Trisha menatap pantulan dirinya dalam cermin, sorot matanya tajam dan penuh amarah. Hatinya bergolak hebat, dadanya terasa sesak, terhimpit bukan hanya oleh cemburu dan dendam, tapi juga rasa terhina yang membakar. Ia merasa seolah ada sesuatu yang patah di dalam dirinya—sesuatu yang tak akan pernah bisa ia perbaiki. Dan semua itu karena Karenina. Kini, perempuan itu bukan lagi sekadar saingan, melainkan representasi sempurna dari ketidakadilan yang menghampiri hidupnya. Nurani Trisha kini seolah mati rasa, terkunci rapat oleh kemarahan dan kebencian yang kian menggerogoti jiwanya. Sebuah tekad baru muncul, bukan untuk bangkit dan melupakan, melainkan untuk sebuah pembalasan. Tangan Trisha terkepal erat hingga buku jarinya memutih, menggenggam tekad yang bergemuruh kuat dalam hatinya: "J

