Cinta Kadang Melemahkanmu

1128 Words
Dari balik tirai jendela, Karenina menatap boks karton kuning mencolok yang tergeletak di atas pagar rumahnya. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Kiriman lagi. Ia bergegas mengambilnya, jantungnya berdebar oleh rasa penasaran. Tanpa pengirim lagi. Alisnya bertaut. Ini pasti dari orang yang sama yang mengiriminya sekeranjang buah mewah tiga hari lalu. Siapa dia sebenarnya? Pertanyaan itu berputar-putar di benaknya. Namun kebingungan itu segera sirna, tergantikan senyum lebar begitu ia membuka boks itu. Di dalamnya, tersusun rapi cheese tart—kue kesukaannya. Tapi… bagaimana dia tahu? “Ehm! Kiriman rahasia lagi nih, kayaknya…” Suara itu mengejutkan Karenina. Ia menoleh. Rifan sudah berdiri di depan rumah, rapi, siap berangkat kerja. Pria itu memang selalu muncul di waktu yang tepat. Karenina tersenyum, lalu mengulurkan boks kue itu ke arahnya. “Sekarang dia kirim kue kesukaan saya. Cobain, Mas.” Rifan mengambil satu, lalu menggigitnya. “Wah, enak juga ya punya secret admirer kayak gini. Yang dia kirimin semuanya mahal-mahal,” ucapnya di sela kunyahan. “Tiga hari lalu saya kasih mangga ke Mbak Karin, besoknya ada kiriman buah mahal. Kemarin saya kasih martabak, eh hari ini ada yang kirimin kue lebih mahal lagi. Fix, ini sih yang kirim pacarnya Mbak Karin. Kayaknya dia cemburu tapi enggak mau ngaku. Mbak Karin cerita ke dia, ya?” Ucapan Rifan seketika menyadarkan Karenina. Berarti selama ini si pengirim itu memperhatikannya? Tanpa sadar, pandangannya melayang ke rumah di seberang. Lampunya masih menyala. Orang itu pasti sudah pergi. Apakah dia pengirimnya? “Saya enggak pernah cerita apa-apa ke pacar saya…” gumam Karenina, nyaris tak terdengar. “Oh ya?” Rifan menatapnya tak percaya, lalu ikut melirik ke arah rumah seberang. “Apa dia masih suka ngintip Mbak Karin?” Karenina mengangguk ragu. “Jangan-jangan dia itu secret admirer-nya Mbak Karin?” Karenina kembali menatap rumah itu. Perasaannya mendadak tak enak. Siapa lagi yang tahu kue kesukaannya selain Danisa dan… Aidan? Tapi bagaimana mungkin? Danisa tidak mungkin memberitahukan alamatnya pada Aidan. Ia bahkan sudah sangat berhati-hati agar tidak diikuti saat ke sini. Lagipula, Aidan tak mungkin membiarkannya berbicara akrab dengan lelaki mana pun. Dia pasti tak akan sanggup menahan cemburu. Tapi kalau bukan dia, lalu siapa? Karenina menatap kembali kue di tangannya. Sangat menggiurkan, tapi kini ia ragu untuk memakannya. “Mbak Karin…” “Iya, Mas?” “Nanti sore, pulang kerja, saya mau menemui Pak Adi itu.” “Pak Adi?” “Iya. Penghuni rumah itu. Daripada kita curiga terus, mending kita tanyakan langsung ke orangnya. Siapa tahu dia lihat siapa yang naruh kiriman.” Karenina mengangguk. “Makasih, Mas,” ucapnya tulus. “Saya berangkat dulu, ya, Mbak. Dimakan saja kuenya. Aman, kok,” ujar Rifan, seolah tahu isi pikiran Karenina. Setelah Rifan berlalu, Karenina kembali menatap rumah di seberang. Kakinya melangkah mendekat. Teras rumah itu masih berdebu, dan tanaman-tanamannya kini tampak mati. Namun tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada sepasang sepatu hitam yang tergeletak di depan pintu. Itu kan, sepatu… Karenina menggeleng pelan. “Enggak mungkin…” gumamnya. --- “Naira!” Suara nyaring itu membuat Naira tersentak dari lamunannya. “Iya, Mah?” Mama sudah berdiri di sampingnya. “Kamu nyetrika kok sambil melamun? Itu bajunya sudah mau gosong!” omel Mama. Naira buru-buru mematikan setrika. “Kamu melamunkan apa, Nai?” “Enggak, Mah.” Naira menggeleng. “Tapi Mama perhatikan sudah dua hari ini kamu jadi pendiam.” “Enggak ada apa-apa, Mah…” sahut Naira sambil merapikan tumpukan pakaian yang sudah disetrikanya. “Duduklah dulu, Nai. Bicaralah sama Mama, mumpung suamimu lagi keluar.” Naira tak kuasa menolak. “Apa ada masalah dengan suamimu?” tanya Mama lembut. Namun Naira ragu. Ia bingung, haruskah menceritakan semua ini? Selama ini ia hanya bercerita pada Mbak Mai. “Nai… Mbakmu sudah menceritakan masalahmu ke Mama.” Naira menatap Mama terkejut. Rasa malu dan bersalah menyelimutinya. Dulu Mama sempat tak menyetujui pernikahannya dengan Bintang, merasa laki-laki itu tak cukup mencintainya. “Kamu enggak perlu malu. Dan jangan menyalahkan Mbak Mai. Dia melakukan itu karena sayang sama kamu.” “Maafin Nai, Mah. Nai memang salah…” “Semua orang pernah berbuat salah. Apalagi dalam pernikahan. Tidak ada pernikahan yang sempurna. Menyatukan dua pribadi berbeda itu tidak mudah. Semua butuh proses. Tinggal sekarang kamu mau bertahan atau tidak.” “Nai enggak tahu, Mah…” “Kamu harus pikirkan matang-matang. Dulu kamu yang memaksa Mama menerima lamaran Bintang. Kamu begitu yakin akan hidup bahagia dengannya.” “Nai bahagia… sebelum perempuan itu menggoda Bintang.” “Jangan cuma menyalahkan orang lain, Nai. Akui saja, suamimu juga salah. Kalau dia cukup mencintaimu, dia enggak akan tergoda siapa pun. Karena laki-laki yang mencintai perempuannya tak akan sanggup menyakiti hatinya. Dan kami sudah pernah mengingatkanmu—dia menikahimu hanya untuk mengisi kesepian hidupnya.” “Mama…” Air mata Naira luruh. “Kamu harus dengar ini, Nai. Sejak kuliah kamu berjuang mati-matian mengejar cintanya. Saat akhirnya dia menikahimu, kamu pikir kamu sudah menaklukkan hatinya. Tapi ternyata kamu salah.” “Tapi Nai enggak bisa ninggalin dia, Mah. Nai sangat mencintainya…” “Kalau begitu, teruslah berjuang. Jangan cengeng. Jangan jadi lemah.” “Tapi Nai enggak tahu lagi caranya…” Naira menatap Mama putus asa. Mama menarik napas panjang, menatap putrinya sungguh-sungguh. “Cinta kadang bisa menguatkanmu, tapi juga bisa melemahkanmu. Dan sekarang cintamu pada Bintang membuatmu lemah. Kamu melupakan dirimu sendiri. Kamu tidak menghargai dirimu.” “Terus Nai harus gimana, Mah?” “Sebelum mencintai orang lain, cintailah dirimu sendiri. Kalau kamu mencintai dirimu, kamu enggak akan membiarkan siapa pun menyakiti hatimu.” “Tapi Nai enggak tahu caranya…” “Berdoalah, Nai. Mintalah petunjuk dari-Nya. Dengarkan kata hatimu. Kalau dia jodohmu, Allah akan memudahkan jalannya. Tapi kalau bukan, kamu harus belajar menerima dengan lapang d**a. Percayalah, Allah lebih tahu yang terbaik.” “Tapi Nai enggak mau berpisah, Mah…” isak Naira. Mama menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Kini ia sadar, cinta bukan hanya melemahkan putrinya, tapi juga membutakan mata hatinya. Naira yang dulu ceria kini begitu rapuh, seolah seluruh hidupnya terkikis oleh satu nama: Bintang. Hatinya perih melihat luka yang menganga di jiwa putrinya. “Nai…” Mama mengusap rambut Naira lembut. “Mama tahu ini berat. Tapi kebahagiaanmu adalah tanggung jawabmu sendiri. Jangan pernah menggantungkan kebahagiaan pada orang yang tidak menghargai dirimu seutuhnya.” Ia memeluk Naira. Tubuh itu bergetar hebat. Ia tak memaksanya mengambil keputusan apa pun. Ia hanya ingin putrinya bahagia—bahagia yang lahir dari dalam dirinya sendiri, bukan karena orang lain. Naira terisak dalam pelukan Mama. Hatinya kalut. Di satu sisi ia mencintai Bintang terlalu dalam, di sisi lain luka pengkhianatan itu perlahan menggerogoti harga dirinya. Kebenaran pahit itu mulai meresap, merobek keyakinannya sendiri. Apakah ada batas akhir dalam memperjuangkan cinta? Ataukah ia harus mengorbankan kebahagiaan dan harga dirinya demi cinta yang mungkin tak akan pernah utuh lagi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD