Karenina memandangi nyala api unggun yang menari-nari di hadapannya, memantulkan bayangan hangat di matanya. Bibirnya melengkung tipis, sebuah senyum yang lahir dari relung memori. Aroma kayu kering terbakar berpadu dengan wangi jagung manis yang terpanggang sempurna, seketika membawanya melintasi waktu. Ia kembali merasakan desir angin malam di puncak bukit, tawa riang teman-teman, dan sosok Bintang yang selalu ada. Masa-masa indah yang terasa jauh, namun tetap hangat dalam ingatan.
"Kamu lagi ingat apa?" suara Bintang membelah keheningan. Ia menatap Karenina sembari memutar jagung bakar di perapian. Percikan api kecil menyinari wajah mereka.
"Masa kuliah dulu. Waktu kita camping sama teman-teman..." Suaranya lirih, membawa kenangan manis sekaligus melankolis. "Aku ingat, kamu selalu berada dekat perapian, membakar sesuatu."
Bintang tersenyum, sorot matanya melembut, dipenuhi nostalgia. "Waktu itu, aku selalu memperhatikanmu dari jauh. Lihat kamu makan jagung bakar buatanku, aku senang sekali." Bintang tersipu.
Karenina tertawa kecil. "Tapi kamu tak pernah mau dekat. Aku pikir kamu enggak suka sama aku."
"Bukan enggak suka." Bintang tersenyum malu. Cuma... kamu selalu dikelilingi teman-temanku. Mereka selalu berebut dekat kamu. Aku... malu."
"Setelah kita lulus, kamu semakin menjauh."
"Aku ingin ngejar mimpiku melihat dunia. Kamu tahu dari dulu aku sering berpetualang. Traveling, naik gunung, menyelam di laut..."
"Aku tahu. Kamu selalu pergi dengan Tama, sahabatmu. Aku ngikutin vlog kalian. Aku juga sering nyapa kamu, tapi kamu hanya membalas sesekali."
"Waktu itu aku kira kamu kayak yang lainnya. Cuma basa-basi. Aku juga sering lihat media sosialmu. Hidupmu kelihatan sangat menyenangkan, mapan, penuh kemewahan. Aku jadi... enggak percaya diri."
Karenina tertawa. "Itu semua dari Aidan."
"Di mana kamu ketemu Aidan?"
"Kantor. Kebetulan waktu itu perusahaan Aidan ada di lantai yang sama. Aidan sangat menonjol. Dia mapan, tampan, kharismatik. Idaman teman-temanku."
"Tapi dia hanya tertarik sama kamu?"
Karenina mengangguk seraya tersenyum tipis.
"Aidan mendekatiku setelah aku putus dengan mantanku, karena LDR. Seminggu jadian, dia udah sewain aku apartemen. Dia juga ganti motorku dengan mobil. Aku memang salah sejak awal. Terlalu naif... Kukira kebaikan Aidan itu tulus, tapi ternyata semuanya ada harga yang harus dibayar... Karenina menarik napasnya. Dadanya terasa sesak mengingat kembali kenangan itu.
"Dia laki-laki pertama yang menyentuhku... Awalnya aku menangis, merasa terjebak, tapi semua orang, termasuk keluargaku melihat dia seperti malaikat penolong. Mereka bilang aku beruntung. Akhirnya aku merasa seperti berhutang budi."
Karenina menatap Bintang, sorot matanya setulus biasanya. "Aidan sangat posesif. Dia mengendalikan hidupku, mengatur segalanya. Menghapus kontak teman-temanku, melarangku bertemu mereka, bahkan jadwal di kantor pun dia harus tahu. Aidan membuatku bergantung padanya. Aku seperti berada di sangkar emas. Untungnya aku masih punya Danisa."
"Aku sangat iri padamu. Aku mengikuti perjalananmu. Aku ingin sekali sepertimu. Hidup bebas, milihat dunia. Tapi kamu lalu berhenti... dan menghilang begitu saja."
Bintang mengembuskan napas. "Saat kami di Himalaya, kami mendaki bukit bersalju. Tapi Tama tergelincir dan... dia kehilangan kakinya. Sejak itu kami berhenti. Aku mulai memikirkan ulang hidupku. Aku memutuskan untuk hidup seperti orang kebanyakan. Bekerja, punya keluarga, pulang ke rumah."
"Tapi pergi terlalu lama membuatku tak punya teman. Hanya Naira satu-satunya yang selalu menghubungiku, menanyakan kabarku di mana saja. Itulah awal hubungan kami."
Karenina tersenyum pahit. "Ternyata ada yang lebih mencintaimu daripada aku."
Bintang tersenyum. "Hidup memang penuh rahasia."
Karenina menyandarkan kepalanya di bahu Bintang. Cerita berlanjut hingga larut. Kali ini tak ada lagi kesedihan, hanya tawa dan kehangatan. Hingga akhirnya Karenina tertidur dalam pelukan pria yang selalu ia impikan itu.
Bintang membaringkan tubuh Karenina di sofa dan menyelimutinya.
Ia kemudian membuka pesan di ponsel. Wajahnya berubah resah.
***
Pagi itu, Bintang bangun pagi-pagi, menyiapkan seteko teh panas di meja. Menunggu Karenina keluar kamar.
"Kamu... udah rapi?" Sapa Karenina, saat keluar kamar. Wajahnya masih setengah basah oleh basuhan air.
"Aku mau... pulang."
"Pulang?" Karenina terhenyak. Ia mendekat. "Ke mana?"
"Naira kirim pesan. Dia mau ketemu aku hari ini."
"Ketemu kamu? Apa Naira minta berbaikan?"
"Aku enggak tahu. Kami akan membicarakannya di rumah."
Karenina diam sejenak, menghela napas. "Apa kamu akan ke sini lagi?"
"Aku pasti balik ke sini. Aku enggak akan biarin kamu sendirian."
"Kalau kamu mau kembali sama dia, aku enggak apa-apa, Bin. Aku akan minta tolong Danisa saja."
Bintang meraih tangan Karenina. "Aku janji akan secepatnya kembali. Aku juga akan sekalian menanyakan tentang Aidan pada Danisa."
Bintang menyerahkan sebuah ponsel. "Ini nomor baru, sudah ada nomorku di sini. Kamu bisa hubungi aku kapan aja. Aku pergi dulu."
Karenina memandangi mobil Bintang hingga hilang dari pandangan. Perasaan sepi tiba-tiba menusuk. Tapi sepi ini berbeda. Bukan sepi seperti yang biasa ia rasakan di apartemen Aidan, bahkan di apartemennya sendiri. Sepi ini terasa hangat.
Karenina membaringkan tubuhnya kembali di sofa, menarik selimut untuk menghangatkan kakinya yang kedinginan. Jemarinya membuka ponsel dari Bintang, memandangi layarnya yang kini ada gambar mereka berdua. Senyumnya terbit saat ia mengusap foto itu.
Namun, senyum itu menghilang saat terdengar suara halus mobil berhenti di depan. Disusul dengan langkah kaki yang familiar. Jantung Karenina berhenti berdetak.
Aidan.
"Hai..." Sapanya, pelan bagai bisikan, tapi cukup membuat Karenina gemetar. "I miss you so much!" Aidan mendekat. Suaranya parau. Wajahnya lelah, matanya merah seperti tak tidur berhari-hari.
Karenina ingin menjerit, menangis. Kini ia tahu Aidan yang telah menyuruh Naira meminta Bintang pulang. Diam-diam jemarinya mematikan ponsel di sakunya.
"Aku menjemputmu," bisik Aidan. Ia Merengkuh tubuh Karenina. Memeluknya erat-erat.
Karenina membeku bagai patung. Dunia barunya berakhir bagai fatamorgana. Kebebasan yang baru saja ia hirup kini lenyap, digantikan oleh pelukan yang menyesakkan. Dan kebahagiaan yang baru saja ia genggam kembali menjadi mimpi abadi.
Dan ia kembali pada dunia sempitnya: Sangkar emas Aidan.