“Maksud Pak Rayyan apa?” tanyaku kesal.
“Kamu, wanita biasa saja, tidak terlalu cantik dan sepertinya bukan dari kalangan atas seperti kami. Lalu apa istimewanya kamu? Huh?” Pak Rayyan kemudian mengdengkus setelah menyelesaikan kalimatnya.
Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya menetes juga dan membasahi pipiku. Kuseka air mata yang menetes itu dengan jemariku. Kutarik nafas agak dalam dan menghembuskannya perlahan agar aku bisa mengontrol emosiku.
Dari pantulan kaca jendela terlihat Pak Rayyan sedang menatapku dengan raut wajah bersalahnya. Aku pura-pura tidak mengetahuinya dan memejamkan mataku. Kuharap Kenan segera datang dan bisa membawaku pergi menjauh dari lelaki yang sudah menyakiti perasaanku ini. Membawaku pergi dari lelaki yang aku benci ini.
***
Hari terakhir bekerja di minggu ini. Aku benar-benar menantikannya. Baru seminggu bekerja tetapi rasanya cukup melelahkan. Tetapi beruntungnya aku hari ini tidak banyak tugas yang harus aku kerjakan, jadi aku bisa sedikit beristirahat.
Di ruangan Pak Rayyan sedang ada tamu seorang wanita paruh baya. Aku tidak mengenalnya. Tetapi saat wanita tersebut datang tadi semua staff di ruangan ini terlihat menunduk hormat padanya. Sempat aku bertanya pada Mbak Astrid, dia hanya menjawab jika wanita tersebut bernama Ibu Kirana. Aku tidak menanyakan lebih lanjut tentang siapa sebenarnya ibu Kirana ini. Yang bisa kutebak, dia pasti orang yang sangat dihormati, mungkin salah satu klien penting atau malah salah satu orang yang memiliki jabatan penting di perusahaan ini.
“Itu cewek yang pakai kemeja merah muda staff baru di sini, Ray?” wanita yang disebut Ibu Kirana sedang berbincang dengan Pak Rayyan di dalam ruangannya sambil membolak balikan berkas yang ada di tangannya.
“Iya, Ma.” jawab Pak Rayyan.
Ternyata Ibu Kirana adalah ibu kandung dari Pak Rayyan. Aku masih belum mengetahui apa-apa tentang hal itu. Juga belum mengetahui siapa sebenarnya Pak Rayyan.
“Manis ya, Ray. Kalau dipoles make up pasti banyak yang tertarik sama dia.” celetuk Ibu Kirana sambil menyunggingkan senyum di wajahnya.
“Gak perlu dipoles juga si Kenan sudah tertarik sama dia!” Jawab Pak Rayyan.
“Kenan? Jadi Kenan tertarik sama staff baru itu? Siapa namanya?” Ibu Kirana sampai mengangkat kepalanya cepat menatap wajah sang Putra.
“Namanya Kyara! Bahkan semalam Kenan mau menjemput Kyara dan nganterin si Kyara pulang!”
Raut wajah Ibu Kirana langsung berubah excited mendengar cerita putranya itu. “Berarti Kyara itu istimewa, Ray! Buktinya si Kenan saja sampai segitunya sama dia!”
“Istimewa? Biasa aja ah, Ma! Emang si Kenan aja kayaknya bosen sama cewek-cewek manja di luar sana.” Pak Rayyan tidak menyetujui apa yang dikatakan oleh Ibu Kirana. Rayyan masih belum menemukan sisi istimewa dari seorang Kyara.
“Hmm mama jadi penasaran deh Ray sama si Kyara itu. Lagipula selama ini kan seleranya Kenan lebih bagus daripada kamu.” Ujar Ibu Kirana seraya melanjutkan kegiatannya membaca berkas-berkas yang sudah dipegangnya.
“Kamu jangan sampai menyesal loh Ray kalau nanti Kenan benar-benar bisa dapatin hatinya Kyara. Hihihi” tambah Ibu Kirana sambil terkekeh.
Pak Rayyan hanya mengernyitkan dahinya mendengar perkataan sang mama yang lebih membela Kenan. Namun di dalam lubuk hatinya, mulai timbul rasa penasaran ingin mencari tahu apa istimewanya seorang staff baru yang bernama Kyara. Sampai-sampai sahabatnya, Kenan, dan juga sang mama tertarik dengannya.
***
Dari pintu masuk kulihat Mbak Astrid berjalan berdampingan dengan seorang lelaki dewasa bertubuh tinggi tegap. Lelaki tersebut mengenakan kemeja lengan panjang berwarna merah marun yang dilipat bagian lengannya. Cara berpakaiannya sedikit mirip dengan Pak Rayyan. Dilihat dari wajahnya, mungkin lelaki tersebut berusia lebih dewasa dari Pak Rayyan.
“Pak Raska, kenalkan ini Kyara staff baru disini.” Mbak Astrid memperkenalkan diriku pada lelaki yang dia panggil Pak Raska tersebut.
Aku bangkit dari kursiku lalu mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diriku secara langsung padanya. “Siang Pak, saya Kyara!”
Pak Raska menyambut uluran tanganku. “Saya Raska. Salam kenal Kyara. Semoga kamu betah ya disini!” katanya dengan sedikit menunjukan senyum hangatnya.
