Money Can't Fix Everything

1119 Words
Karenina memandangi apartemen miliknya yang akan dijual untuk terakhir kalinya. Senyumnya mengembang oleh rasa lega. Ia tak menyangka akan secepat ini mendapatkan pembeli. Sebentar lagi masalahnya akan selesai. Ia akan terbang ke Bali untuk menebus kalung itu dan mengembalikannya. Bel pintu berbunyi. Karenina dengan cepat membukanya. “Hai, Nin!” Sapaan itu bagai halilintar yang menyambar Karenina. Ia terpaku, menatap sosok di depannya. Trisha? Apa-apaan ini? “Hm… maaf, Mbak Nina. Saya tidak tahu kalau Mbak Nina kenal dengan Mbak Trisha,” seorang wanita yang berdiri di samping Trisha buru-buru menjawab tanya di wajah Karenina. “Jangan khawatir. Aku enggak akan bilang Aidan,” imbuh Trisha, seolah membaca pikiran Karenina. “Jadi… kamu yang mau beli apartemen ini?” Karenina menatap Trisha tak percaya. Ini seperti lelucon. “Iya. Aku memang lagi cari apartemen di area ini karena dekat kantorku. Dan kebetulan banget Bu Nora nawarin. Ternyata punya kamu,” sahut Trisha santai, melirik ke arah Bu Nora yang kini tampak canggung. Karenina menghela napas panjang. Dunia ini memang sempit. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Ia tak mungkin menolak. Dengan berat hati, ia mempersilakan keduanya masuk. “Mbak Trisha sudah melihat seluruh bagian apartemen ini dan semuanya sudah oke. Jadi tinggal mengecek kelengkapan surat dan negosiasi harga saja,” ujar Bu Nora, yang diiyakan Trisha dengan anggukan. “Saya akan menunggu di lobi saja,” imbuhnya, lalu pergi. “Jadi, ini apartemen milik kamu?” Pertanyaan Trisha mengusik hati Karenina. Milik kamu? Bukankah dia sudah tahu? Atau jangan-jangan dia menyangka ini pemberian Aidan? “Iya. Aku membelinya sendiri. Nyicil,” sahut Karenina, sengaja menekankan kata nyicil. “Aku suka apartemen ini,” puji Trisha. “Biarpun kecil, tapi rapi dan fungsional.” “Apa enggak terlalu kecil buatmu?” “It’s fine.” Trisha mengangkat kedua bahunya. “Aku cari uang sendiri, jadi harus berhemat. Lagi pula, waktu kuliah di New York, apartemenku bahkan lebih kecil dari ini.” Ia tertawa kecil. “Oh…” Karenina sedikit terkejut. “Aku enggak sekaya Aidan.” Trisha seolah tahu apa yang dipikirkan Karenina. “Waktu kuliah di sana, aku harus banting tulang cari uang untuk bisa bertahan hidup. Bahkan setelah lulus pun, hidupku lebih berat lagi.” Trisha seolah ingin menunjukkan betapa hidupnya penuh perjuangan dibandingkan hidup Karenina. “Aku mengira kamu hidup enak di sana.” Karenina tersenyum tipis, sedikit merasa bersalah dengan prasangka buruknya. “Bukan cuma kamu. Orang-orang juga mikir begitu.” Trisha mengedikkan bahu. “Aku lihat hidup kamu malah lebih enak dan menyenangkan.” Trisha menaikkan alisnya, rasa iri itu kentara. Karenina tersenyum kecut. “Bukan cuma kamu. Orang-orang juga menganggapnya begitu,” balasnya. Trisha tergelak. “Memangnya enggak enak?” tanyanya, tertawa hambar. Karenina tak ingin menanggapinya. Ia tak mau berbagi kisah hidup dengan orang yang tak dikenalnya. “Hm, kita bahas apartemen ini saja, ya? Kasihan Bu Nora nanti kelamaan nunggu,” ucapnya, berusaha mengalihkan pembicaraan. “Oh ya, gimana dengan apartemen barumu? Apa kamu suka?” Pertanyaan itu membuat Karenina tertegun. Jadi Trisha tahu? Untuk apa Aidan memberitahukannya? Hatinya gusar. Ia menatap Trisha, merasa ada yang tak beres. “Oh! Jadi Aidan enggak kasih tahu kamu kalau aku yang bikin desain interiornya?” Trisha pura-pura kaget. Jadi dia yang membuatnya? Hati Karenina meradang. “Mungkin dia lupa,” sahutnya sambil memaksa tersenyum kecil. Trisha menggelengkan kepala. “Aidan enggak mungkin lupa dengan hal kayak gini. Dia pasti sengaja enggak kasih tahu kamu.” Trisha sengaja memprovokasi, memancing emosi Karenina. “Buat apa dia merahasiakannya?” suara Karenina meninggi. Emosinya terpancing. Trisha kembali mengedikkan bahu. “Mungkin dia takut kamu cemburu?” “Cemburu?! Buat apa aku harus cemburu? Kami sudah berpisah!” Emosi Karenina semakin tak terbendung. “Oh! Aku pikir kalian sudah balikan lagi.” Trisha menampakkan wajah terkejutnya. “Aidan bilang hubungan kalian baik-baik saja. Aku pikir kalian sudah balikan.” Karenina menghela napas berat. “Aku masih perlu waktu untuk memikirkannya,” sahutnya, suaranya kembali normal. Trisha menatap Karenina dengan tatapan berbeda. Tatapan yang menyiratkan rasa iri dan sedikit meremehkan. “Kamu beruntung bisa mendapatkan Aidan. Dia bukan orang yang gampang jatuh cinta. Tapi kalau sudah jatuh cinta, dia jadi sangat bodoh…” Sangat bodoh? Apakah dia sedang menyindirnya? Hati Karenina bergemuruh. Andaikan perempuan ini tahu apa yang telah dilakukan Aidan padanya. Karenina mengusap dadanya. Ia bahkan masih merasakan sesaknya hingga saat ini. --- Dari kejauhan, Aidan menatap Karenina yang tengah sibuk menyiapkan makan malam di dapur. Bibirnya tersenyum lebar, selebar harapannya. Ia tahu sebentar lagi Karenina akan kembali padanya, dan hidupnya akan kembali bahagia seperti dulu. Ia berjalan menghampirinya. “Nin…” Karenina mengangkat wajahnya, tersenyum melihat Aidan yang tampak segar. “Udah mandi?” tanyanya. Aidan mengangguk. “Makan malam udah siap?” “Sebentar lagi. Lapar, ya?” Aidan kembali mengangguk, tangannya mengusap perutnya. “Sepuluh menit lagi,” ucap Karenina seraya mengaduk sup di atas kompor. “Aku kangen banget sama masakan kamu. Enggak ada duanya,” puji Aidan, sedikit berlebihan. “Bilang saja mau dimasakin setiap hari.” Bibir Karenina mengerucut, senyum kecil tersungging. “Memangnya kamu enggak kangen…?” Aidan menggoda. Karenina hanya tersenyum. Ia tak ingin memberinya harapan saat hatinya belum sepenuhnya yakin. Tiba-tiba Aidan memeluknya dari belakang. “Aku kangen banget sama kamu, Nin…” bisiknya, sarat kerinduan. Karenina terkejut. Tubuhnya mendadak gemetar. Trauma akan kenangan buruk itu menyergapnya. “Aidan, lepasin aku…” suaranya tercekat, nyaris tak terdengar. Namun Aidan yang tak menyadari ketakutan Karenina justru mengeratkan pelukannya. “Sebentar saja, Nin…” “Aidan…” Suara Karenina pecah. “Lepasin aku!” teriaknya, seraya mendorong tubuh Aidan hingga membuatnya hampir terjatuh. Aidan terbelalak. “Aku cuma mau peluk kamu, Nin,” ucapnya kebingungan. “Jangan paksa aku!” Karenina melangkah mundur, wajahnya ketakutan. Detik itu juga Aidan tersadar. “Apa… kamu mengira aku akan menyakitimu?” tanyanya tak percaya. Karenina mengangguk pelan. Air mata menggenang di pelupuk matanya. “Maafkan aku…” Suara Aidan bergetar. Ia berdiri terpaku di depan meja makan yang rapi. Tatapannya penuh sesal. Ia tak mengira luka yang ditinggalkannya begitu dalam hingga maaf saja tak cukup menghapusnya. Segala usaha yang ia lakukan belum mampu membuat Karenina kembali mempercayainya. Kini ia sadar, kemewahan yang ia berikan hanyalah perban di atas luka yang masih menganga. Ia bisa membangunkan kembali sebuah istana untuknya, tapi ia tidak bisa membeli rasa aman yang sudah ia hancurkan sendiri malam itu. Lalu sampai kapan luka itu akan sembuh? Sampai kapan ia harus menunggu? “Beri aku waktu…” ucap Karenina lirih. Ia tahu Aidan tak bermaksud menyakitinya lagi. Tapi ini bukan tentang Aidan. Ini tentang hatinya—hati yang belum sepenuhnya sembuh, hati yang tak pernah melupakan rasa sakit, hati yang rapuh hingga tak lagi yakin apakah ia masih mencintainya, atau sekadar membutuhkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD