Copying You

890 Words
Pagi itu di ruang kerjanya, Karenina duduk gelisah. Ujung bolpoinnya ia ketuk-ketukkan pelan di permukaan meja, tanpa sadar. Pandangannya kosong, terarah ke Danisa yang duduk di hadapannya. "Apa sikapku itu terlalu berlebihan, Sa?" tanyanya akhirnya. Danisa menggeleng pelan. "Kamu cuma trauma, Nin. Reaksi seperti itu wajar. Aidan juga ngerti, kan?" "Tapi aku merasa bersalah..." "Yang bikin kamu trauma itu Aidan," potong Danisa, tegas. "Kamu enggak salah. Jangan terus nyalahin diri sendiri." "Tapi aku penyebabnya, Sa," Karenina tetap bersikeras. Kepalanya menunduk. Danisa mencondongkan tubuh sedikit. Nada suaranya mengeras, tapi terkontrol. "Jangan campur adukkan masalah hati dengan kekerasan fisik, Nin. Itu dua hal yang berbeda. Apa pun masalah kalian, Aidan tetap salah karena sudah melakukan kekerasan ke kamu. Itu enggak bisa dimaklumi." Karenina menghela napas berat. "Tapi dia sudah berusaha berubah, Sa..." "Dan memang seharusnya begitu," jawab Danisa tanpa ragu. "Demi dirinya sendiri. Sama seperti kamu juga harus menyembuhkan traumamu. Kamu perlu konsultasi ke psikolog." "Aku cuma perlu waktu..." "Trauma enggak sembuh cuma dengan waktu," Danisa menggeleng. "Kamu perlu bantuan profesional." Karenina terdiam sejenak. "Aku bingung, Sa. Aku enggak pernah nyangka semuanya jadi serumit ini." "Hubungan kalian memang dari awal sudah rumit," jawab Danisa jujur. "Tapi aku tahu kalian saling mencintai." "Tapi bagaimana kalau aku mencintai Aidan karena aku membutuhkannya?" "Maksudmu... finansial?" Karenina mengangguk kecil, malu. "Lalu apa salahnya?" Danisa menimpali tenang. "Aidan juga enggak merasa terpaksa. Dan kamu juga sudah memberikan banyak hal ke dia." Karenina terdiam. Ia mencerna kata-kata itu. "Jangan terlalu banyak berpikir, Nin," lanjut Danisa, suaranya melunak. "Jangan terus menyalahkan diri sendiri. Fokus sembuhin hatimu. Berdamai dengan masa lalu, pulihkan traumamu. Kalau Aidan konsisten berubah, kamu akan kembali ke dia. Kalian menikah, hidup tenang. Itu bukan mimpi kosong." Senyum tipis akhirnya terbit di wajah Karenina. Ada sedikit cahaya di matanya. "Besok aku ke Bali. Menebus kalung itu. Aku enggak mau Aidan tahu. Kalau nanti dia tanya, bilang aja kamu enggak tahu." Danisa mengerutkan kening. "Dia enggak akan percaya." "Bilang aja aku pergi sama teman ke luar kota." "Nanti dia mikir macam-macam, Nin." "Biarin," sahut Karenina kesal. "Dia juga sekarang sering nyimpan rahasia dariku." "Maksudmu Trisha?" Danisa tersenyum kecil ketika Karenina tak menyangkal. "Jadi ini balas dendam?" "Aku cuma mau dia ngerasain," jawab Karenina. "Aku mau lihat reaksinya." Danisa menggeleng pelan. Ia tahu kecemburuan Karenina jauh lebih dalam dari yang mau ia akui. "Sorry, Nin. Aku benar-benar enggak tahu kalau yang beli apartemen itu Trisha," ujar Danisa kemudian. "It's okay. Yang penting cepat terjual." "Tapi kamu enggak perlu cemburu," lanjut Danisa. "Aku percaya enggak ada hubungan spesial antara Trisha dan Aidan." "Aku tahu Aidan enggak punya perasaan ke dia," jawab Karenina serius. "Tapi aku merasa perempuan itu berusaha mendekati Aidan." "Biasanya kamu cuek," Danisa heran. "Dari dulu juga banyak yang menggoda Aidan." "Trisha beda," jawab Karenina lirih. "Dia pintar, mandiri, pendidikannya bagus. Kenal Aidan sejak kecil. Keluarga mereka dekat. Mereka satu circle." Danisa tersenyum, kali ini paham. "Jadi dia bikin kamu enggak percaya diri?" "Aku enggak tahu," bisik Karenina. "Sekarang aku merasa Aidan memang lebih pantas sama dia." "Hah?" Danisa melongo. "Kok kamu jadi sejauh itu mikirnya?" "Itu kenyataannya, Sa. Aku enggak ada apa-apanya dibanding dia." "Tapi Aidan cinta mati sama kamu, Nin!" "Tapi keluarganya?" suara Karenina bergetar. "Ibunya Aidan... aku merasa terintimidasi. Cara bicaranya, cara dia menatapku, semuanya beda. Dia enggak menyukaiku. Bukan cuma karena aku mengecewakannya, tapi juga karena Kak Martin. Aku yakin dia tahu soal kalung itu. Makanya dia manggil aku. Aku malu banget, Sa." Danisa menarik napas panjang. "Sekali-kali pikirin kebahagiaanmu sendiri, Nin. Jangan terus mikirin orang lain. Belum tentu semua yang kamu rasain itu benar. Kalau Aidan bisa bikin kamu bahagia, perjuangkan itu. Sesimpel itu." Karenina mengusap wajahnya. Ia tahu, saat ini ia tak punya pilihan lain selain menjalani apa yang ada di depannya. Ia tak bisa hidup tanpa Aidan. Dan kenyataan itu akhirnya mulai ia akui. Siang itu, Trisha berdiri di depan apartemen Aidan. Bel sudah ia tekan tiga kali, tanpa jawaban. Dengan ekspresi cemas-atau tepatnya, dibuat-buat-ia menekannya lagi. Pintu akhirnya terbuka. Aidan berdiri dengan mata setengah terpejam. "Sorry... you didn't show up for yoga, and you didn't answer my calls. I was worried," ucap Trisha cepat. Aidan membuka pintu lebih lebar, membiarkannya masuk. "Kamu baru bangun?" Pandangan Trisha menyapu apartemen yang berantakan. Aidan mengangguk sambil menguap. "Are you okay?" tanyanya lembut, berlebihan. "Fine. Just tired," jawab Aidan singkat. Ia menjatuhkan diri ke sofa dan memejamkan mata. "Lagi ada masalah sama Nina?" Aidan diam. "Habis bertengkar?" Trisha makin berani. Aidan menoleh kesal. "Kamu cerewet banget. Kami enggak ada masalah. Sore ini juga dia ke sini." "Bukannya dia lagi ke luar kota?" Trisha mengangkat alis. "Kata siapa?" "Bu Nora. Kamu belum tahu?" Trisha berpura-pura terkejut. Aidan menggeleng. "Dia ke mana?" "Enggak bilang. Mungkin healing. Weekend, kan?" jawab Trisha santai. Aidan menghela napas. Kenapa enggak ngomong? Ia masuk ke kamar, meraih ponsel, menelepon Karenina. Tak ada jawaban. "Kamu udah makan?" Trisha tiba-tiba muncul di ambang pintu. Aidan menggeleng. "Aku masakin ya. Aku juga belum makan." "Enggak usah. Pesan aja," jawab Aidan, masih menatap layar ponsel. "Kelamaan. Aku bikin spaghetti aja, simple," katanya cepat. Aidan akhirnya mengangguk. "Thanks." Trisha melangkah ke dapur dengan senyum tipis yang tak ia sembunyikan lagi. Ia menyalakan kompor, membiarkan aroma masakan memenuhi ruangan yang seharusnya milik Karenina. Bagi Trisha, memenangkan hati Aidan bukan sekadar soal cinta, tapi soal membuktikan bahwa ia adalah kepingan puzzle yang lebih pas untuk berada di sini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD