“Kyara, sepulang kerja nanti tolong ikut saya makan malam dengan klien.” Pinta Pak Rayyan.
“Baik, Pak.” Jawabku.
Setelah itu Pak Rayyan kembali ke dalam ruangannya. Aku pun kembali melanjutkan pekerjaanku.
Waktu bergulir dengan cepat. Tak terasa jam pulang kantor pun tiba. Kenan keluar dari ruangannya dan berjalan menghampiriku.
“Kya, rumah kamu dimana? Aku antar pulang ya!” kata Kenan.
Aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaanku langsung mengernyitkan dahi bingung dengan tawarannya. Kulihat jam yang ada di layar komputer. Waktu sudah menunjukan pukul 17:10 WIB.
“Loh, udah jam pulang kantor ya Pak?” tanyaku pada Kenan yang berdiri di sampingku.
“Iya, Kya! Kamu sibuk banget sampai lupa waktu gitu.” Lagi-lagi Kenan mengelus kepalaku dengan lembut. Membuat pipiku bersemu kemerahan hanya dengan satu sentuhan lembut di kepalaku.
“Yaudah kamu beres-beres deh! Rapihin meja kamu, barang-barang kamu. Aku tunggu kamu di parkiran ya!” titah Kenan. Kemudian dia pergi terlebih dahulu keluar dari ruangan.
Kurapihkan mejaku sesuai perintah Kenan. Setelah merasa sudah cukup rapih, aku pun meraih slingbag berwarna ungu muda milikku yang kusangkutkan di kursi. Lalu aku bersiap untuk menyusul Kenan ke parkiran.
“Kyara! Mau kemana kamu?” tiba-tiba terdengar suara Pak Rayyan memanggilku.
Aku membalikan tubuhku dan melihat Pak Rayyan yang juga sudah membawa tas kerjanya. “Pak, saya pamit pulang ya!” sedikit kubungkukan tubuhku sebagai tanda hormat padanya karena dia adalah atasanku.
“Apa kamu bilang? Pulang?” tanya Pak Rayyan dengan mengernyitkan dahi.
“Iya, Pak. Kan sudah jam pulang kantor.” Jawabku dengan santai.
“Kamu lupa kalau malam ini kita ada jadwal makan malam dengan klien? Saya sudah beritahu kamu tadi bukan?” Pak Rayyan mengingatkanku.
Tangan kananku langsung menepuk dahiku sedikit kencang. Sungguh aku benar-benar lupa jika tadi Pak Rayyan memberitahu kalau ada jadwal makan malam dengan klien.
“Maaf Pak saya lupa!” aku meminta maaf sambil membungkukan kembali tubuhku.
Saat tubuhku sudah kembali tegak, kulihat raut wajah Pak Rayyan yang sangat kesal karena aku melupakan jadwal makan malam bersama klien malam ini. Langsung kutundukan pandanganku karena tak berani melihat wajah Pak Rayyan yang sedang kesal. Teringat kembali mimpi burukku tentang Pak Rayyan yang bertanduk saat dia marah. Maka semakin takut aku untuk bisa menatap wajahnya.
“Yasudah, cepat ikut saya ke lobi. Mobil saya sudah ada disana.” Titah Pak Rayyan.
“Baik, Pak!” jawabku cepat. “Eh, tapi ada yang saya lupa lagi!” sontak aku teringat dengan Kenan yang sedang menungguku di parkiran.
“Apa lagi?” tanya Pak Rayyan.
“Ehmm gini Pak, boleh saya minta nomornya Pak Kenan?” kuberanikan diri meminta nomor telepon Kenan pada Pak Rayyan. Aku masih staff baru disini, dan bodohnya aku tidak memegang satu pun kontak telepon orang-orang yang bekerja di divisiku ini.
“Kenan?” alis kiri Pak Rayyan terangkat dan dia memberikan tatapan heran mengapa aku meminta nomor Kenan.
“Iya, Pak! Saya boleh minta nomor Pak Kenan? Saya ada urusan sebentar sama dia.”
Masih dengan wajah herannya Pak Rayyan mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Digesernya layar ponsel tersebut mencari kontak Kenan. Setelah itu Pak Rayyan menunjukan nomor Kenan padaku agar aku mencatatnya sendiri.
“Sebentar ya Pak saya mau telepon Pak Kenan dulu.” Aku pun meminta izin untuk menelepon Kenan. Aku berpindah tempat sedikit menjauh dari Pak Rayyan agar dia tidak bisa mendengar apa yang aku bicarakan.
Tuuutt.. Tuuutt.. “Halo?” suara Kenan menjawab panggilan teleponku.
“Halo, Pak Kenan ini Kyara.”
“Kyara? Oh iya Kya kamu dimana?” Kenan menanyakan keberadaanku.
“Maaf Pak, begini saya ada …”
“Ini sudah jam pulang kantor, jadi gak usah pakai Pak ya Kya! Panggil saya Kenan saja!” pinta Kenan menyela kalimatku.
“Oh, iya ya! Maaf saya lupa Pak! Eh Kenan!” sebenarnya aku masih sangat sulit hanya untuk memanggil namanya tanpa embel-embel Pak. Aku masih sangat tidak terbiasa.
“Gak apa-apa Kya, tolong dibiasakan ya! Walaupun di jam kantor sekali pun tetapi kalau kita sedang berdua kamu tetap panggil saya Kenan saja ya!” ujarnya.
“Iya akan saya usahakan. Ehm.. begini Kenan, saya lupa kalau hari ini sepulang kantor saya ada jadwal menemani Pak Rayyan makan malam dengan klien. Saya benar-benar lupa.”
“Ohh begitu! Jadi kita gak bisa pulang bareng?” suara Kenan di seberang telepon sana terdengar sedikit kecewa.
“Iya, Kenan. Maaf ya!”
“Oke gak masalah, Kya. Atau nanti selesainya kamu makan malam dengan klien biar aku jemput. Tolong share lokasinya ya! Ingat, jangan nolak! Pasti udah malam banget pas kamu pulang nanti. Oke?” Kenan sedikit mendesakku agar aku mau dijemput olehnya. Hatiku berbisik senang. Lelaki itu sepertinya benar-benar serius padaku.
“Iya. Nanti saya share lokasinya. Sudah dulu ya, daahh.” Aku mengakhiri panggilan teleponku dengan pipi yang merona.
Tanpa kuketahui ternyata Pak Rayyan menguping pembicaraanku. Dia menatapku intens dengan tatapan matanya yang tajam. Aku menolehkan kepalaku padanya, dan jelas sekali terlihat raut wajah kesal terpampang di wajahnya. Aku pun menundukan kembali pandanganku karena takut dengan Pak Rayyan.
“Sudah teleponnya?” tanya Pak Rayyan dengan nada kesal. Mungkin dia merasa kesal karena harus menungguku menelepon Kenan.
“Sudah Pak.”
“Kalau gitu ayo jalan sekarang!” Pak Rayyan memimpin langkah di depan dan aku membuntutinya di belakang.
Entah kenapa tiba-tiba perasaanku menjadi tidak nyaman saat bersama dengan Pak Rayyan. Auranya benar-benar menakutkan. Tidak seperti saat aku sedang bersama dengan Kenan. Aku merasa nyaman walau sesekali debaran jantungku tak terkendali karena sikap manisnya. Sepertinya Kenan benar-benar membuatku terpesona, atau mungkin malah aku sudah benar-benar jatuh hati.
***
Makan malam dengan klien berjalan mulus. Aku sebagai staff baru banyak belajar dari pertemuan malam ini. Pak Rayyan benar-benar sangat membantuku dan juga banyak mengajariku hal-hal baru.
Ada hal baru yang kulihat dari Pak Rayyan. Dia sangat ramah saat menjamu kliennya. Senyum hangat selalu melekat di wajahnya saat sedang berbincang dengan klien. Bahkan dia juga memperlakukanku seperti partner kerjanya, tidak sebagai staff baru atau bawahannya.
Tetapi semua itu luntur seketika saat kami sudah berada di dalam mobil untuk pulang. Wajahnya kembali dingin, begitu juga dengan sikapnya. Aku dan Pak Rayyan duduk di kursi penumpang di belakang supir. Kami duduk bersebelahan, namun sampai setengah perjalanan kami sama sekali tidak saling menegur. Pak Rayyan begitu sibuk dengan tabletnya. Dan aku sibuk mengatur degub jantungku agar dia berdetak dengan teratur.
“Pak, ini sepertinya di depan ada kecelakaan makanya jadi macet panjang gini Pak.” Kata pak supir memberi info pada Pak Rayyan.
Pak Rayyan tidak menjawab sepatah kata pun. Dia tetap fokus dengan tabletnya, dengan pekerjaannya. Aku sedikit memiringkan kepalaku agar bisa melihat ke kaca mobil bagian depan. Kulihat kemacetan sudah mengular panjang. Beberapa pengendara juga ada yang keluar dari dalam mobil, dan beberapa pengendara motor memaksa memutar balik kendaraan bermotornya dan mencari jalan lain.
“Kira-kira kecelakaan kenapa ya, Pak?” tanyaku pada pak supir.
“Kurang tahu Bu, mungkin ada tabrakan di depan sana.” Jawab pak supir menebak-nebak.
Aku pun hanya bisa menghela nafas karena merasa sangat lelah. Aku ingin cepat sampai di rumah. Namun aku masih harus bersabar menunggu kemacetan ini berakhir.
“Kalau mau cepat pulang, kamu bisa telepon Kenan untuk jemput kamu pakai motor. Kalau pakai motor kan masih bisa putar arah.” Tiba-tiba Pak Rayyan melontarkan kalimat yang membuatku sedikit terkejut.
“Kamu ada nomor Kenan kan? Atau perlu saya yang telepon?” Pak Rayyan melirik ke arahku menawarkan bantuannya.
Aku menggelengkan kepala menolak tawarannya. “Gak usah pak, makasih. Saya juga gak mungkin minta jemput Kenan malam-malam gini. Nanti bisa jadi salah paham.”
“Tadi kamu panggil dia siapa? Kenan?” reaksi terkejut Pak Rayyan saat aku hanya memanggil nama Kenan tanpa ada kata ‘Pak’ di depannya.
“Iya, Pak. Maaf saya keceplosan. Pak Kenan yang minta seperti itu.” jelasku.
Pak Rayyan hanya mengangguk pelan lalu meletakkan tablet yang sedari tadi dipegangnya ke dalam tas kerjany. Kemudian dia menarik ujung bibirnya sehingga membentuk sebuah senyuman di wajah tampannya.
“Sepertinya Kenan benar-benar serius sama kamu.” Ujar Pak Rayyan. “Lalu kamu sendiri gimana?” lanjut dia bertanya.
“Gimana apanya Pak?” balik aku bertanya karena tak mengerti apa yang sebenarnya dia maksudkan.
“Jangan panggil saya ‘Pak’, sama seperti Kenan kamu bisa panggil saya Rayyan.” Pintanya.
“Kalau itu gak mungkin Pak! Pak Rayyan kan bos saya!” kataku menolak permintaannya.
Kemudian Pak Rayyan mendekatkan wajahnya padaku dan tersenyum miring. “Apanya yang tidak mungkin? Kalau Kenan saja bisa, lalu kenapa saya tidak?” Dia bertanya dengan nada suara berat. Matanya menatap tajam ke dalam mataku. Dan lagi aku tak berani melihat tatapannya tersebut.
“Jika kita sedang berdua, atau diluar pekerjaan, panggil saya dengan nama saya.” Kembali Pak Rayyan memintaku memanggil namanya.
“Tapi kan Pak …” tiba-tiba Pak Rayyan mengecup kilat pipi kananku dan membuatku tak sanggup melanjutkan kalimatku.
“Panggil saya Rayyan!” titahnya.
Aku pun mendorong d**a Pak Rayyan setelah dia mengecup pipiku. Aku sangat terkejut dengan tindakan tiba-tiba darinya. Tetapi kulihat dirinya malah tersenyum sinis saat aku mendorongnya.
“Aku penasaran apa istimewanya kamu sampai-sampai Kenan serius tentang perasaannya sama kamu.” Kalimat yang keluar selanjutnya dari mulut lelaki yang duduk di sampingku membuat hatiku terasa sedikit nyeri.
“Maksud Pak Rayyan apa?” tanyaku kesal.
“Kamu, wanita biasa saja, tidak terlalu cantik dan sepertinya bukan dari kalangan atas seperti kami. Lalu apa istimewanya kamu? Huh?” Pak Rayyan kemudian mengdengkus setelah menyelesaikan kalimatnya.
Hatiku terasa lebih sakit seperti diiris-iris saat mendengar apa yang dikatakannya. Aku tidak membalas perkataannya. Aku hanya menahan rasa sakit di hatiku dalam diam. Mataku sudah mulai berlinang dan sekali lagi Pak Rayyan mengatakan sesuatu yang buruk maka air mata ini akan mengalir dengan deras membasahi wajahku.
Aku memalingkan wajahku dari Pak Rayyan. Melihat kemacetan di luar jendela mobil lebih baik daripada harus melihat Pak Rayyan yang tampan namun sangat tak punya perasaan. Pantulan wajahku di kaca jendela terlihat sangat jelas aku sedang menahan tangisku. Muram. Kesal. Sedih. Semua itu sudah menjadi satu. Aku membencinya. Aku benci lelaki ini.
“Ken! Lu dimana?” kudengar Pak Rayyan berbicara di telepon dengan Kenan. Aku tak mau menoleh ke arahnya dan membiarkannya saja.
“Lu ke jalan xxxx cepetan ya! Anterin si Kyara pulang. Disini macet total, mobil gue gak bisa muter balik. Lu gak usah pakai mobil, pakai motor aja biar gampang muter baliknya. Okay?” lalu kudengar Pak Rayyan mengakhiri panggilan teleponnya.
“Sebentar lagi Kenan datang, kamu pulang saja sama dia!” katanya padaku setelah mengakhiri panggilan teleponnya dengan Kenan.
“Baik, Pak.” Jawabku pelan dengan suara bergetar.
Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya menetes juga dan membasahi pipiku. Kuseka air mata yang menetes itu dengan jemariku. Kutarik nafas agak dalam dan menghembuskannya perlahan agar aku bisa mengontrol emosiku.
Dari pantulan kaca jendela terlihat Pak Rayyan sedang menatapku dengan raut wajah bersalahnya. Aku pura-pura tidak mengetahuinya dan memejamkan mataku. Kuharap Kenan segera datang dan bisa membawaku pergi menjauh dari lelaki yang sudah menyakiti perasaanku ini. Membawaku pergi dari lelaki yang aku benci ini.