Cinta Yang Terabaikan

831 Words
Dari balik tirai jendela, Naira memandangi Bintang yang masih belum turun dari mobil sejak tadi. Ia terlihat membungkuk, seolah tengah mencari sesuatu di bawah kakinya. Naira menghela napas. Pasti kehilangan kunci rumah lagi, gumamnya. Sudah tiga kali Bintang menghilangkannya. Padahal, dia tak perlu repot-repot mencarinya. Dia tinggal mengetuk pintu. Ia pasti akan membukanya. Tapi Bintang memang selalu saja tak ingin membuatnya repot, meski ia tak merasa direpotkan sama sekali. Akhirnya, Naira memutuskan untuk keluar. Mendengar pintu terbuka, Bintang sontak mengangkat wajah, lalu buru-buru keluar dari mobil. "Sorry..." ucapnya, sedikit canggung, seperti menutupi sesuatu. Naira menggeleng sambil tersenyum. "Aku memang sengaja nunggu kamu," sahutnya seraya mencium tangan Bintang. "Kamu kok sekarang jadi senang tampil cantik?" Bintang menatapi penampilan Naira yang kembali terlihat cantik dan seksi. Naira tersipu, pipinya merona. "Kamu suka, 'kan?" tanyanya malu-malu—sebuah pertanyaan yang sangat ia butuhkan jawabannya. Bintang mengangguk. "Dulu juga cantik. Tapi sekarang lebih... seksi," bisiknya, suaranya sedikit direndahkan. Hati Naira berbunga-bunga. Pipinya semakin merona. Ternyata Bintang memang menyukai penampilan seperti Karenina. Dan itu tak masalah baginya. Ia akan mengikutinya. Ia akan melakukan apa pun yang Bintang sukai, sekalipun tak sesuai dengan kepribadiannya yang lebih sederhana dan sedikit tomboi. Bukankah untuk menjadi lebih baik, orang memang harus berubah? Sebuah pembenaran yang menipu diri sendiri. "Oh ya, kamu jadi bikin soto ayam?" Bintang bertanya, mengalihkan topik. "Kamu mau makan sekarang?" "Aku udah lapar..." Bintang mengusap perutnya. "Oke, aku siapin. Kamu mandi dulu aja," ucap Naira dengan wajah sumringah. "Kamu mau aku bantuin?" "Oh, jangan." Naira menyahut cepat. "Enggak perlu sama sekali. Gampang kok, bikinnya," tambahnya. Ia bukannya tak ingin dibantu, tapi takut rahasianya terbongkar kalau ia memakai bumbu instan. Dua mangkuk soto panas tersaji di atas meja saat Bintang keluar dari kamar dengan wajah segar. "Nanti kalau kita udah di Malang, aku mau belajar masak sama Mama," ucap Naira seraya meletakkan sepiring nasi di hadapan Bintang. "Oh, jadi itu alasan kamu mau pindah ke sana?" tanya Bintang, sedikit menggoda. Naira tersipu. "Aku kan mau jadi istri yang sempurna." Ucapan itu menusuk hati Bintang. Ia terdiam, menatap Naira. Perasaan bersalah itu semakin menyesakkan. "Oh ya, kata Mama, di Malang kita enggak perlu cari kontrakan. Kita bisa pakai paviliun di rumah. Kebetulan sekarang kosong, sudah selesai disewakan." Naira berucap penuh semangat. "Lumayan, kan? Bisa hemat." Bintang mengangguk, berusaha tersenyum senang. "Oh ya, besok aku sibuk di kantor. Banyak meeting. Jadi kalau besok aku pulang malam, kamu tidur duluan aja, enggak perlu nunggu." "Oke!" Naira mengiyakan, tanpa bertanya lebih jauh. Setelah makan selesai, Bintang beranjak meninggalkan meja. "Aku ke kamar dulu, ya." "Mau aku bikinin kopi?" tawar Naira. Bintang menggeleng. "Aku udah kebanyakan ngopi tadi. Nanti enggak bisa tidur." "Teh hangat aja, ya? Biar enak perutnya." Akhirnya Bintang mengangguk. Ia tak tega menolak perhatian setulus itu. Setelah mengantarkan teh ke kamar, Naira membuka buku To Do List miliknya dan mencoret sebuah tulisan: tawarkan kopi atau teh. Ia tersenyum puas. Tugasnya selesai hari ini. Hm, apalagi ya sekarang? Ia mengetuk-ngetukkan bolpoin di atas buku itu sambil berpikir. Dan seperti mengingat sesuatu, ia beranjak mengambil kunci mobil dan membukanya. Besok Bintang akan pulang malam. Ia akan membantunya menemukan kunci rumah yang hilang itu. Perlahan, Naira mulai menelusuri setiap sudut di dalam mobil. Membuka laci-laci, menyingkap karpet yang menutupi lantai. Namun kunci itu tetap tak terlihat. Hingga matanya menangkap sebuah benda di dalam kantong kecil berwarna hitam di bawah kursi kemudi. Perlahan ia membukanya, lalu mengeluarkan isinya. Sebuah ponsel. Kening Naira mengernyit. Itu ponsel lama milik Bintang—yang katanya hilang. Tapi kenapa ada di sini? Kenapa disembunyikan? Kenapa dia bohong? Pertanyaan-pertanyaan itu menggelayut di benaknya. Naira menyalakan ponsel itu. Tak lama kemudian, tangannya gemetar. Tubuhnya membeku. Di layar ponsel tampak gambar Bintang dan Karenina—berpelukan, tersenyum bahagia. Air mata menetes, membasahi pipinya yang kini terasa dingin. … Di sebuah kamar hotel mewah, Karenina memandangi gaun pengantin putih yang menggantung anggun di hadapannya. Disentuhnya perlahan gaun indah itu. Rasanya tak percaya ia akan mengenakannya esok hari. Mengapa waktu begitu cepat? Entah mengapa, menjelang hari pernikahannya, ia justru dilanda ragu. Apakah keputusan yang diambilnya sudah benar? Apakah ia siap menjalani pernikahan bersama Aidan? Apakah ia siap terkurung dalam sangkar emas dan membiarkan hidupnya diatur sepenuhnya? Bagaimana kalau ternyata ia tak bahagia? Bagaimana kalau Aidan kembali menyakitinya? Apakah ia bisa melepaskan diri dengan mudah? Pertanyaan-pertanyaan itu berkelebat tanpa jawaban. "Nin..." Suara itu membuat Karenina menoleh. "Mereka udah nunggu makan malam." Suara Aidan menariknya kembali ke dunia nyata. Ia mengangguk, membiarkan Aidan menggandengnya keluar menuju restoran. Di sana, keluarga besar mereka telah berkumpul. Kedua orang tua Aidan beserta keluarga masing-masing. Mama, Kak Martin, dan keluarga kecilnya. Mereka terlihat akrab—berbincang dan tertawa bersama, seolah tak ada beban yang menghantui. Karenina mengembuskan napas. Ia mencoba menghempaskan semua keraguan dari dadanya. Sudah terlambat untuk mundur. Karena pernikahan bukan hanya tentang dua orang yang saling mengikat janji. Ada banyak orang yang ikut terlibat. Mungkin ia bisa menghadapi Aidan. Tapi ia tak mungkin sanggup menghadapi kekecewaan mereka semua. Keputusan ini memang berat. Namun inilah pilihan yang paling aman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD