin banyak cewek yang lebih baik dan lebih cantik daripada si Kyara.” Ajak Rayyan.
Kenan menarik lengannya agar terlepas dari genggaman Rayyan. “Gue udah pensiun bro! Gue mau serius sama satu cewek ini aja!” ditepuknya dua kali bahu Rayyan lalu Kenan kembali melanjutkan langkahnya keluar dari ruangannya.
Rayyan mengepalkan tangannya menahan rasa kesal di hatinya. Rayyan merasa tidak suka melihat Kenan bersikap seperti itu. Dia merasa diabaikan oleh sahabatnya sendiri. Karena biasanya mereka berdua sangat suka menikmati waktu yang menyenangkan bersama dengan banyak wanita di sebuah bar langganan mereka. Tetapi melihat sahabatnya sudah menemukan tambatan hatinya, Rayyan sedikit merasa irih. Rayyan merasa cemburu karena dia belum menemukan wanita yang membuatnya benar-benar jatuh hati.
***
“Kya, sudah siap pulang?” Kenan berjalan menghampiriku.
Aku mengangguk kemudian berdiri dan merapatkan kursiku ke meja. Kulihat seisi ruangan sudah mulai bisik-bisik saat Kenan menghampiriku. Bagaimana jika mereka tahu kalau Kenan sudah menyatakan perasaannya padaku? Sudah pasti jadi bahan gosip seisi kantor, tidak hanya se-divisi saja.
“Kya, coba lihat kesini!” tiba-tiba tangan Kenan menarik daguku. “Kamu pakai blush on ya, Kya? Jadi makin cantik!” Kenan memujiku sambil tersenyum hangat.
Ya Tuhan, melihat Kenan sedekat ini dan memujiku membuat jantungku seperti berlarian sambil bersorak bahagia. Aku hanya sedikit memoleskan blush on di pipiku. Tetapi aku yakin warnanya semakin memerah karena pujian Kenan tadi.
“Yuk kita pulang, Kya!” Kenan berjalan memimpin di depan dan aku membuntutinya di belakang sambil menundukan kepalaku.
Aku terus berjalan tanpa melirik sedikitpun ke sekeliling. Aku juga menulikan sementara indera pendengaranku, karena aku tak ingin mendengar bisikan karyawan yang lain tentang diriku. Berbeda dengan Kenan yang begitu santai berjalan melewati karyawan yang lain sambil menyunggingkan senyum di wajahnya. Kenan juga sempat membalas sapaan beberapa karyawan saat dia melewatinya.
Akhirnya aku dan Kenan sampai juga di parkiran. Aku bisa sedikit menghela nafas lega karena tidak ada karyawan yang akan melihat dan menjadikanku bahan gosip lagi disini.
“Kya, mobilku yang sudah sendirian disana.” Kenan menunjuk ke sebuah mobil berwarna silver yang sudah tak ada mobil lain terparkir di kiri kanannya.
Kemudian Kenan meraih dan menggenggam tanganku lalu menuntunku menuju ke mobilnya. Setelah kami sudah berdiri di sisi mobil, Kenan membukakan pintu mobil untukku.
“Makasih ya!” kataku pelan sebelum masuk ke dalam mobilnya.
“You are welcome, Kya!” Jawab Kenan.
Setelah memastikan aku sudah duduk dengan nyaman, Kenan pun menutup kembali pintu mobil lalu dia sedikit berlari memutari mobil dari bagian depan untuk masuk ke dalam mobil melalui pintu bagian kemudi.
Aroma apel sangat mendominasi di dalam mobil Kenan. Membuatku sangat nyaman. Bahkan aroma apel tersebut bisa menutupi harum parfum Kenan. Seperti lelaki kebanyakan, di dalam mobilnya tidak banyak aksesoris yang menempel atau ditempatkan di dalam mobil. Hanya saja pada bagian dashboard terdapat sesuatu berbulu berwarna abu-abu menutupi dashboard mobil tersebut.
Kenan langsung menginjak gas di kakinya dan menjalankan mobilnya. Dia akan mengantarkanku pulang. Aku duduk di sebelahnya namun pandanganku hanya lurus melihat jalan tanpa berani melirik ke arahnya. Aku sangat gugup. Detak jantungku juga sepertinya masih sulit diatur.
“Kya, kita ngopi-ngopi dulu mau?” tanya Kenan.
“Hmm ngopi-ngopi dimana?”
“Di kafe yang di perempatan jalan di depan aja gimana?”
“Boleh.” Jawabku singkat. Aku berusaha santai tetapi jantungku benar-benar tidak santai.
Kenan pun membawaku untuk ngopi-ngopi di kafe yang ada di perempatan jalan. Ngopi-ngopi yang dimaksud bukan berarti benar-benar minum kopi. Maksudnya sekedar duduk santai menikmati makan atau minum sambil berbincang menghabiskan waktu.
Sesampainya di kafe yang dimaksud, Kenan langsung memilih meja yang berada di halaman kafe tersebut. Seorang pelayan wanita datang menghampiri dan memberikan selembar menu pada kami.
“Mbak, saya pesan Ice Americano satu. Terus kamu Kyara mau pesan apa?”
“Saya Matcha Latte aja mbak.”
Pelayan wanita tersebut menuliskan pesanan yang baru saja kami sebut sambil sesekali mencuri pandang pada Kenan. Ketampanan Kenan tak bisa dipungkiri. Hampir semua wanita juga pasti akan seperti itu. Begitu juga dengan diriku yang terlalu terpesona padanya saat hari pertama bekerja.
“Kamu suka Matcha Latte?”
“Iya Ken, rasanya tuh pahit-pahit manis gitu.” Jawabku.
“Kalau aku sukanya kamu, Kyara!” Kenan mengatakan hal tersebut dengan entengnya dengan senyum yang tersungging di wajahnya.
Kedua pipiku terasa menghangat. Aku memasang senyum di wajahku seolah aku menanggapi gombalannya dengan santai. Padahal degub jantungku sudah seperti suara genderang yang bertabuh dengan cepat.
Kenan menggenggam tanganku yang sedang menganggur di atas meja. Lalu dia mulai membelai punggung tanganku dengan lembut. Tak bisa lagi aku menutupi perasaanku ini. Aku sudah sangat jatuh cinta padanya.
“Apa masih belum ada jawaban untuk aku, Kya?” tiba-tiba Kenan menanyakan jawaban atas pernyataan cintanya.
“Sudah ada.” Jawabku singkat.
“Benar sudah ada? Kalau begitu apa jawaban untukku?” kedua bola mata Kenan menatapku dengan penuh harap.
Kuhela nafas dalam dan menegakkan posisi dudukku. “Iya.” Jawabku atas pernyataan cintanya.
“Iya apa?”
“Yaa iya aku mau jadi pacar kamu!”
“Seriusan, Kya?” raut wajah Kenan tampak sangat bahagia. Senyumnya semakin mengembang dan dia semakin menggenggam tanganku dengan erat.
“Iya aku serius!” Aku juga ikut mengembangkan senyum padanya.
“Yeesss!! Thank you ya, Kya!” diciumnya punggung tanganku dengan sangat lembut.
Melihat Kenan sangat bahagia seperti itu membuatku juga merasakan hal yang sama. Semoga jawabanku ini akan mengantarkanku pada kebahagiaanku selanjutnya. Semoga pilihanku tepat, dan Kenan adalah jodoh yang mama inginkan agar bisa membuatku terus tersenyum.
Setelah hari dimana aku memberikan jawaban atas pernyataan cinta Kenan, hubunganku dengan Kenan menjadi semakin dekat. Kenan selalu mengantarkanku pulang jika dia sedang tidak ada kesibukan di kantor. Kenan juga tak ingin menutupi hubungan kami dari karyawan lainnya. Bahkan dia bisa terang-terangan mengatakan “I love you” dan mengelus kepalaku seperti anak kecil walaupun aku tidak sedang sendiri.
Tetapi untuk masalah pekerjaan kami berdua sudah sepakat harus saling bersikap professional. Jika aku melakukan kesalahan maka Kenan akan menegurku dengan tegas. Tak ada kata staff spesial untukku. Kedudukanku dalam pekerjaan masih sama seperti sebelumnya. Hanya kedudukanku di hati Kenan saja yang sudah berubah.
Sore ini aku pulang tidak hanya bersama dengan Kenan, tetapi juga dengan sahabat baiknya, Rayyan, yang juga adalah atasanku.
“Ray, lu mau kita mampir kemana dulu sih?” tanya Kenan pada sahabatnya yang duduk di sebelahnya.
“Udah lu lurus aja terus, nanti ada lampu merah di depan sana lu belok kiri!” titah lelaki yang masih terus bersikap seperti seorang bos walaupun sudah di luar jam kerja.
