Pagi itu, Aidan tersenyum lembut saat membangunkan Karenina. “Good morning. Aku bikinin sarapan,” ucapnya, suaranya lebih tenang dari biasanya.
Karenina menatapnya, napasnya masih berat. Ia bangkit perlahan, menatap pantulan dirinya di cermin, mengusap bibir yang masih sedikit memar.
Mulai hari ini, ia bertekad akan melupakan Bintang. Ia akan patuh, seperti dulu. Ia tak ingin membuat Aidan marah lagi. Sebuah janji yang tak terucap.
Ia melangkah keluar, memaksa mengukir senyum.
Di meja makan, Aidan menata roti dan selai dengan rapi. “Aku enggak tahu kamu suka selai apa, jadi aku beli semuanya,” katanya, berusaha terdengar ringan.
Karenina hanya mengangguk, datar, menerima perhatian itu tanpa harapan. Ia tahu ini hanyalah taktik Aidan—berpura-pura baik. Tapi ia sudah tak peduli lagi. Ia akan menerima takdirnya.
“Aku mau ajak kamu jalan nanti, nonton, makan malam,” lanjut Aidan, suaranya terdengar lembut, namun asing. Ia seperti mencoba menjadi versi lain dirinya.
Karenina mengangguk lagi, pasrah. Hatinya mati rasa, tapi tubuhnya tetap patuh. Ia tahu menolak saat ini hanya akan membuat segalanya lebih berbahaya.
Aidan menggenggam tangannya erat. “Kita mulai lagi hubungan baru. Aku akan ikut semua yang kamu mau. Kita ngobrol, nonton, jalan-jalan… semua.”
Karenina kembali mengangguk patuh. Semua janji terasa hampa. Andai ia melakukannya sejak dulu…
Saat Aidan pergi, lega menyelimuti Karenina. Kesepian terasa jauh lebih baik.
Bel pintu berbunyi. Karenina berlari, mengira Danisa datang. Tapi ternyata…
“Bintang?” Pekiknya, tertahan.
“Cepat ganti baju, Nin. Bawa tas besar, baju hangat. Aku tunggu di sini!”
Karenina terpaku.
"Cepat, Nin. Sebelum Aidan lihat CCTV," desak Bintang, menunjuk kamera di atas.
Karenina tersentak. Dengan panik ia berlari ke kamar, menenteng tas besar, dan Bintang menariknya masuk elevator.
“Kita ke mana, Bin?” suaranya bergetar oleh rasa takut.
“Ke luar kota. Tempat yang aman dari Aidan."
“Keluar kota?” Karenina lemas, bingung apa yang akan terjadi. Bagaimana kalau Aidan menemukan mereka? Ketakutan merayapinya.
Di dalam mobil, ketegangan menyelimuti. Karenina duduk gelisah, napasnya tersengal. Matanya menatap ke luar jendela, seolah takut Aidan mengejarnya.
Bintang meraih tangannya, menggenggam lembut. “Kamu aman, Nin,” bisiknya pelan.
Karenina mengangguk, mencoba percaya. Matanya kembali menatap luar jendela, melihat gedung-gedung tinggi dan jalanan kota yang mulai sibuk. Perlahan, gedung tinggi berganti pemandangan hijau, pepohonan, dan udara semakin sejuk—tanda mereka meninggalkan dunia yang mengekangnya menuju kebebasan.
Setelah beberapa jam perjalanan, mereka tiba di sebuah villa kecil yang asri.
“Ini villa keluarga temanku. Dipinjamkan sementara,” jelas Bintang.
“Kita akan tinggal di sini?” tanya Karenina.
Bintang mengangguk.
“Tapi… bagaimana dengan Naira?”
Bintang menghela napas. “Naira sangat marah. Dia mengusirku… Aidan memberi tahu tentang kita. Naira lebih percaya Aidan.”
"Aidan memberitahu Naira?" Suara Karenina tercekat. "Maafin aku, Bin. Ini gara-gara aku." Karenina tertunduk.
Bintang tersenyum. “Enggak apa-apa. Mungkin memang begini jalan hidupku.” Ia lalu menyentuh bibir Karenina. “Dia yang melakukan ini?” suaranya bergetar.
Karenina mengangguk pelan.
Bintang menelusuri wajah Karenina, membuka kerah bajunya, dan melihat bekas luka di lehernya. Air matanya jatuh.
“Mulai sekarang aku akan menjagamu. Dia tidak akan bisa menyentuhmu lagi.” Bintang mendekapnya erat.
Air mata Karenina menetes.
---
Pagi itu, udara di sekitar vila terasa segar dan menenangkan. Hamparan rumput hijau membentang luas, diiringi kicauan burung yang bersahut-sahutan dan angin lembut menyingkap dedaunan pepohonan, membawa aroma tanah basah dan bunga yang menenangkan.
Karenina menatap sekeliling dengan kagum, merasakan ketenangan yang lama tak pernah ia rasakan. Napasnya terasa lebih lega, dan detak jantungnya perlahan menyesuaikan diri dengan suasana damai.
“Kita mau ke mana, Bin?” suara Karenina bergetar, udara pagi masih dingin.
Bintang menarik tangannya dan menyelipkan ke dalam jaketnya. Kehangatan tubuhnya menyebar, membuat Karenina merasakan rasa aman yang nyaris ia lupakan.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak, melewati perkebunan sepi, sampai tiba di perkampungan yang mulai hidup, aktivitas warga perlahan mengisi pagi.
“Kamu suka?” Bintang tersenyum, menatap wajah Karenina.
Karenina mengangguk. “Aku enggak pernah ke tempat kayak gini,” jawabnya jujur, suaranya pelan tapi penuh kagum.
“Kurang piknik, ya?” Bintang terkekeh, nada suaranya ringan.
“Ajak aku piknik, Bin,” pinta Karenina, menunduk malu.
Langkah Bintang terhenti, memaksa Karenina ikut berhenti. Ia menatapnya dalam-dalam. "Suatu saat kita akan pergi bersama," ucapnya lembut, penuh harapan.
Karenina terpaku. Ia tak sepenuhnya mengerti maksud Bintang—“suatu saat” itu kapan? Namun ia tak ingin bertanya. Ia tahu hubungan mereka tidak akan mudah, dan untuk saat ini, cukup berada di dekatnya saja sudah membuatnya merasa bahagia.
Akhirnya ia mengangguk, menyerahkan diri pada momen itu. Bersama Bintang, dunia terasa berbeda. Begitu damai dan tenang—tidak ada ketegangan, tidak ada teror, hanya kebebasan yang tidak pernah ia rasakan dalam dunia sempit yang dibangun Aidan.
---
Sambil menyesap teh hangat, Karenina memandang hamparan rumput hijau di depannya. Udara terasa segar, embun di dedaunan tampak berkilau oleh cahaya matahari pagi.
Karenina menghirup udara segar itu. Matanya terpejam. “Aku enggak mau pulang, Bin. Aku mau tinggal di sini," gumamnya.
Bintang tersenyum. “Kita tunggu kabar Danisa. Dia akan berusaha membujuk Aidan.”
Karenina membuka matanya, dadanya terasa sesak. Ia tahu Danisa tak akan berhasil. Aidan akan mencarinya. Dan entah mengapa ia merasa Aidan akan menemukannya.
Karenina menatap Bintang. Ia akan pergi ke mana pun Bintang membawanya. Ia percaya Bintang akan melindunginya.
Tiba-tiba ponsel Bintang berbunyi. Wajahnya berubah serius.
“Kenapa, Bin?”
“Polisi mencari kita.” Wajah Bintang menegang.
“Apa?!”
“Danisa minta kita berpisah dulu. Aidan melaporkanku menculikmu.”
“Tapi aku pergi tanpa paksaan. Aidan belum jadi suamiku.” Karenina mendadak panik.
“Tapi aku datang ke apartemennya tanpa izin. Kita harus pergi. Kamu tidak boleh kembali padanya.”
Karenina menelan ludah, napasnya tercekat. Di dalam hatinya, rasa takut perlahan merayap—ia membayangkan Aidan datang menjemputnya.
Ia menatap Bintang dengan cemas, berharap mereka bisa tetap selamat.