Lima - Bos Bertanduk

1403 Words
Brraakkk! “Ngapain kalian di ruangan gue?” tiba-tiba Pak Rayyan masuk ke dalam ruangan dengan sedikit membanting pintu. “Kyara gak salah, Ray. Gue yang duluan peluk dia!” Pak Kenan berusaha membelaku. Lagipula memang dia yang terlebih dahulu memelukku. Membuat kewarasanku hilang sementara dan hanya menerima pelukannya. “Lu gila Ken! Ini di ruang kerja gue! Lagian kok lu bisa-bisanya meluk si Kyara itu sih? Apa istimewanya tuh cewek?” Pak Kenan tersenyum simpul. “Dia istimewa Ray, hati gue bilang kayak gitu.” Jawabnya. “Dan gue harap lu gak bakal naruh perasaan sama dia. Okay?”   ***   Keesokan harinya aku memilih untuk tidak masuk bekerja. Sepertinya aku terserang demam karena gerimis kemarin. Ditambah lagi aku masih merasa sangat malu pada Pak Rayyan yang melihatku berpelukan dengan Pak Kenan. Belum lagi para staff lainnya yang mendadak menjadi sangat dekat denganku karena mereka ingin tahu ada kejadian apa di ruangan Pak Rayyan sampai-sampai Pak Rayyan membuka pintu ruangannya sedikit kasar. Mereka juga bertanya mengapa aku mengenakan kemeja Pak Rayyan yang sangat jelas terlihat kebesaran ditubuhku. “Kamu masih demam Kya?” Mama berjalan dari arah pintu mendekat padaku yang sedang berbaring di tempat tidur. “Iya ma, sedikit sih, tapi kepala Kya pusing banget.” “Sarapan dulu yuk! Ini mama beliin bubur ayam tadi.” Mama memberikan semangkuk bubur dengan irisan ayam dan taburan kerupuk di atasnya. “Kya masih malas makan ma. Taruh di meja dulu aja deh, Ma!” “Eehh gak boleh gitu! Makan dulu sedikit ya, Kya. Habis itu kamu minum obat biar cepat sehat lagi.” paksa Mama. “Tapi Kya malas ngunyah Ma. Nanti deh pasti Kya makan kalau udah gak malas.” Seruku. “Ayo, ayo, ayo! Gak boleh malas gitu! Ini bubur udah lembek gak usah kamu kunyah juga gak apa-apa Kya!” Mama terus memaksaku agar aku memakan bubur yang sudah dibelikan olehnya. Aku tidak bisa mengelak atau mencari alasan lagi. Kuturuti kemauan mamaku. Itu juga demi kesehatanku. Aku mengubah posisiku yang tadinya berbaring menjadi duduk. Kuambil mangkuk yang mama bawakan dan menyuap bubur yang ada di dalamnya sesendok demi sesendok ke dalam mulutku. “Nahh gitu dong, Kya! Kan biar kamu juga cepat sehat! Coba sini mama pegang jidatnya.” Mama meletakan telapak tangannya di keningku. “Udah mendingan ini, gak sepanas semalam. Ini siang juga udah normal lagi.” “Iya, Ma..” jawabku singkat. “Besok juga udah bisa kerja lagi kok, Kya! Bos kamu pasti nyariin kamu.” tambahnya. Uhukk! Aku tersedak mendengar perkataan mama. Kenapa mama bisa berkata demikian? Mama langsung mengernyitkan dahinya heran padaku. “Kamu kenapa Kya? Makan bubur aja pake tersedak segala!” kata mama. “Gak apa-apa ma! Kayaknya kerupuknya langsung masuk tenggorokan aja.” Aku mencoba mengelak. “Hahaha aneh-aneh aja kamu, Kya! Yasudah cepat habiskan buburnya, terus minum obat ya!” kemudian mama melangkah keluar kamar dan menutup pintunya. Benar juga kata mama, aku harus kembali bekerja besok. Bukan karena bos yang mencariku tetapi karena aku masih baru beberapa hari masuk bekerja. Tokk..tokk.. tokk.. “Kya, aku masuk ya!” suara Elsa terdengar dari balik pintu. “Iya, masuk aja!” jawabku. Elsa membuka pintu kamarku dan langsung berjalan menghampiriku. Dia pun duduk di sebelahku. “Kamu sakit, Kya?” tanya Elsa. “Yaa gitu deh!” jawabku gamblang. “Hahaha kirain aku kamu bakal tetap masuk kerja kalau sakit. Ternyata lebih milih istirahat di rumah.” Kata Elsa mengejekku. “Maksudnya apaan sih?” tanyaku yang masih tak mengerti dengan maksud dari ucapannya itu. “Kemarin kan aku sakit, kamu bilang baru juga hari kedua kerja udah gak masuk! Nah sekarang kamu yang sakit. Masa kamu baru hari ketiga kerja udah gak masuk sih, Kya! Hahaha!” Elsa tertawa senang setelah mengejekku. Kucubit lengan kirinya hingga dia berteriak kesakitan. “Aakkhh! Sakit tahu, Kya! Kamu mah mainnya cubitan!” Elsa membelai lembut lengannya kirinya yang kucubit tadi. Aku melanjutkan aktivitasku menikmati bubur ayam dan tidak menjawab Elsa. Sudah tinggal beberapa suap lagi. Jangan sampai nafsu makanku hilang hanya karena sahabatku, Elsa. Elsa melihat jam yang melingkar tangan kirinya. “Kya, udah jam segini. Aku mau berangkat ke kantor ya! Kamu mau titip salam gak sama siapa gitu?” “Enggak!” jawabku ketus. “Sama bosnya gak mau? Aku dengar dari staff di divisiku katanya atasan kamu tuh gantengnya gak ketolongan, Kya. Beneran itu?” dengan raut wajah penasaran Elsa menanyakan hal tersebut padaku. Aku mengerlingkan mata padanya. “Jangan dengerin gosip! Atasanku tuh galak. Ada tanduk di kepalanya, kiri kanan. Pokoknya serem deh.” “Seriusan ah, Kya! Jadi gak ganteng sama sekali?” tanya Elsa dengan nada sedikit kecewa. “Iya, gak ganteng sama sekali. Jelek. Serem.” Kusembunyikan senyum simpulku dari hadapan Elsa. Karena aku sudah hafal sifat Elsa yang akan langsung terbawa oleh perkataan seseorang. “Duh! Mana besok divisi aku sama divisi kamu bakal ada meeting lagi! Kalau bos kamu galak kayak gitu aku kan jadi takut, Kya.” Benar saja, Elsa langsung merasa takut dengan atasanku yang sama sekali belum pernah dia temui. “Besok? Kamu dapat info darimana?” tanyaku. Karena aku sama sekali tidak mengetahui jika aka nada meeting gabungan dengan divisinya Elsa. “Ya dari bos aku lah, Kya! Eh, udah ah nanti aja kita lanjut ngobrolnya. Takut telat nih aku.” “Yaudah sana kamu berangkat. Hati-hati ketemu sama bos bertanduk ya! Hahaha” kataku seraya tertawa melihat wajah Elsa yang mendadak pucat. Setelah kepergian Elsa ke tempat kerja, aku kembali berbaring sendirian di dalam kamarku. Bubur ayam sudah kuhabiskan. Obat pun juga sudah kuminum. Sekarang yang kurasa hanyalah mengantuk yang teramat sangat. Kemudian aku memejamkan mata. Berharap sebangun tidur nanti aku akan merasa lebih baik. Ingat, besok aku sudah harus mula bekerja. Harus bertemu dengan bos bertandukku itu.   ***   “KYA!! KEMANA SAJA KAMU KEMARIN?” Pak Rayyan meneriakiku saat aku baru membuka pintu ruangannya. Kakiku gemetar. Jantungku berdetak hebat. Raut wajahku sangat menunjukan ketakutanku. “Ma.. maaf Pak. Saya.. saya kemarin itu..” bahkan untuk berbicara pun aku terbata-bata. “KEMARIN APA??” tanya Pak Rayyan tetap sambil berteriak. “Kemarin Pak, saya kemarin itu.. sakit Pak..” jawabku gemetar. “Baru juga beberapa hari masuk kamu sudah mengeluh sakit?” desis Pak Rayyan. Volume suaranya sudah tidak tinggi tetapi tatapan matanya sangat dingin dan tajam melihat ke arahku. “Maaf Pak, sepertinya kemarin itu saya … saya kemarin itu sepertinya … masuk angin pak.” Pak Rayyan pun berdiri, bangkit dari kursinya. Dia melangkahkan kakinya dengan mantap selangkah demi selangkah mendekat padaku. Kakiku semakin gemetar dan tak sanggup untuk berpindah tempat. Kedua bola matanya sangat tajam mengerling padaku. Seperti tak akan membiarkanku untuk kabur. Tiba-tiba terlihat aura hitam yang menyeruak keluar dari dalam tubuhnya. Kedua bola matanya seketika berubah memerah. Kulit wajahnya juga ikut menjadi kemerahan seperti orang yang sedang menahan amarah. Kedua mataku terbelalak melihat Pak Rayyan yang seperti itu. Lututku menjadi lemas dan membuatku terduduk di hadapannya saat dia sudah tepat berada di depanku. “Staff baru sudah mengeluh sakit?” tanyanya dengan nada suara mengintimidasi. Aku menganggukan kepalaku gemetaran. Detak jantungku semakin kencang. Ingin rasanya aku menangis dan meminta ampunan dari Pak Rayyan yang kini sangat menakutkan. “Kyara!” panggil Pak Rayyan. “Iya, Pak!” jawabku gemetar. Kemudian Pak Rayyan tersenyum sinis menatapku. Tiba-tiba dikepalanya muncul dua buah tanduk kecil berwarna merah. Kiri dan kanan. “KAMU SAYA PECAT!” teriak Pak Rayyan yang juga membuatku terbangun dari mimpi burukku. Aku terbangun dari mimpi burukku di siang bolong dengan tubuh yang bercucuran keringat. Aku menengok ke sekitar dan ternyata aku masih berada di dalam kamar tidurku. Kutepuk-tepuk kedua pipiku lalu kucubit salah satunya. “AWW SAKIT!!” teriakku. Ternyata tadi itu hanya mimpi. Untung saja hanya mimpi, aku tidak jadi dipecat dari pekerjaanku. Dan aku bersyukur itu hanya mimpi, karena aku tak akan pernah sanggup menghadapi Pak Rayyan yang bertanduk. “Duuhh ini pasti gara-gara ngobrolin bosku yang bertanduk tadi sama Elsa! Jadi kebawa mimpi deh!” gumamku. “Kayaknya lebih baik aku mandi biar segar.” Lanjut aku bergumam. Suara ponsel berbunyi nyaring saat aku hendak menuruni tempat tidurku. Kuambil ponsel tersebut dan kulihat siapa yang menelepon. “Ini nomor siapa ya?” tanyaku bingung pada diriku sendiri karena tidak mengenali nomor yang terpampang di layar ponselku. Aku menggeser layar untuk menerima panggilan telepon tersebut. “Halo?” sapaku. “Kyara? Ini saya Rayyan.” “PAK RAYYAN?”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD