Di halaman parkir apartemen, Bintang berjalan cepat menghampiri sebuah mobil yang terparkir, lalu masuk ke dalamnya. "Kita mau ke mana, Nin?" tanyanya bingung.
Karenina hanya tersenyum tipis, pandangannya lurus ke depan saat menyalakan mesin. "Ke tempat yang kamu kenal."
Tak lama, mobil berhenti di depan sebuah rumah yang familiar namun terasa asing bagi Bintang. "Ini kan... rumah orang tuamu?"
Karenina mengangguk pelan. "Sekarang sudah kosong. Papa meninggal dua tahun lalu, Mama pindah ke rumah Kak Martin di Bali," sahutnya. "Dulu kamu pernah mengantarku ke sini. Kamu ingat?"
Bintang tersenyum simpul, kenangan itu langsung menyeruak. "Tentu saja aku ingat. Aku mengantarmu dan teman-temanmu ke sini setelah pesta perpisahan itu." Ada kehangatan dalam suaranya.
Karenina tertawa kecil saat mengingatnya. "Dan kita pesta lagi di sini sampai pagi," tambahnya, melengkapi potongan puzzle nostalgia itu.
Ia lalu membawa Bintang ke halaman belakang yang sepi. Hanya ada dua kursi besi putih yang mulai mengelupas, menjadi saksi bisu keheningan di antara mereka. Keheningan yang tidak lagi hangat, melainkan penuh sesak oleh rahasia yang tidak sanggup diucapkan
"Apa yang mau kamu bicarakan, Nin?" Bintang memecah keheningan yang canggung itu.
"Bin..." Ada nada kesedihan yang tak bisa disembunyikan Karenina. "Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kita."
Bintang menahan napas. Jantungnya berdebar kencang. "Kenapa?" suaranya tercekat.
"Aidan sudah tahu tentang hubungan kita," lanjut Karenina. "Dan... tinggal menunggu waktu sampai dia datang menemuimu."
"Menemuiku?" Bintang menatap, antara terkejut dan tak percaya.
Karenina mengangguk pelan, meyakinkan Bintang akan ucapannya. "Kamu tidak kenal Aidan. Dia sangat posesif. Dia pernah menyuruh orang mendatangi mantanku untuk mengancamnya, hanya karena sebuah pesan singkat menanyakan kabar."
Bintang merasa darahnya berdesir dingin. Hatinya diliputi kekhawatiran yang mendalam-bukan untuknya, tapi untuk Karenina.
"Tinggalah di sini sementara waktu. Sampai keadaan aman. Aidan tidak akan mencarimu di sini."
"Nin..." Bintang merasakan ada sesuatu yang tak beres. "Apa kamu akan baik-baik saja?" Suaranya bergetar cemas.
"Selama aku menurutinya, aku akan baik-baik saja." Suara Karenina terdengar pasrah. "Aku harus segera kembali."
Karenina beranjak bangun, tapi tangan Bintang menahannya dengan genggaman kuat. "Jawab aku, Nin. Apa dia memaksamu menikahinya? Apa dia pernah... menyakitimu?" Bintang menatap tajam, seolah ingin menembus dinding rahasia yang disembunyikan Karenina. "Aku ingin tahu seberapa jauh laki-laki itu sudah menghancurkanmu."
Karenina tetap enggan menjawab. Ia menarik tangannya dari genggaman Bintang. "Apa bedanya, Bin? Enggak ada yang bisa kamu..."
Tiba-tiba saja ciuman Bintang mendarat di bibirnya. Singkat, namun cukup membuat Karenina merasa terbang ke awan.
"Aku tidak peduli seberapa gila Aidan, aku tidak akan membiarkan dia memilikimu dengan cara seperti ini," bisik Bintang.
Kata-kata Bintang bagai embun penyejuk di tengah badai yang melanda hati Karenina. Namun, kenyataan pahit kembali menyeruak. Ada Aidan, ada pernikahan yang tak bisa ia batalkan. Dengan berat hati, Karenina menggelengkan kepala.
"Kamu enggak bisa, Bin... Ini terlalu rumit." Air mata Karenina menggenang di pelupuk matanya. "Aku harus pergi."
***
Malam itu di sofa apartemen Aidan. Karenina berusaha melepaskan diri dari rengkuhan erat Aidan dan ciumannya yang intens. "Aidan lepas... aku lagi enggak kepingin."
Aidan menghela napas kasar, melepaskan tangannya dengan gerakan jengkel. "Dari semalam kamu terus menghindar," rajuknya dengan tatapan muram.
"Aku lagi malas," elak Karenina, sorot matanya menghindari tatapan Aidan. "Kita kan, bisa melakukan hal lain. Nonton di bioskop? Jalan-jalan ke taman, keliling kota, kulineran kayak orang-orang. Aku bosan."
Aidan terdiam sejenak, alisnya berkerut. "Kamu jadi aneh lagi," katanya serius. "Sejak kapan kamu suka jalan-jalan ke taman? keliling kota? Buat apa?"
Karenina menghela napas panjang. Aidan memang tidak akan pernah mengerti. Dunianya hanyalah tembok pencakar langit yang dingin dan sunyi. Setelah mengenal Bintang, kini ia merasakan hidupnya terasa begitu datar dan hambar. Apakah ini yang akan ia jalani jika mereka benar-benar menikah nanti?
Belum sempat pikiran itu berakar, tiba-tiba saja kepala Aidan sudah rebah di pangkuannya.
Aidan mendongak. "Kamu lagi mikirin siapa?" tanyanya, seraya membelai pipi Karenina.
"Mikirin kamu," jawab Karenina asal.
"Kamu makin pintar bohong." Aidan tersenyum sinis.
"Kamu mau aku jawab apa?" Karenina bertanya dengan nada kesal.
"Bintang?"
Karenina merasa jantungnya berhenti berdetak. Tubuhnya menegang. Ketakutan menembus matanya. Dunia seolah berhenti berputar di kepala Karenina. Oksigen di paru-parunya mendadak menguap, meninggalkan rasa perih yang mencekat.
Sorot mata Aidan yang tadinya tenang, kini berubah menjadi lubang gelap yang siap menelannya hidup-hidup.
"Kamu pikir aku bodoh?" Aidan beranjak duduk. Tangannya kembali merengkuh Karenina. "Tapi sekarang aku sudah tidak khawatir. Mulai besok parasit itu sudah jadi pengangguran."
Suara Aidan begitu tenang, seolah menghapus masa depan seseorang adalah hal lumrah untuk menertibkan hidupnya.
Mata Karenina membelalak. "Apa yang kamu lakukan?" Suaranya tercekat.
"Aku cuma bilang, dia... mengganggu calon istriku."
Napas Karenina tertahan. Matanya berkaca-kaca. "Kamu jahat..."
"Kamu selingkuh, sayang..." Aidan berbisik dingin. Rangkulan tangannya semakin erat, menekan d**a Karenina.
"Dia tidak pernah menyentuhku!"
"Dia memelukmu! Di ruanganmu! Di perusahaan yang aku bangun untukmu!" Suara Aidan menggema, memecah kesunyian ruangan itu. Matanya berkilat menatap Karenina.
Karenina terkesiap. Seketika ia teringat Aidan memiliki akses ke seluruh ruangan kantornya. Tubuh Karenina bergetar. Ketakutan menyergapnya.
"Tapi kali ini aku memaafkanmu." Aidan menyeringai dingin. "Karena dia tidak sempat menidurimu."
"Kamu kurang ajar, Aidan! Dia bukan kamu!" Karenina mendorong Aidan, melepaskan pelukannya.
Aidan tersentak. Kilat di matanya berubah menjadi nyala api. "Kamu pikir dia akan cukup hanya dengan pelukan? Lupakan dia! Atau aku akan mencarinya!"
"Kalau kamu membuatnya dipecat, aku tidak akan menikahimu!" ancam Karenina.
Aidan tiba-tiba mencengkeram kedua bahu Karenina, sorot matanya tajam, penuh intimidasi. Perlahan, wajahnya mendekat, nyaris menyentuh wajah Karenina yang pucat pasi. Hembusan napas Aidan yang panas menerpa kulitnya, membuat tubuh Karenina bergetar hebat.
"Kalau kamu membatalkan pernikahan kita karena dia..." desis Aidan, "aku akan menghancurkan kariernya... melenyapkan perusahaanmu dan semua yang kuberikan padamu... Lalu aku akan mengusir kakakmu dari perusahaanku di Bali. Aku akan pastikan kamu kembali ke titik nol... tanpa siapa pun, tanpa apa pun... Aku akan membuatmu menyesal karena sudah mempermainkanku." Suara Aidan bergetar oleh amarah yang siap meledak. "Apa kamu masih mau membatalkan pernikahan kita?"
Karenina menggeleng dengan sisa tenaganya. Air matanya menetes.
Aidan tersenyum menyeringai. Lalu tiba-tiba saja...
Monster itu keluar.
Ia menarik tubuh Karenina, melucuti paksa seluruh pakaiannya, lalu mulai melampiaskan seluruh amarahnya di tubuh itu. Ia tidak lagi menyentuh dengan cinta, melainkan dengan amarah yang purba. Setiap inci kulit Karenina menjadi kanvas bagi dendamnya yang membara. Aidan tidak hanya mengambil raga Karenina, ia sedang menghisap martabat dan sisa-sisa keberanian wanita itu hingga nyaris tak bersisa. Ia tak peduli dengan rintihan kesakitan Karenina. Ia seolah sengaja ingin membuat tubuh itu merasakan sakit yang ia rasakan.
Hingga akhirnya tubuh Karenina tak lagi mampu menahan. Dengan sisa suara yang ada, dan deraian air mata, ia menatap mata monster itu.
"Kalau kamu mencintaiku, aku mohon... berhentilah."
Monster itu akhirnya berhenti. Tubuhnya telanjangnya terkulai lemas di samping Karenina.
"Kamu yang memulainya, Nin. Kamu menyakiti hatiku," bisiknya parau. Air matanya menetes. Ia mendekap kembali tubuh tak berdaya itu... sepanjang malam.
Di balik sisa napasnya yang masih memburu, Aidan membenamkan wajahnya di ceruk leher Karenina yang kini penuh tanda kemerahan. Ada keheningan yang menyakitkan di sana—sebuah keheningan di mana amarah telah habis terbakar dan hanya menyisakan abu penyesalan yang dingin. Matanya yang tadi berkilat haus darah, kini meredup, digantikan oleh genangan air mata yang jatuh tanpa suara. Ia memeluk Karenina seolah wanita itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra kegilaannya sendiri. Sebuah pelukan yang terasa seperti penjara, namun juga seperti permohonan ampun yang tak sanggup ia ucapkan
Dan dalam dekapan yang menyesakkan itu air mata Karenina tak henti berderai. Tubuhnya terasa remuk, hatinya hancur berkeping-keping. Laki-laki itu bukan lagi kekasih yang ia kenal, tapi monster yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya, untuk menghancurkan apapun yang tak tunduk padanya.