Vonis Takdir

765 Words

Di sebuah sudut kafe kecil di pinggiran Jakarta, Bintang menyesap kopinya yang mulai mendingin. Uapnya tak lagi mengepul, seolah ikut membeku bersama gumpalan pikirannya yang carut-marut. Sebuah helaan napas berat lolos dari bibirnya, membawa beban yang sulit ia definisikan sendiri. Seharusnya, saat ini ia sudah dalam perjalanan kembali ke Malang. Namun, sebuah pesan singkat dari wanita bernama Trisha mengubah segalanya. "Aku harus bertemu kamu. Ini tentang Karenina." Kalimat itu bagai tusukan jarum pada luka lama—membangkitkan kembali kegelisahan yang sempat ia tekan jauh-jauh. Karenina... gadis itu selalu memiliki cara untuk mengacaukan ritme hidupnya. Kafe ini, dengan furnitur kayu gelap yang mulai memudar, terasa seperti jembatan waktu. Ia ingat, saat-saat di bangku kuliah dulu. Me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD