Berdiri di depan rumahnya, Karenina menunggu Rifan dengan tak sabar. Jantungnya berdebar, ingin segera mengetahui kebenaran di balik kiriman misterius itu. Saat akhirnya pria itu menampakkan diri, ia berlari kecil menghampirinya. “Mas Rifan!” “Pasti mau tanya tentang Pak Adi, kan?” tebak Rifan sambil tersenyum geli. “Iya. Gimana, Mas? Bener enggak dia yang kirimin buah sama kue itu?” Karenina bertanya cepat. Rifan menggeleng. “Katanya bukan.” “Beneran?” Rifan mengangguk. “Kalau enggak percaya, tanya aja langsung ke orangnya.” “Kalau bukan dia, terus siapa?” desak Karenina. “Saya yakin itu tunangannya Mbak Karin.” “Enggak mungkin,” sangkal Karenina cepat. “Loh, kenapa enggak mungkin? Memangnya… lagi ada masalah?” Tatapan Rifan menyelidik. “Enggak…” Karenina mengelak sambil mengal

