Malam mulai merayap, menyelimuti kantor yang kini sunyi. Karenina sendirian, membiarkan keheningan menemani. Semua karyawannya sudah pulang, termasuk Danisa.
Di ruangan yang dingin itu, Karenina menyandarkan tubuh di kursi panjang, menunggu Bintang.
Tak lama, suara langkah kaki memecah keheningan.
Bintang masuk dengan senyum kecil merekah di wajahnya.
"Hai," sapanya.
Karenina menegakkan punggung. Ia menyambut Bintang dengan perasaan yang kini semakin dalam, meski ia tahu-Bintang datang untuk urusan pekerjaan.
"Kamu ketinggalan ini." Bintang mengulurkan kalung Bunga Matahari pada Karenina.
Karenina menggeleng pelan. "Aku enggak lupa. Aku sengaja ninggalin buat kamu."
Senyum Bintang mengembang. "Terima kasih," ucapnya tulus. Matanya menatap penampilan Karenina yang tak seperti biasanya. "Kamu cantik sekali hari ini."
"Terima kasih." Karenina tersipu. Tatapan itu menyeretnya kembali ke masa kuliah, saat debar serupa kerap ia rasakan.
"Aku bawain contoh kemasan yang kamu pilih kemarin." Bintang membuka tasnya, mengeluarkan botol kecil, lalu mengulurkannya.
Tatapan Karenina berbinar menatap gambar Bunga Matahari yang terlukis indah di botol itu.
"Kamu bilang aku enggak suka hujan? Dari mana kamu tahu?" tanya Karenina tiba-tiba.
"Aku tahu banyak hal tentangmu."
Karenina menatap Bintang lama. Jantungnya berdegup kencang saat sebuah pertanyaan lolos dari bibirnya.
"Apakah kamu masih mencintaiku?"
"Bukankah itu sudah enggak penting?" jawab Bintang pelan. "Kita sudah sama-sama terikat."
"Tapi aku masih mencintaimu, Bin..." Suara Karenina bergetar.
Bintang tertegun sejenak. "Maafin aku..." ucapnya lirih.
"Buat apa?"
"Seandainya dulu aku berani mengatakannya..." Nada penyesalan jelas terdengar.
"Apa yang bikin kamu takut?"
Bintang menghela napas. "Kamu sangat berbeda. Kamu bersinar. Cantik, pintar... kamu selalu dikelilingi banyak laki-laki. Dan aku merasa... enggak sebanding."
Karenina membalas tatapan bening itu. "Padahal aku nungguin kamu. Aku pikir kamu enggak tertarik. Kamu kelihatan begitu acuh."
"Kita memang enggak berjodoh," gumam Bintang.
"Kenapa kita enggak mulai lagi, Bin?"
Keterkejutan tak sempat disembunyikan Bintang. "Kita sudah sama-sama terikat, Nin."
"Apa kamu mencintai Naira?"
Bintang terdiam.
Saat itu juga Karenina tahu-dugaannya benar. Bintang tidak mencintai Naira.
"Kenapa enggak kita coba, Bin. Biar takdir yang bawa kita."
"Nin... jangan korbankan dirimu. Itu enggak akan terjadi. Sebentar lagi kamu menikah."
"Sekarang aku jadi enggak yakin."
"Apa kamu enggak mencintai dia?"
Karenina diam, bingung. "Aku enggak tahu," jawabnya lirih. "Tapi dia sangat mencintaiku."
"Itu sudah cukup. Pernikahan enggak cuma soal cinta."
"Aku enggak ngerti, Bin... kalau aku mencintai Aidan, harusnya aku bisa melupakanmu."
"Kita enggak harus mengerti," ujar Bintang pelan. "Kita cuma harus menerima."
Air mata menggenang di pelupuk mata Karenina.
"Jangan menangis." Bintang menghapus air matanya dengan jemari. "Kita masih bisa saling mencintai tanpa harus memiliki," bisiknya.
"Itu klise."
Bintang terkekeh kecil.
"Berjanjilah kamu akan terus mencintaiku?" Tatapan Karenina lekat, penuh harap.
"Cinta enggak bisa dipaksa. Tapi aku akan berusaha."
Karenina tersenyum. Ucapan itu justru meneguhkan keyakinannya-bahwa cintanya layak diperjuangkan, apa pun caranya.
...
Karenina memejamkan mata sejak Aidan mulai menciumi wajahnya, lalu bergerilya di atas tubuhnya. Ia diam. Dalam benaknya, yang hadir bukan Aidan-melainkan Bintang. Menciuminya. Memeluknya. Menyentuhnya.
Hingga tubuh berat Aidan terguling lemas di sampingnya, barulah Karenina membuka mata.
"Kamu kenapa jadi dingin?" tanya Aidan, kecewa.
"Hm... aku cukup kecapean," sahut Karenina gugup.
"Dari baru datang kamu sudah aneh." Aidan berbalik memunggunginya.
"Maaf." Karenina menghela napas, lalu memeluk punggung Aidan, mencium wajahnya. Ia harus menenangkannya-kalau tidak, hari-harinya akan berubah jadi neraka karena tantrum Aidan.
Aidan kembali mencumbunya.
Karenina memejamkan mata. Wajah Bintang terlukis jelas. Ciuman Aidan begitu mesra, menenggelamkannya dalam kenikmatan, hingga tanpa sadar satu nama meluncur dari bibirnya.
"Bintang..."
"SIAPA BINTANG?!"
Suara Aidan menggelegar, menyentaknya.
Karenina terperanjat. Mendapati wajah Aidan menatap tajam. Napasnya memburu. Tubuh berat itu kembali menindihnya hingga d**a terasa sesak.
"Aidan... lepasin aku," bisiknya.
Namun Aidan justru menekan tubuhnya lebih keras.
"Siapa Bintang, Nin?"
"Aidan, please... aku sesak..."
"Jawab dulu!"
Aidan membiarkan Karenina meronta di bawahnya.
"Bukan siapa-siapa," Karenina terengah. "Aku cuma lagi mikirin produk baru."
Aidan tak langsung percaya. Ia membiarkan Karenina menjerit, memohon, hingga hampir menangis.
Dan saat akhirnya ia melepasnya, Karenina segera bangkit, menjauh.
"Kamu keterlaluan, Aidan! Aku bisa mati kehabisan napas!"
Aidan tersenyum menyeringai.
"Kamu enggak akan mati sebelum nikah sama aku."
Karenina menyambar ponselnya, lalu masuk ke kamar mandi, meninggalkan Aidan yang tertawa puas.
Di depan cermin, bayangannya tampak rapuh. Pertanyaan Aidan tadi menusuk dalam. Ia tahu-ini baru permulaan. Aidan pasti akan menyelidiki Bintang sampai ke akar.
Dengan tangan gemetar, Karenina mengetik pesan darurat pada Danisa:
"Hubungi Bu Sita sekarang! Batalkan semua meeting dengan Bintang. Kalau Aidan nelepon, bilang Bintang itu perempuan!"
Ia menutup ponsel tepat saat Aidan berteriak memanggilnya.
"Honeeey!"
Jantung Karenina berdegup kencang.
Aidan sudah mengenakan kaos dan celana pendek, menekan-nekan remote TV. "Kita nonton film." Ia menepuk sofa di sampingnya.
Karenina duduk dengan perasaan takut.
"Kamu jangan terlalu stres." Aidan merangkul bahunya.
Namun pelukan itu terasa lebih seperti jerat.
"Bintang itu lelaki atau perempuan?"
Nada Aidan santai, tapi bagi Karenina terdengar seperti ledakan. Ia tahu-Aidan tak akan berhenti sebelum mendapat jawaban.
"Nin...?" desak Aidan.
"Dia-"
Bunyi pesan masuk terdengar.
Karenina bergegas mengambil ponselnya. Senyumnya merekah saat membaca balasan Danisa.
"Sudah. Semua meeting dibatalkan. Bu Sita sudah diberitahu tentang Bintang."
Napas lega terembus.
"Dari siapa?" Aidan tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Danisa. Kerjaan," jawab Karenina cepat. "Oh iya, soal Bintang-dia perempuan. Desainer kemasan produk."
Aidan tak bertanya lagi.
Karenina menghela napas lega.
Ia bukan takut ditinggalkan Aidan. Ia takut Aidan menyakiti Bintang.
Aidan bukan hanya posesif-ia pendendam. Dan ia pernah melakukannya. Aidan pernah menyuruh dua pria mendatangi rumah Dimas, mantannya, hanya karena Dimas menanyakan kabar.
Dadanya kembali terasa sesak.
Haruskah ia mengakhiri hubungan terlarang itu?
Karenina menggenggam dadanya, masih mengingat rasa sesak saat tubuh Aidan menindihnya.
Ia tahu-bahaya itu nyata.