“Nah Kyara, Pak Raska ini salah satu orang yang akan menjadi penerus perusahaan ini.” jelas Mbak Astrid. “Dia ini anak pertama dari pemilik perusahaan ini. Pak Barra Narendra.” Lanjutnya.
“Yap! Nama saya Raska Putra Narendra, putra pertama dari Barra Narendra yang nanti jadi penerus di perusahaan ini.” dengan bangga lelaki itu memperkenalkan dirinya sebagai penerus perusahaan.
Aku sedikit terkesima dengan raut wajah Pak Raska. Sepertinya mirip dengan seseorang yang aku kenal. Wajahnya sangat tak asing bagiku.
“Mas Raska udah datang?” terdengar suara Pak Rayyan memanggil Pak Raska.
Kami bertiga langsung menoleh ke arah Pak Rayyan dan melihatnya sedang berjalan menghampiri kami. Sepertinya Pak Rayyan cukup dekat dengan Pak Raska sampai memanggilnya dengan sebutan Mas. Tetapi hal itu bisa saja terjadi mengingat Pak Rayyan adalah penanggung jawab di divisiku. Manager Purchasing.
“Baru aja sampai Ray. Mama dimana?” tanya Pak Raska pada Pak Rayyan.
“Mama ada di ruanganku Mas. Ayo kita kedalam!” Pak Rayyan mengajak Pak Raska ke ruangannya.
“Oke, Ray! Hmm Astrid, Kyara, saya masuk ke ruangan Rayyan dulu ya. Permisi.” Pak Raska berpamitan padaku dan juga mbak Astrid.
Aku mulai bingung dengan percakapan kedua lelaki barusan. Mas? Mama? Sebenarnya ada hubungan apa antara kedua lelaki itu. Rasa penasaran akhirnya membuatku menanyakan hal tersebut pada Mbak Astrid yang hendak kembali ke tempatnya.
“Mbak! Pak Raska sama Pak Rayyan tuh punya hubungan apa sih? Kok kayaknya dekat banget.” Tanyaku.
Mbak Astrid mengangkat kedua alisnya lalu sedikit memajukan wajahnya menatapku heran. “Kamu gak tau Kyara?”
“Tahu apa Mbak?” tanyaku bingung.
“Pak Raska itu kakaknya Pak Rayyan. Nahh Ibu Kirana yang di dalam itu ya ibunya mereka! Nama lengkap Pak Rayyan kan Rayyan Putra Narendra! Pak Rayyan juga salah satu penerus perusahaan ini, Kya.” Jelas Mbak Astrid.
“HAH?? Apa Mbak? Putra Narendra?” sungguh aku terkejut. Ternyata Pak Rayyan adalah salah satu penerus perusahaan tempatku bekerja ini. Dan aku baru mengetahuinya sekarang. Benar-benar sangat memalukan. Aku bekerja di perusahaan ini tetapi sama sekali tidak tahu siapa pemilik dan penerus perusahaan ini.
“Iya, Kyara! Putra Narendra! Jadi selama ini kamu gak tahu nama lengkap atasan kamu?”
Aku pun menggelengkan kepala dengan cepat. Aku sama sekali tidak tahu nama lengkap Pak Rayyan, apalagi hubungannya dengan perusahaan ini. Sama sekali tidak ada rasa ketertarikanku untuk mencari tahu hal itu sedari awal.
“Makanya kamu harus baik-baik sama Pak Rayyan. Sedikit cari muka juga gak apa-apa Kya. Karena kalau dia udah gak suka, nanti bisa-bisa dia ngedepak kita dari perusahaan.” Mbak Astrid memberi peringatan dengan suara berbisik. Lalu dia melangkah pergi kembali ke tempatnya.
Aku hanya mengangguk pelan mengiyakan peringatan Mbak Astrid tadi. Kembali terbayang olehku wajah marah Pak Rayyan lengkap dengan kedua tanduk kecil di kepalanya. Menakutkan. Kugelengkan kembali kepalaku dengan cepat untuk mengusir bayangan tentang Pak Rayyan yang bertanduk dari pikiranku.
“Kamu kenapa Kya?” tiba-tiba Kenan datang menepuk pundakku dan membuatku sedikit terkejut.
“Duhh Pak Kenan hobi banget kayaknya ngagetin saya!” kataku sambil terduduk lemas di kursi.
“Maaf kalau aku ngagetin kamu. Aku cuma mau ajak kamu pulang bareng sore ini. Gak ada jadwal ketemu klien lagi kan?”
“Hmm gak ada sih. Yaudah kalau gitu.” Jawabku berbisik karena takut ada yang mendengarnya.
“Kya, kamu sudah pikirin jawaban untukku?”
“Belum” jawabku sambil tertunduk.
“Ya sudah gak apa-apa! Aku tetap tunggu jawaban kamu!” Kenan tersenyum lalu melangkah kembali ke ruangannya.
Aku sedikit merasa bersalah padanya karena tidak segera memberikan jawaban atas perasaannya. Semalam juga dia sudah berbaik hati menjemput dan mengantarkanku pulang. Kenan benar-benar tulus dengan perasaannya terhadapku. Dan kini aku sudah merasa yakin dengan jawaban yang akan kuberikan padanya nanti.
Semoga jawaban yang akan kuberikan nanti tidak akan membuat Kenan kecewa padaku. Aku benar-benar berharap ini adalah jawaban terbaik untuk Kenan.