Aku yang duduk di kursi belakang hanya bisa diam melihat Kenan yang diperlakukan seperti supir pribadi Rayyan. Setelah berpacaran dengan Kenan memang beberapa kali Rayyan ikut pulang bersama kami. Bahkan aku juga sudah berani memanggilnya tanpa sebutan ‘Pak’ lagi jika sudah diluar jam kerja. Itu juga Rayyan yang meminta sebelumnya. Tetapi rasanya akan sulit untukku menjalin hubungan baik dengan Rayyan. Aura dan sikapnya sangat menakutkan.
“Udah belok kiri nih, terus gue kemana lagi?” tanya Kenan yang masih fokus mengendarai mobilnya.
“Nah nanti lu berenti di rumah yang pagar hitam tinggi itu.” Rayyan menunjuk ke ujung jalan yang terdapat sebuah rumah mewah dengan pagar berwarna hitam.
“Rumah siapa itu, Ray? Kayaknya gue gak pernah tahu ada sodara lu di daerah sini.” Kenan bertanya dengan heran.
“Udah lu anterin gue aja! Gak usah bawel, Ken!” jawab Rayyan dengan ketus.
Sepertinya Kenan sudah terbiasa dengan sikap sahabatnya itu. Kenan masih bersikap biasa saja walau Rayyan sudah berbicara ketus seperti itu.
Kenan menghentikan mobilnya di sebuah rumah mewah yang ditunjuk Rayyan tadi. Kemudian Rayyan menepuk bahu Kenan pelan lalu membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Kenan. Kulihat Rayyan langsung bergegas masuk ke dalam rumah mewah tersebut. Seorang satpam sempat menghentikan langkahnya seperti menanyakan sesuatu, namun kemudian satpam tersebut mempersilahkan Rayyan untuk masuk ke dalam.
“Kya!” Kenan memanggilku. “Sini pindah duduk di depan nemenin aku!” Kenan menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.
Aku pun menuruti permintaan kekasihku itu dengan senang hati. Saat aku sudah duduk di sebelahnya, Kenan langsung meraih tanganku dan menciumnya dengan lembut. Lalu Kenan tersenyum padaku setelahnya.
“Kamu masih malu-malu ya, Kya?” tanya Kenan seraya membelai kepalaku.
“Iya, sedikit.” Jawabku malu-malu.
“Coba sini aku lihat mukanya!”
Kenan menarik daguku agar aku melihat ke arahnya. Dia menatap dalam ke kedua mataku lalu mendekatkan wajahnya perlahan. Kenan mendaratkan sebuah ciuman di bibirku dengan sangat lembut. Melumatnya juga penuh kelembutan hingga aku hanya bisa memejamkan mataku. Seketika tubuhku seperti tersengat aliran listrik. Bibir Kenan terasa sangat hangat dan lembut. Hembusan nafasnya yang hangat bisa kurasakan di wajahku.
Kenan menjauhkan wajahnya dan menatapku dengan mata berbinar. “Ini ciuman pertama kamu ya, Kya?” tanyanya dengan suara pelan.
Aku menganggukan kepalaku dan merapatkan bibirku sehingga membentuk sebuah garis. Kenan tersenyum. Lalu tangannya menarik tengkukku dan mendekatkannya lagi ke wajahnya. Dia kembali mencium bibirku. Namun kali ini hanya menciumnya secepat kilat.
“Kya, I love you..” katanya setelah selesai mencicipi bibirku.
Aku menundukan kepalaku dan tersenyum. “Love you too..” jawabku dengan suara pelan.
“Apa Kya? Aku gak dengar, soalnya suara kamu kecil banget!” Kenan mulai menggodaku.
“Love you too..” suaraku bukannya terdengar lebih kencang malah terdengar semakin pelan.
Kenan mendekatkan wajahnya ke telingaku. “You are mine, Kya..” bisiknya di telinga.
Dalam sekejap wajah dan telingaku memerah karena bisikannya. Aku benar-benar mencintai lelaki ini. Aku benar-benar mencintai Kenan.
Aku dan Kenan tidak tahu jika ada sepasang mata yang memperhatikan mobil Kenan dari dalam rumah mewah yang dimasuki Rayyan tadi. Pemilik sepasang mata itu mulai menerka-nerka mengapa mobil tersebut belum juga pergi. Dan pemilik sepasang mata itu yang nantinya akan menjadi awal dari ketidak bahagiaan hidupku.