"Kamu benar enggak mau aku antar ke Dokter Arief dulu?"
Aidan mengusap lembut bibir Karenina yang terluka.
Karenina menggeleng. "Aku bisa beli obat sendiri."
Percuma saja Aidan membawanya ke dokter keluarganya itu. Apa yang harus ia katakan nanti? Bahwa ia memar karena terjatuh? Bahwa ia menggigiti tubuhnya sendiri? Tak seorang pun akan percaya Aidan telah melakukannya. Semua orang tahu betapa Aidan mencintainya. Aidan tidak mungkin menyakitinya. Karena seharusnya memang begitu-jika Aidan mencintainya, ia tak akan melukainya.
"Ok. Sampai makan siang nanti, ya?"
Aidan mengecup kening Karenina, lalu pergi.
Tak lama kemudian Danisa berlari masuk dengan wajah cemas.
"Nin..."
Karenina tak menjawab. Matanya melirik cctv di sudut atas ruangan, memberi isyarat tanpa suara. Ia bangkit berdiri.
"Aku mau ke toilet."
Tatapannya meminta Danisa mengikutinya.
Begitu pintu terkunci, Danisa langsung bertanya, "Apa yang terjadi, Nin?"
Karenina memeluk sahabatnya erat. Matanya berkaca-kaca.
"Ya Tuhan..." Danisa menangkup wajah Karenina, jemarinya menyentuh bibir yang pecah, lalu leher yang memerah. "Ini kenapa, Nin?!"
Tanpa sepatah kata, Karenina membuka pakaiannya. Sekujur tubuhnya penuh memar dan lebam kebiruan.
Danisa menutup mulut, menahan jerit yang nyaris lolos. "Dia yang melakukan ini semua?" Suaranya bergetar.
Karenina mengangguk.
"Dia menggigitku... menarikku, membantingku, menyetubuhiku berulang kali. Sakit sekali, Sa. Dia seperti orang kesurupan." Tangis Karenina pecah.
"Ya Tuhan..." Danisa memeluk tubuhnya yang gemetar. "Kamu harus lapor polisi. Ini kekerasan seksual. Dia bisa dituntut."
Karenina menggeleng. "Dia sudah membuat Bintang dipecat. Dan dia akan menghancurkan kita. Dia akan menutup perusahaan ini."
"Dia mengancammu?"
Karenina mengangguk lemah. "Kalau aku membatalkan pernikahan."
"Kamu enggak bisa menikahi monster itu, Nin!"
"Aku harus gimana, Sa?" Suara Karenina putus asa.
"Kamu harus pergi. Tinggalin dia."
"Ke mana? Dia mengenal semua orang yang aku kenal. Dia bisa mencariku."
"Bintang?"
"Aku enggak mau menyusahkannya lagi."
"Cuma dia yang bisa menolongmu. Kamu belum menikah dengan Aidan. Kamu bebas pergi."
Karenina terdiam. Ia tak peduli harus meninggalkan segalanya. Ia hanya takut Aidan menyakiti orang-orang terdekatnya.
"Kamu jangan pikirin aku," tegas Danisa. "Aku akan antar kamu ke Bintang. Kalau Aidan mengancam, aku lapor polisi."
Danisa mengeluarkan ponselnya. "Aku akan rekam pengakuanmu-"
Belum sempat ia menekan tombol rekam, pintu toilet diketuk keras.
Karenina buru-buru merapikan pakaiannya.
Pintu terbuka.
Aidan berdiri dengan wajah sedingin es. Tanpa sepatah kata, ia menarik paksa tangan Karenina.
"Kita pulang sekarang."
Karenina menurut. Ia menggeleng pelan ke arah Danisa saat sahabatnya hendak menarik tangannya kembali.
Danisa hanya bisa menatap kepergian Karenina dengan d**a mencelos.
---
Sepanjang perjalanan, Aidan membisu. Keheningan itu menekan hingga mereka tiba di apartemennya.
Aidan duduk, mengusap wajahnya, mengembuskan napas keras. Saat menatap Karenina, sorot matanya penuh keputusasaan.
"Aku bisa menikahi wanita mana pun. Tapi aku memilihmu. Aku tak pernah mengkhianatimu. Aku menuruti semua keinginanmu. Aku memberi segalanya. Jadi kenapa, Nin? Kenapa kamu malah mengkhianatiku?" Suaranya tercekat.
Karenina terdiam.
"Aku akan mempercepat pernikahan kita. Bulan depan. Aku akan bicara lagi dengan Mamamu dan Martin."
Air mata menggenang di mata Karenina.
"Kamu enggak perlu bekerja lagi. Aku akan cari penggantimu."
"Tolong jangan pecat mereka..." pintanya lirih.
"Kamu selalu mikirin orang lain, tapi enggak pernah perasaanku." Suara Aidan bergetar. "Menurutlah. Aku janji enggak akan memecat siapa pun."
Tatapannya mengeras. "Mulai sekarang, kamu enggak boleh berhubungan dengan siapa pun."
Aidan mengambil ponsel Karenina, lalu menyerahkan ponsel lain tanpa akses internet.
"Hanya ada nomorku. Aku mengawasimu dari cctv."
"Aku ke apartemenku saja..." suara Karenina nyaris hilang.
"Please, Nin. Menurutlah. Semua akan baik-baik saja kalau kamu seperti dulu."Nada Aidan berubah dingin. "Lupakan Bintang. Masa lalumu. Jangan ganggu suami orang. Kamu perempuan. Kamu harus mengerti perasaan istri yang dikhianati."
Kata-kata itu menusuk dingin. Karenina ingin berteriak, ingin membela diri, tapi lidahnya kelu. Ia menunduk, membiarkan air mata jatuh.
Aidan menatap Karenina. Ada sorot kekecewaan yang mendalam di matanya, namun juga sedikit kelegaan karena Karenina akhirnya menyerah.
"Aku pergi dulu. Nanti siang kita makan di sini. Kamu enggak perlu repot masak. Aku akan bawakan."
Ia mengecup kening Karenina lalu pergi.
Karenina menyandarkan kepala di sofa. Napasnya terasa sesak. Udara seperti menipis.
Ia menatap pintu yang tertutup, seolah seluruh harapan ikut keluar bersama Aidan.
Inikah takdirnya? Menikah dengan pria mapan. Kehidupan "sempurna" yang dipuja banyak orang-kesempurnaan semu yang merenggut kebebasan dan harga dirinya.
Air mata kembali membanjiri pipinya, kali ini lebih deras, lebih pilu. Ia merasa terjebak dalam jaring laba-laba yang ia tenun sendiri. Ia merasa kosong, hampa, seolah jiwanya telah direnggut paksa.
Dalam kepasrahan itu, sebuah pertanyaan melintas di benaknya, pertanyaan yang seharusnya tidak pernah ia pikirkan: Apa yang akan terjadi jika ia memilih Bintang? Andai saja ia dulu lebih berani, lebih egois, lebih mendengarkan hatinya sendiri. Kini, penyesalan itu datang menghantam, menyisakan luka yang menganga dalam hatinya.
---
"Surprise!"
Karenina tersentak. Aidan datang membawa ayam goreng kesukaannya.
"Aku bawain makanan favorit kamu."
"Terima kasih," ucap Karenina, memaksakan senyum.
"Kamu ngapain aja dari tadi?"
"Nonton TV. Bosan..."
Aidan tersenyum. "Kamu harus membiasakan diri. Kamu akan tinggal di sini setelah kita menikah nanti. Atau kalau kamu mau kita akan pindah ke rumah yang besar dengan halaman yang luas. Kamu bisa menanam banyak bunga di sana. Kamu tak perlu kerja lagi."
Karenina terdiam, pasrah oleh takdir yang begitu nyata dan gamblang. Aidan akan menghancurkan perusahaan yang sudah dirintisnya dengan susah payah. Ia akan membuatnya menggantungkan hidup padanya. Agar ia tak bisa ke mana-mana lagi.
"Kamu harus makan banyak."
Aidan menyuapkan ayam ke mulutnya.
Karenina menelan dengan enggan. "Apa aku akan tinggal di sini sampai hari pernikahan?"
Aidan mengangguk. "Sebentar lagi. Malam ini kita telepon Mamamu dan orang tuaku."
Karenina semakin merasa sendiri, tanpa dukungan. Ia tahu Aidan sangat pandai mengambil hati Mama dan Kak Martin. Mereka selalu mempercayai setiap perkataan Aidan. Di mata mereka, semua yang dilakukan Aidan itu benar.
"Pacarmu tadi menelepon," ucap Aidan tiba-tiba.
Karenina hampir tersedak.
"Aku enggak angkat. Aku blokir nomornya."
Aidan tersenyum tipis. "Aku juga sudah ke kantormu. Aku bilang kamu enggak akan kembali. Danisa yang urus sementara."
Ia tertawa kecil. "Kamu harus lihat wajah Danisa waktu aku bilang kita menikah bulan depan."
Karenina terdiam. Danisa pasti syok. Dan Bintang... pasti sedang mencemaskannya.
"Kamu masih sakit?"
Aidan menyentuh bibir dan memar di tubuh Karenina.
Karenina mengangguk.
"Maafkan aku," ucap Aidan lirih. "Aku benar-benar hilang kendali. Aku janji enggak akan menyentuhmu lagi sampai kamu sembuh."
Tatapan penuh penyesalan itu membuat Karenina semakin merasa kosong.