Dari balik jendela, Karenina menatap sebuah keranjang berisi aneka buah segar yang tampak sengaja diletakkan seseorang di pagar tembok rumahnya. Dengan hati penuh tanya, ia membuka pintu lalu mengambilnya.
Ah, baik sekali Mas Rifan, gumamnya dalam hati.
"Wah, habis beli buah, nih, Mbak Karin?"
Suara itu membuatnya terkejut. Karenina menoleh dan mendapati pria bernama Rifan keluar dari dalam rumahnya, mengenakan jaket dan helm, tampak siap berangkat kerja.
"Loh... ini bukannya dari Mas Rifan?" tanyanya, sedikit bingung.
Pria itu menggeleng. "Bukan, Mbak. Emangnya enggak ada nama pengirimnya?"
Karenina kembali menatap keranjang buah itu, mencari secarik kertas atau tanda pengenal. "Enggak ada," sahutnya, dahinya berkerut.
"Siapa tahu dari pacarnya Mbak Karin? Sengaja kasih surprise!" goda Rifan sambil tersenyum jahil.
Sekilas Karenina teringat Aidan. Ah, enggak mungkin. Dia kan enggak tahu alamatnya, tepisnya cepat.
Atau Danisa? Tapi biasanya dia selalu memberi tahu lebih dulu. Kecuali… dia lupa?
"Atau... dari secret admirer-nya Mbak Karin?" imbuh Rifan, mengedipkan mata.
"Ah, Mas Rifan bisa aja." Karenina tersenyum tipis. "Mau berangkat kerja, Mas?"
"Iya, nih. Mbak Karin mau titip sesuatu?"
Karenina menggeleng. "Enggak, Mas. Terima kasih."
"Kalau gitu, saya jalan dulu, ya." Rifan menyalakan mesin motornya.
Tiba-tiba Karenina teringat sesuatu.
"Oh ya, saya mau tanya. Mas Rifan kenal tetangga baru kita yang di depan itu?" tanyanya, menunjuk rumah di seberang.
"Penghuni baru itu?" Rifan tampak berpikir sejenak. "Belum pernah ketemu orangnya, Mbak. Memangnya kenapa?"
"Oh, enggak. Cuma kepingin tahu aja. Soalnya orangnya enggak pernah kelihatan. Mobilnya aja yang kadang ada."
"Hmm… nanti saya coba kenalan dulu. Kalau sudah terverifikasi, nanti saya kenalin ke Mbak Karin," seloroh Rifan.
"Verifikasi?" Karenina mengernyit.
"Iya. Siapa tahu dia penjahat."
Ucapan itu membuat Karenina tak bisa menahan tawa.
"Mas Rifan bisa aja…"
"Saya berangkat dulu, ya, Mbak."
"Hati-hati, Mas."
Setelah Rifan pergi, Karenina kembali menatap rumah di depannya. Tidak ada mobil terparkir. Penghuninya tampaknya belum pulang.
Rasa penasaran mendorongnya melangkah mendekat. Ia berdiri di depan pagar yang tertutup rapat.
Aneh… seolah tak ada tanda-tanda kehidupan. Lampu rumah masih menyala, tirai jendela tertutup rapat, lantai teras berdebu, dan tanaman dalam pot tampak layu kekurangan air.
Rumah ini seperti hanya disinggahi, batinnya.
Atau… jangan-jangan…
Pikiran itu membuat Karenina bergidik sendiri. Ia pun buru-buru berbalik dan masuk ke rumah.
---
Di ruang kerja Karenina yang ditinggalkan, Aidan menatap layar komputer di hadapannya dengan kening mengerut.
"Ini semua kamu yang bikin?" tanyanya tak percaya. Sorot matanya tajam.
"Iya." Danisa mengangguk, jantungnya berdebar, menyadari kecurigaan Aidan curiga. Ia juga yakin Aidan bisa menebak siapa yang membuat bisnis plan itu.
"Oke. Terus marketing-nya gimana? Sekarang budget kita kan sudah dipotong lima puluh persen," lanjut Aidan.
"Kita fokus lewat media sosial, tanpa influencer, tanpa selebriti," jelas Danisa. "Kita manfaatkan pelanggan sendiri. Mereka diminta bikin dokumentasi video before dan after pemakaian skincare selama beberapa waktu sampai hasilnya kelihatan. Sebagai kompensasi, kita kasih paket produk gratis."
"Before–after?" Aidan menyela. "Berapa lama sampai kelihatan hasilnya?"
"Itu tergantung kondisi kulit masing-masing. Tapi kita pilih yang hasilnya paling signifikan. Kita juga sediakan konsultasi kulit gratis secara online supaya pemakaiannya tepat."
"Hmm…" Aidan menatapnya lekat-lekat. "Itu... idemu?"
Danisa menarik napas. Kesabarannya habis.
"Terserah kamu, Aidan. Kalau enggak setuju bilang aja."
Ia tahu itu bukan idenya. Tapi untuk apa memperdebatkannya? Kalau memang tak setuju, katakan saja.
Saat Aidan akhirnya tak lagi berkata apa-apa, Danisa segera kembali ke mejanya.
---
Naira memainkan gelas di hadapannya tanpa tujuan. Matanya memandang wanita di depannya yang sibuk di depan kompor.
"Jadi aku harus gimana, Mbak...? Kalau semua yang aku lakukan selalu salah di matanya?" tanyanya lirih.
"Kamu harus jadi diri kamu sendiri, jangan jadi orang lain," sahut wanita itu tanpa menoleh.
"Aku takut dia enggak cocok."
"Enggak cocok?" Wanita itu akhirnya menoleh, heran.
"Aku kan, biasa aja, Mbak, enggak istimewa. Gimana kalau nanti dia kecewa dan ninggalin aku?"
Wanita itu menggeleng pelan. "Dari mana kamu tahu dia enggak cocok sama kamu apa adanya? Buktinya dia menikahimu, Nai."
"Mungkin... karena kasihan."
"Nai," suaranya melunak, "kamu itu adik Mbak yang paling percaya diri. Enggak ada laki-laki menikahi perempuan cuma karena kasihan."
Naira menunduk. "Tapi aku enggak secantik Karenina. Enggak sepintar dia, seanggun dia."
Wanita itu mematikan kompor, lalu duduk di hadapan Naira sambil meletakkan sepiring apel goreng yang baru diangkat.
"Kamu itu lucu, polos, dan enggak gampang menyerah. Kamu selalu ingin menyenangkan orang lain. Tapi kalau sudah jatuh cinta, kamu sering lupa menghargai diri sendiri."
Naira terdiam.
"Kamu lihat Mas Lutfi," lanjutnya. "Dia mencintai Mbak apa adanya. Bahkan sering protes kalau Mbak ikut-ikutan orang lain."
"Tapi Mbak sama Mas Lutfi kan sudah lama saling kenal…"
"Tapi kamu juga kan, tahu kami hampir gagal menikah dua kali karena orang ketiga," potongnya lembut. "Yang bikin kami bertahan itu saling percaya. Karena kita enggak bisa menjaga pasangan dua puluh empat jam. Kita cuma bisa pasrah dan minta Allah menjaganya. Selebihnya, jalani saja hidup ini apa adanya."
"Terus... aku harus mulai dari mana, Mbak?"
"Pertama, turuti apa yang dia minta. Kalau dia enggak suka kamu terus di dapur, ya jangan. Lakukan saat dia kerja saja. Kalau dia sudah selesai kerja, temani dia. Dan satu lagi—jangan meniru penampilan si pelakor itu. Kamu harus jadi Naira, bukan Karenina."
Sejenak Naira terdiam. Lalu ia mengangguk. Ada tekad baru tumbuh di dadanya.
"Nih, makan dulu. Apel goreng kesukaan kamu," ujar sang kakak sambil tersenyum.
Naira menggeleng. "Sekarang aku lagi suka Apple Pie."
"Hah?" Wanita itu mengangkat alis. "Sejak kapan kamu suka makanan bule?"