The Forgotten Child

1214 Words

Ruang kerja di puncak gedung pencakar langit itu diselimuti keheningan, hanya aroma kopi yang baru diseduh menguar lembut, seolah menjadi penawar hiruk pikuk Jakarta yang bergulir di bawah sana. Aidan, tanpa ekspresi, duduk di kursi tamu ruang kerja Ronald Pratama, Sang Papa. Ia menatap layar tablet di tangannya dengan serius, sementara jemarinya mengusap permukaan kaca itu dengan gerakan kaku. "Laporan keuangan kuartal ini sempurna, Dan," ucap Ronald seraya menutup dokumen di mejanya. "Proyek apartemen baru kita juga lancar penjualannya." Ia tersenyum, menatap Aidan dengan binar bangga di matanya. Aidan hanya tersenyum singkat, sebuah lengkungan bibir yang formal namun dingin. Karena buatnya keberhasilan itu hal biasa, yang tak biasa itu adalah kegagalan. Dan ia, hampir tak pernah gag

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD