Berpisah

1100 Words
Di bawah temaram lampu tidur, Karenina memperhatikan wajah Aidan yang tampak begitu tenang saat terlelap. Pria itu terlihat seperti malaikat yang baru saja memberikan perlindungan, padahal beberapa jam lalu ia baru saja menghancurkan privasi Karenina lewat kloning aplikasi. Aidan tidur dengan tangan yang masih melingkar di pinggang Karenina, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, Karenina akan menguap hilang. Karenina menghela napas pelan. Sepertinya ia memang harus melupakan Bintang. Melupakan mimpi kebebasan itu. Mungkin ia harus belajar melepaskan harapannya. Bukankah sebelum Bintang kembali hadir dalam hidupnya, ia baik-baik saja? Ia memejamkan mata. Ya, ia harus melupakan Bintang. Ia akan memutuskan hubungan dan menyingkirkan ponsel itu. Benda itu bagaikan teror yang menyiksanya—sebuah bom waktu yang kapan saja bisa meledak jika Aidan menemukannya. Ia tak bisa terus-terusan seperti ini. Ini harus berakhir. Karenina melirik Aidan yang tampak pulas. Perlahan ia melepaskan pelukan pria itu, berjingkat menuju kamar mandi. Tangannya dengan cepat meraih sebuah ponsel yang ia sembunyikan dalam tumpukan pakaian kotor miliknya. Begitu layar menyala—sebuah pesan dari Bintang masuk. Karenina membacanya dengan tangan gemetar. "Apa kabar, Nin? Apakah kita bisa bertemu?" Bertemu? Untuk apa? Dahinya mengernyit. Ia membalas dengan cepat: "Aku enggak bisa, Bin." Tidak sampai semenit, balasan Bintang datang lagi: "Please, Nin, untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pergi." Pergi? Tiba-tiba saja Karenina seperti merasa semesta merestui keputusannya untuk menyerah. Kerutan di dahinya semakin dalam. Ia menatap layar seolah mencari jawaban yang tak kunjung muncul, lalu membalas dengan hati-hati: "Kamu mau ke mana, Bin?" Namun kali ini, Bintang tidak membalas. Hening itu semakin menekan, membuat dadanya sesak. Karenina bimbang, terjebak di antara keinginan untuk menemuinya dan ketakutan akan konsekuensi. Apa yang akan terjadi jika Aidan tahu? Napasnya tertahan sejenak. Tapi semakin lama memikirkannya, hatinya semakin tidak tenang. Ia tak tega mengecewakan Bintang setelah semua kekacauan yang ia sebabkan dalam hidupnya. Ini adalah perpisahan. Hanya satu pertemuan terakhir... ia berbisik dalam hati. *** Pagi di kantor, Karenina menghampiri Danisa di mejanya. "Sa, aku minta tolong jadwal meeting dengan wedding organizer dimundurin jadi besok," ucapnya cepat. Danisa mengerutkan kening. "Loh, kenapa?" "Hari ini aku mau pergi." "Ke mana, Nin?" Nada Danisa mulai dipenuhi rasa khawatir. "Ketemu Bintang." Mata Danisa membulat tak percaya. "Nin... pernikahanmu tinggal sembilan belas hari lagi! Jangan cari gara-gara!" Suaranya meninggi, ketakutan terpancar jelas. "Ini pertemuan terakhir, Sa. Dia cuma mau pamitan," Karenina mencoba menenangkan, walau hatinya tahu risikonya besar. Danisa menatapnya serius. "Kamu masih ingat ancaman Aidan, kan? Dia punya mata di mana-mana. Kamu enggak bisa pergi sendirian." "Aku akan pergi sendiri, Sa. Aku janji enggak akan lama," sahut Karenina tegas. Ada nada putus asa di suaranya. Danisa menimbang sejenak, lalu menghela napas. "Oke. Aku akan bantu, tapi aku ikut. Aku enggak bisa membiarkanmu sendirian." Karenina menggeleng, menahan frustrasi. "Aku akan menemuinya sendiri." "Tapi, Nin..." "Aku janji enggak akan lama." Danisa akhirnya terpaksa mengalah. *** Sore itu, Karenina tiba di rumah lama keluarganya, disambut seorang penjaga rumah. "Temannya nunggu di teras, Mbak." Karenina langsung menghampiri Bintang yang duduk menunggu. "Hai, maaf nunggu lama," sapanya berusaha terdengar ringan. "Enggak apa-apa. Aku tahu perjuanganmu sampai ke sini," Bintang tersenyum tulus. Karenina tersenyum getir. "Gimana kabarmu?" tanyanya sambil menarik kursi. "Aku baik-baik aja. Kamu?" "Seperti yang kamu lihat." Bintang menatapnya lebih lama. Matanya menyapu wajah, leher, hingga ujung kaki, mencari tanda-tanda luka yang tersembunyi. "Dia udah enggak nyakitin kamu lagi?" tanyanya penuh kekhawatiran. Karenina menekan rasa sesak. "Jadi kamu minta bertemu karena enggak percaya kalau aku baik-baik saja?" "Aku khawatir," jawab Bintang. "Jangan khawatirkan aku lagi, Bin. Aku baik-baik aja." Kata-katanya tidak hanya untuk Bintang, tapi juga untuk menenangkan hatinya sendiri. "Aku senang mendengarnya." Bintang tersenyum lega. "O ya, aku juga sekalian mau kembalikan kunci rumah ini." Karenina mengambil kunci itu, memainkannya tanpa tujuan. Ia menatap Bintang ragu. "Hm... gimana hubunganmu dengan Naira sekarang? Apa baik-baik saja?" Bintang mengangguk. "Kami memutuskan untuk mempertahankan pernikahan." "Aku ikut senang mendengarnya," dusta Karenina, suaranya nyaris tak terdengar. "Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kita." "Kamu mau ke mana?" "Minggu depan kami pindah ke luar kota untuk memulai kehidupan baru. Naira ingin lebih dekat dengan orang tuanya di sana." "Oh. Aku senang mendengarnya." Karenina tersenyum tipis. "O ya, aku juga mau kembalikan ponselmu." Ia mengeluarkan ponsel itu dari dalam tasnya dan mengulurkannya. Bintang menggeleng. "Kamu simpan aja." "Aku udah enggak perlu, Bin." "Ponsel itu banyak menyimpan kenangan kita waktu di vila. Anggap saja kenang-kenangan. Aku menyimpan kalungmu, kamu simpan ponselku." Karenina terdiam, lalu memasukkan kembali ponsel itu ke dalam tasnya. "Danisa bilang pernikahanmu tinggal sembilan belas hari lagi?" Bintang bertanya. Karenina mengangguk sambil memaksakan senyum tipis. "Apa kamu yakin, Nin? Apa kamu yakin akan bahagia bersamanya?" Ia menelan napas. "Aku percaya Aidan akan membahagiakanku." Bintang diam. Sunyi yang lebih menyakitkan dari pertanyaan apa pun. "Dan kamu juga bahagia sama dia?" Karenina menatap Bintang, ingin menemukan keraguan di matanya. Bintang hanya mengangguk, menoleh perlahan seolah takut Karenina membaca isi hatinya. Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, penjaga rumah itu menyorotkan ponselnya ke arah mereka. Merekam semuanya. *** Setelah pertemuan itu, Karenina kembali ke apartemen Aidan membawa sebuah kantong belanja berukuran besar. "Sudah belanjanya?" tanya Aidan dingin. "Udah," Karenina memamerkan kantong belanja itu. "Tapi kamu enggak boleh lihat sekarang. Ini kejutan untuk honeymoon nanti." Ia berusaha terdengar santai. "Aku juga punya kejutan," bisik Aidan. Ia menyalakan ponselnya. Sebuah video berputar. Jantung Karenina seketika berhenti berdetak. "Dia... cuma mau pamit..." suaranya bergetar. "Kamu membohongiku lagi, Nin..." Aidan menatapnya dengan mata merah, urat leher menegang menahan amarah. Karenina langsung berdiri. "Demi Tuhan, kami cuma bicara sebentar!" "Kenapa kamu terus mengkhianatiku, Nin?!" jerit Aidan getir. Ia mendekat, lalu menarik Karenina dari belakang, memeluk punggungnya dengan cengkeraman yang sangat kuat hingga ia tak bisa bergerak. "Kenapa kamu terus menyakitiku, Nin... apa salahku? Apa yang kurang dariku?" ratap Aidan seperti anak kecil yang kehilangan mainan. "Maafkan aku..." lirih Karenina di tengah air mata yang mengalir deras. "Kamu selalu minta. Tapi kamu terus mengulanginya." "Aidan... lepaskan... kamu membuatku sesak." Karenina mencoba melepaskan diri, tapi Aidan justru mengeratkan pelukannya. "Aku enggak bisa napas... Lepaskan aku..." rintih Karenina nyaris tak terdengar. "Kamu mau meninggalkanku lagi. Meninggalkan pernikahan kita..." ratap Aidan pilu. "Enggak, Aidan... aku enggak akan ninggalin kamu..." "Kenapa, Nin? Aku sudah memberikan segalanya! Tapi kamu terus membohongiku!" teriak Aidan. "Apa yang kurang dariku?!" "Aidan... lepasin... aku enggak bisa napas..." Suara Karenina melemah, nyaris hilang. Matanya mulai mengabur. Aidan terus meratap, air matanya mengalir deras, sementara pelukannya semakin mengunci paru-paru Karenina. "Apa salahku, Nin..." "Lepaskan..." pinta Karenina dengan sisa oksigen terakhirnya. "Aku enggak bisa napas..." Lalu, suaranya menghilang. Tubuh Karenina jatuh, terkulai lemas dalam pelukan Aidan. Aidan melepaskan pelukannya perlahan, menatap wajah pucat Karenina. "Kamu enggak akan ke mana-mana, Nin... Kamu milikku," lirihnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD