Enam - Mimpi Indah

1770 Words
Langkah kakiku terhenti tepat di depan pintu ruangan Pak Rayyan. Kutarik nafas dalam lalu kuhembuskan sedikit kasar. Aku mencoba mengatur degub jantungku yang berdetak tidak beraturan. Gara-gara mimpi kemarin siang kini aku jadi takut untuk menemui bosku ini. Ditambah lagi saat menerima panggilan teleponnya kemarin aku sampai berteriak karena terkejut ditelepon langsung olehnya. “Kyara? Ini saya Rayyan.” “PAK RAYYAN?” sontak aku meneriakan namanya karena terkejut. “Berisik sekali kamu! Gak perlu pakai teriak segala bisa kan?” tegas Pak Rayyan. “Anu.. maaf Pak. Saya kaget bapak telepon saya.” Kupukul pelan kepalaku karena reaksi terkejutku tadi. “Besok sudah bisa masuk?” “Hmm sudah bisa sepertinya Pak.” Jawabku sedikit ragu. “Baik kalau begitu besok temui saya di ruangan saya.” Titahnya. “Iya baik, Pak!” jawabku. Setelah itu Pak Rayyan langsung mengakhiri panggilan teleponnya. Mengingat hal tersebut membuat nyaliku kembali ciut. Aku semakin takut mimpiku kemarin siang menjadi kenyataan. Aku takut jika Pak Rayyan akan memecatku karena sudah absen di hari ketigaku bekerja. “Kya! Kamu ngapain bengong di depan pintu ruangan Rayyan?” Pak Kenan menepuk bahuku dan membuatku kembali terkejut hingga ingin meloncat. “Huuff! Pak Kenan ngagetin saya aja sih, Pak!” kataku sambil mengelus d**a. “Hahaha masa gitu aja kamu kaget sih, Kya!” Dia tertawa melihat reaksi terkejutku. “Lagian kamu kenapa bengong aja disitu? Kamu mau masuk ke ruangan Rayyan?” “Iya, Pak. Saya mau ke masuk tapi …” Pak Kenan mengernyitkan dahinya. “Tapi kenapa?” tanyanya. “Tapi saya takut, Pak.” Jawabku. “Hahahaha kamu tuh lucu banget sih, Kya! Kamu takut sama Rayyan? Emang Rayyan mukanya seram?” Pak Kenan tertawa saat mendengar jawabanku. Wajahnya saat tertawa makin terlihat tampan. Membuat pikiranku hampir oleng dibuatnya. Kugelengkan kepalaku untuk menjernihkan pikiranku. Jangan sampai aku terpesona lagi oleh pesona Pak Kenan. “Serius, Pak! Saya mau ke dalam tapi saya takut dimarahin karena kemarin saya absen.” “Oohh jadi takut karena itu! Saya kira kamu takut sama mukanya si Rayyan! Hahaha!” Tiba-tiba tangan Pak Kenan membelai kepalaku seperti dia sedang membelai anak kecil. Hal tersebut membuat mataku terbelalak dan tubuhku membeku. Kenapa tiba-tiba dia menjadi begitu lembut padaku? “Yaudah sini saya bukakan pintunya, kamu gak perlu takut ya!” sambil tersenyum lembut Pak Kenan membukakan pintu untukku. Kemudian dia mempersilahkanku untuk masuk ke dalam ruangan Pak Kenan. Tubuhku masih kaku, membeku. Kakiku juga terasa sangat sulit untuk diajak melangkah. Apalagi jantung ini semakin berdetak tak beraturan karena sikap Pak Kenan barusan. “Kok malah bengong lagi sih, Kya?” suara berat namun lembut yang keluar dari mulut Pak Kenan malah membuat wajahku bersemu malu. “Mau saya tuntun ke dalam?” godanya. “Enggak Pak gak usah! Saya bisa sendiri kok.” jawabku kikuk dan malu. Sepertinya terlihat dengan jelas wajahku yang bersemu kemerahan ini. “Pada ngapain di depan pintu? Kalau mau pacaran jangan di depan pintu ruangan saya!” dari dalam ruangan Pak Rayyan berseru. “Hahaha santai Ray! Gue cuma bukain pintu aja buat Kyara. Gue balik kerja ya!” pamit Pak Kenan. Lalu dia mendorong pelan punggungku agar aku masuk ke dalam ruangan Pak Rayyan kemudian dia menutup kembali pintu ruangannya. Kini aku sudah berada di dalam ruangan Pak Rayyan, hanya berdua saja dengan beliau. Kulihat Pak Rayyan sedang sangat sibuk dengan laptop yang ada di atas mejanya. Dia tahu aku sudah ada di ruangannya tetapi dia masih saja cuek dan tidak mepersilahkanku untuk duduk. “Permisi, Pak.” Kataku seraya berjalan mendekati meja kerja Pak Rayyan. Lelaki itu tidak merespon sama sekali. Pandangannya tidak berpaling dari  laptop berwarna silver miliknya itu. Sepertinya dia sedang sangat sibuk hari ini. “Pak! Kemarin bapak meminta saya datang ke ruangan bapak kalau saya masuk kantor. Ada apa Pak?” dengan sopan aku menanyakan hal tersebut pada Pak Rayyan. “Duduk dulu disitu! Sebentar lagi saya selesai.” jawabnya. Aku hanya mengangguk dan menuruti perintahnya. Aku duduk di kursi yang berhadapan dengannya dan terpisah oleh meja kerjanya. Kutatap wajah serius Pak Rayyan saat fokus dengan laptopnya. Hidungnya mancung. Alisnya juga tebal. Iris matanya yang berwarna cokelat terang sangat cocok dengan kulitnya yang juga kecokelatan. Sama seperti Pak Kenan, Pak Rayyan juga memiliki janggut tipis di sekitar dagu dan pipinya yang juga terhubung dengan kumis tipisnya. Tetapi kulit kecokelatan Pak Rayyan membuatnya tampak semakin sempurna. “Ada yang aneh di wajah saya?” ternyata Pak Rayyan menyadari jika aku memperhatikannya sedari tadi. Kugelengkan kepalaku dengan mantap. “Enggak Pak.” Pak Rayyan mengerlingkan matanya tajam padaku. “Lalu kenapa kamu ngelihat saya sampai segitunya?” tanyanya dengan sinis. “Maaf Pak” jawabku sambil menundukan kepala. “Kamu sudah sehat?” Pak Rayyan menanyakan kondisiku. “Iya, Pak Alhamdulillah” “Kamu benar sakit atau hanya menghindari dari saya?” “Maksudnya Pak?” aku dibuat bingung oleh pertanyaannya. “Tidak apa-apa.” Elaknya. “Oh iya Kyara, mulai hari ini kamu sudah akan diberi tugas dan kamu harus bisa mandiri untuk mengerjakannya. Kenan sudah saya pindahakan ruangannya ke ruangan di sebelah ruang kerja saya. Jadi tempat yang dulu Kenan tempati itu akan menjadi tempat kamu.” Jelas Pak Rayyan. Pantas saja sedari tadi aku lihat meja kerja Pak Kenan tak ditempati olehnya. Tidak ada juga barang-barang miliknya di atas meja. Kukira karena memang Pak Kenan telat datang, tetapi kemudian dia menyapaku saat aku berdiri di depan pintu ruangan Pak Rayyan tadi. “Sekarang kamu sudah boleh keluar. Saya mau melanjutkan pekerjaan saya.” Tambahnya. Ternyata dia hanya ingin mengatakan hal itu. Aku menghela nafas lega karena aku tidak jadi di pecat. Mimpi buruk kemarin siang benar-benar mempermainkan nyaliku. Aku pun berpamitan untuk keluar dari ruangan Pak Rayyan. Saat baru keluar dari ruangannya dan menutup pintu kembali, Pak Kenan menghadangku dan memintaku untuk ikut ke ruang kerjanya yang baru. “Ayo, Kya! Silahkan masuk!” seru Pak Kenan. Kemudian kamu berdua duduk berhadapan di meja kerjanya. Ruangan Pak Kenan tidak seluar ruang kerja Pak Rayyan. Tetapi disini terasa lebih nyaman. Mungkin karena belum banyak barang yang ditempatkan disini. Ruang kerja Pak Rayyan sudah terlalu banyak barang seperti lemari, rak buku dan juga sofa. “Pak Kenan ada perlu apa manggil saya?” tanyaku. “Saya mau minta maaf sama kamu.” Jawabnya dengan tatapan lembut. Sepertinya Pak Kenan masih kepikiran tentang yang waktu itu. Saat dia memelukku di ruangan Pak Rayyan. “Kalau masalah yang waktu itu saya sudah maafin kok Pak.” Kataku berlagak dewasa. “Tetapi saya serius, Kya.” “Serius? Maksudnya serius?” “Saya serius sama kamu. Saya suka kamu, Kya! Kamu mau ya jadi pacar saya?” Pak Kenan menyatakan perasaannya padaku. “HAH??” aku terkejut tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Pak Kenan. “Pak Kenan ngomong apa tadi?” tanyaku memastikan kembali jika apa yang sudah kudengar tadi tidak salah. Pak Kenan meraih tanganku dan menggenggamnya. “Aku suka kamu, Kya. Kamu mau ya jadi pacar aku?” kembali Pak Kenan menyatakan perasaannya padaku. Kali ini sambil menggenggam tanganku dan menatapku penuh dengan perasaan. Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Ini sudah yang kedua kalinya Pak Kenan bilang seperti itu tetapi tetap sangat sulit aku mempercayainya. “Pak, bapak gak salah ngomong kan? Bapak bercanda ya sama saya? Mau mengerjai saya?” “Aku gak bercanda sama sekali! Tadi aku juga udah bilang kalau aku serius sama kamu.” Bahkan sekarang Pak Kenan menggunakan kata aku untuk menyebut dirinya. Tidak lagi menggunakan saya yang formal. Mulutku sedikit menganga dengan raut wajah sangat tidak percaya dengan situasi ini. Atau jangan-jangan ini semua hanya mimpi? Kelanjutan bunga tidur kemarin siang? Mimpi ini sangatlah indah. Benar-benar mimpi indah. “Kya? Kok malah bengong? Kayaknya kamu hobi banget bengong ya, Kya!” suara berat Pak Kenan menyadarkanku jika ini semua bukanlah mimpi. Aku pun menggelengkan kepalaku lalu kulihat tangan Pak Kenan yang masih menggenggam tanganku. Jantungku kembali berdetak kencang tak karuan. Sedari tadi saat ingin menemui Pak Rayyan jantung ini sudah sangat menderita. Semoga jantungku akan baik-baik saja. “Kya? Tuh kan bengong lagi!” Pak Kenan mengarahkan salah satu tangannya mencubit pipi kiriku gemas. Refleks aku langsung menepis tangannya itu karena malu. Pipiku langsung bersemu dan terasa suhu tubuhku sedikit meningkat. “Maaf ya, Kya! Kamu gak suka ya aku cubit pipi kamu?” rasa bersalah langsung terlihat dari raut wajah Pak Kenan. “Bukan gitu Pak, saya kan malu Pak.” Aku menundukan kepalaku agar aku bisa menutupi wajahku. “Jadi jawabannya bagaimana Kya?” “Jawaban?” seketika aku mengangkat kembali wajahku saat mendengar Pak Kenan meminta jawaban atas pertanyaannya. “Iya, jawaban kamu apa? Kamu nerima aku jadi kekasih kamu?” Pak Kenan meminta jawaban secepat ini? Aku sendiri tak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Untuk terus menatap wajahnya saja aku sudah tak sanggup. Jika dibilang aku tertarik padanya itu hal yang sudah pasti. Sejak hari pertama masuk aku sudah sangat terpesona padanya. Tetapi jika berbicara urusan hati, aku tak tahu harus berkata apa. Kami baru bertemu belum genap seminggu. Apa iya rasa tertarikku ini bisa dibilang cinta? “Ehmm Pak, boleh saya minta waktu untuk jawab pertanyaan Bapak tadi?” pintaku. “Waktu? Sampai kapan?” “Sampai kapan ya, Pak? Ehhmm saya juga belum tahu Pak karena saya gak mau terlalu terburu-buru. Atau boleh gak kita berteman dulu gitu Pak? Biar lebih saling mengenal jadi saya baru bisa nentuin harus jawab apa sama Pak Kenan.” Raut wajah Pak kenan berubah kecewa. Sepertinya dia benar-benar serius dengan perasaannya. Tetapi aku masih belum yakin. Aku takut salah mengambil keputusan karena terlalu terburu-buru. Aku juga tidak mau menerima Pak Kenan hanya karena dia mempunyai paras yang sangat tampan. Aku ingin menumbuhkan perasaan yang kuat terlebih dahulu baru aku bisa menerimanya. “Baiklah, Kya!” jawab Pak Kenan. “Tetapi aku punya satu permintaan dan aku harap kamu mau mengabulkannya.” “Apa itu Pak?” “Kalau kita sedang berdua saja seperti sekarang ini, atau jika sudah diluar jam kantor, aku harap kamu memanggilku dengan namaku saja. Gak perlu pakai kata ‘Pak’. Oke?” pintanya. “Oke, Pak!” “Kan tadi aku bilang panggil namaku saja! Coba kamu panggil namaku sekarang!” Dia tersenyum simpul menungguku memanggil namanya. “Ehmm … Kenan.” Panggilku dengan suara pelan. Aku masih merasa sangat malu untuk melakukannya karena dia juga masih atasanku. “Good girl!” Kenan tersenyum lebar seraya membelai kepalaku seperti anak kecil. Kulihat wajahnya sangat senang. Aku pun jadi ikut tersenyum melihatnya seperti itu. Semoga saja perasaan Kenan terhadapku tak berubah saat aku benar-benar yakin untuk menerimanya nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD