Sudah lewat tengah malam, namun Bintang masih tak bisa memejamkan mata. Hatinya gelisah, terombang-ambing oleh prasangka buruk sejak Danisa mengabari bahwa Karenina sudah dua hari tak masuk kantor.
Apakah dia baik-baik saja? Apakah Aidan tahu tentang pertemuan terakhir mereka? Apakah dia menyakitinya lagi? Bintang menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. Jika Aidan sampai menyakiti Karenina, ia bersumpah tak akan diam. Ia akan menyelamatkannya dengan cara apa pun, bahkan jika itu berarti mengacaukan segalanya.
Ia kembali membuka ponsel, berharap Karenina membalas pesan terakhirnya. Tapi pesan itu bahkan belum dibaca, dan kekhawatirannya kian membuncah.
Tak lagi mampu menahan resah, Bintang bangkit dari tempat tidur, melangkah pelan menuju pintu kamar. Ia membuka pintu hati-hati agar tak membangunkan Naira yang tertidur pulas.
Namun suara pintu yang terbuka, sekecil apa pun, tetap berhasil membangunkan Naira. Matanya mengerjap, setengah tertutup. "Mau ke mana, Bin?" tanyanya, suaranya berat karena masih mengantuk.
"Hm... mau ambil minum," Bintang menjawab, berusaha terdengar biasa agar Naira tak curiga.
"Bukannya itu minuman kamu?" Naira menunjuk botol di samping tempat tidur.
"Hm... maksudku… aku mau minum teh hangat," Bintang mengoreksi.
"Oh… mau aku bikinin?"
Bintang buru-buru menggeleng. "Enggak usah. Aku bisa bikin sendiri aja. Kamu lanjutin tidur aja," katanya sambil tersenyum, berusaha meyakinkan.
"Oke…" Naira menutup mata kembali, meski samar keraguan masih tersisa.
Bintang akhirnya membuat teh panas, menjaga sandiwaranya tetap rapi. Di meja makan, di bawah cahaya temaram, ia memainkan gelas tehnya sambil termenung. Pandangannya kosong, napasnya beberapa kali terdengar berat, mencoba menenangkan diri, tapi pikiran buruk tak mau hilang. Ia kembali menulis pesan, berharap kali ini Karenina akan membalas.
Di balik pintu yang sedikit terbuka, Naira diam-diam mengamati Bintang dari jauh. Kedua matanya berair, tetes hangat menetes di pipi. Ia tahu siapa yang sedang dikirimi pesan oleh Bintang. Siapa yang membuatnya gelisah hingga tak bisa tidur nyenyak sejak dua hari terakhir. Perih itu menusuk hatinya.
Ia menutup pintu perlahan, kembali ke ranjang, memejamkan mata. Tapi air matanya tetap mengalir, tubuhnya bergetar menahan sakit yang tak bisa lagi ia tahan.
---
Di apartemennya yang luas, udara terasa menghimpit. Wajah Karenina sembab, air matanya tak berhenti mengalir. Di hadapannya duduk Aidan, mencoba menenangkannya. "Jangan nangis lagi, Nin," ucapnya.
"Kamu yang minta Mama datang, kan?" tanya Karenina, suaranya serak oleh tangis.
Aidan mengangguk pelan.
"Mama tahu semuanya?"
"Mama harus tahu." Suara Aidan dingin, menusuk.
"Kamu jahat, Aidan." Suara Karenina tercekat oleh luka.
"Kamu mengkhianatiku," balas Aidan, tatapannya membeku.
"Aku tidak mencintaimu!"
"Aku tidak peduli lagi." Jawabannya bagai pisau menembus d**a.
"Kamu tidak mencintaiku, Aidan… kamu hanya terobsesi padaku." Karenina mencari celah, berharap ada pengakuan yang bisa menyadarkannya.
Aidan menghela napas, ada keputusasaan di nada suaranya. "Sebanyak apa pun aku mencintaimu, kamu tidak pernah peduli."
"Tinggalkan aku… Kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dariku," pinta Karenina, tatapannya memohon.
"Aku hanya menginginkanmu." Kata-kata Aidan bagai rantai yang mengikatnya.
Karenina terisak, tak ada lagi kekuatan untuk melawan.
"Berhentilah menangis. Sebentar lagi Mamamu datang." Aidan mengusap air mata Karenina dengan jemarinya, sebuah sentuhan yang terasa hampa.
Karenina menepis tangannya. Ia semakin membenci Aidan. Ia sadar, Aidan menggunakan kelemahan Mamanya untuk membalas sakit hati. Ini hukuman yang direncanakan dengan kejam.
Suara bel pintu berbunyi, membuat jantung Karenina berdegup kencang. Saat yang dinantikan Aidan tiba—saat penghakimannya. Karenina memejamkan mata, tak sanggup menghadapi Sang Mama. Ia mendengar Aidan menyambutnya, langkah kaki makin dekat.
Tiba-tiba, tamparan keras mendarat di pipinya, membuat seluruh tubuhnya terguncang.
"Maaah!"
Karenina menjerit, suaranya tersedak. Ia menatap Sang Mama dengan mata berair, menyentuh pipinya yang panas, perih melebihi fisik.
Wanita itu berdiri, sorot matanya penuh amarah, mulutnya bergetar.
"Susah payah kami membesarkanmu, menyekolahkanmu agar menjadi wanita terhormat, agar bisa membanggakan kami… tapi kamu malah membuat malu keluarga. Kamu mencoreng wajah Mama. Apa yang ada di otakmu, Nina?!" Suara Mama menggema, menusuk relung hati Karenina.
Karenina tak pernah melihat Mama semarah ini dalam hidupnya. Air matanya mengalir tanpa henti. "Maafkan, Nina, Ma..."
"Kamu pakai rumah Mama untuk berselingkuh! Kamu keterlaluan, Nina! Kamu perempuan. Kamu seharusnya mengerti rasanya suamimu direbut perempuan lain. Apa kamu mau itu terjadi padamu?"
Mata mama berkaca-kaca, penuh kekecewaan. Tatapannya bagai pisau yang mengiris. Ia menghela napas berat. "Andai saja Papamu masih hidup… dia akan menamparmu lebih keras!"
Karenina tertunduk, malu dan sesal bercampur jadi satu.
"Kenapa, Nina? Kamu sendiri yang memilih Aidan. Kamu juga yang meminta Mama menerima lamarannya. Aidan sudah memberikan segalanya padamu. Apa lagi yang kurang darinya? Bagaimana kalau orang tua Aidan mengetahui ini? Mau ditaruh di mana muka Mama?"
Wanita itu terduduk, lemas, seolah kehilangan kekuatan dan harapannya.
"Maafkan, Nina…," Karenina meraih tangan Mama, tapi Mama menepisnya.
"Pernikahanmu tinggal beberapa hari… kamu malah bikin ulah," air mata Mama menetes.
Karenina menunduk, mengerti kekecewaan Mama. Seumur hidupnya ia tak pernah mengecewakannya. Ia selalu menjadi kebanggaan keluarga, bahkan sejak bertunangan dengan Aidan Mama sangat bangga padanya. Tapi Mama tak tahu apa yang telah dilakukan Aidan padanya, bagaimana hidupnya telah direbut.
"Maah… maafkan, Nina…" Karenina meraih tangan Mama lagi, menciumnya, memohon pengampunan.
Kali ini Mama membiarkannya, ia menatapnya penuh harap. "Mama minta tolong, Nina. Kamu anak perempuan Mama satu-satunya yang Mama banggakan. Sebentar lagi kamu akan jadi istri Aidan. Tolong jaga nama baik keluarga Aidan. Kamu tahu mereka orang-orang terhormat. Jangan sampai mencoreng nama baik mereka." Mama menarik nafasnya. "Kalau sampai Mama dengar kamu mengulanginya lagi, Mama tidak akan menganggapmu anak Mama lagi," ucapnya tegas dan menusuk.
Karenina mengangguk, pasrah.
"Mama akan di sini beberapa hari, melihat persiapan pernikahan kalian. Kamu harus menurut pada Aidan. Dia calon suamimu. Belajarlah menghormatinya. Jangan banyak membantah."
Karenina mengangguk lagi, jiwanya terasa mati.
Mama lalu pergi, memilih tinggal di hotel daripada di apartemennya. Karenina menghapus air mata pilu. Ia telah mengecewakan Mama begitu dalam.
Aidan mengusap pipi Karenina yang memerah oleh tamparan Mama. "Maafkan aku. Aku cuma enggak mau Mama menyalahkanku kalau terjadi sesuatu terjadi padamu." Kata-kata itu hampa, penuh kepalsuan.
Karenina menepis tangannya. "Kamu hanya ingin menghukumku, Aidan. Karena kamu belum puas menyakitiku." Suaranya penuh kebencian.
"Kamu yang memulai semua ini," balas Aidan, tatapannya menyalahkan.
"Aku membencimu!"
"Kamu akan kembali mencintaiku." Ada obsesi gila dalam tatapan Aidan.
Karenina menggeleng. "Aku tidak mengenalmu lagi. Kamu bukan Aidan yang dulu."
"Kamu yang membuatku berubah," Aidan menjawab, dingin dan datar.
Karenina menatapnya putus asa. "Lepaskan aku, Aidan. Kamu bisa mengambil kembali semua yang kamu berikan."
Aidan mendekat, menatap Karenina tajam, menusuk hingga ke dalam jiwa. "Apa kamu pikir semudah itu? Apa kamu pikir ini tentang harta? Bisakah kamu mengembalikan waktu dan energi yang kukorbankan demi mencintaimu? Bisakah kamu mengembalikan hatiku yang telah kamu lukai? Kepercayaanku yang kamu khianati? Dan harga diriku yang kamu rendahkan? Ini bukan lagi tentang cinta, Nina. Ini tentang mimpi yang telah kamu hancurkan hingga berkeping-keping..."
Karenina menatap mata itu, mata yang kini memancarkan kegelapan. Ia mengerti, luka yang ia torehkan di hati Aidan begitu dalam. Tidak ada cinta di sana, hanya kehampaan dan kemarahan. Cengkeraman itu tak akan pernah dilepaskan.