Entah sudah berapa lama Naira menatap layar ponselnya. Jemarinya menelusuri satu per satu foto dan video di halaman media sosial itu, hingga akhirnya pandangannya berhenti pada sebuah foto yang seolah tengah tersenyum padanya. Ia menyentuh layar itu, berbicara pada sosok di dalamnya dengan suara tercekat.
"Hidupmu sudah begitu sempurna. Kamu punya semua yang diimpikan setiap perempuan. Tapi kenapa kamu masih ingin merusak kebahagiaanku? Kamu bisa memilih laki-laki mana saja yang kamu mau. Tapi kenapa harus Bintang?" lirihnya, sementara rasa sakit menusuk dadanya tanpa ampun.
Kini Naira menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menghela napas panjang, menerima sebuah kenyataan pahit yang selalu ia sadari: ia memang tak sebanding dengannya. Ia bukan gadis populer seperti Karenina. Sejak di kampus pun ia tahu, dirinya bukan siapa-siapa. Ia hanyalah gadis invisible, yang tak mampu membuat laki-laki mana pun menoleh, apalagi bersanding dengan Karenina Chantika-si magnet para pria.
Ia menghapus air mata yang menetes satu per satu. Lalu pandangannya jatuh pada deretan botol bertuliskan Chantika Skin Care di atas meja rias. Emosi menguasainya. Dengan tangan gemetar, Naira meraih botol-botol itu dan melemparkannya ke lantai. Bunyi pecahan terdengar nyaring, berserakan, seolah menjadi pelampiasan seluruh amarah dan kekecewaannya.
Air matanya kembali mengalir, kali ini lebih deras. Ia merasa begitu bodoh. Selama ini ia mengaguminya. Ia membeli semua produknya. Namun nyatanya, perempuan itulah yang menghancurkan kebahagiaannya.
Apakah dia tahu rasanya berjuang demi cinta? Apakah dia tahu lelahnya menunggu dan berharap? Apakah dia tahu bagaimana rasanya memendam rindu sendirian, tanpa pernah bisa memilikinya sepenuhnya?
Tidak. Dia tak akan pernah tahu. Karena dia tak pernah harus memperjuangkan cinta. Cintalah yang selalu datang padanya-meminta untuk dipilih-bagai hadiah yang jatuh begitu saja.
Bertahun-tahun ia mengejar cinta Bintang tanpa lelah, seolah menapaki jalan tanpa ujung. Dan ketika akhirnya Bintang datang padanya, ia mengira perjuangannya telah selesai. Ia mengira kebahagiaan akhirnya berada dalam genggamannya. Namun ternyata, ia masih harus berjuang-kali ini untuk mempertahankannya. Padahal ia baru sesaat merasakannya. Tidak sebanding dengan seluruh luka dan penantiannya.
Tidak. Ia tidak akan menyerah. Ia akan melakukan apa pun demi mempertahankan pernikahannya.
Naira bangkit dari duduknya. Dengan tangan bergetar, ia memunguti pecahan botol satu per satu, lalu membuangnya ke tempat sampah. Di balik air mata dan luka, sebuah tekad baru menyala di hatinya.
---
Mama memeluk Karenina erat, lalu berbisik di telinganya, "Tolong jangan membuat ulah lagi, Nina. Mama sudah meminta Aidan untuk tidak sungkan melapor ke Mama kalau kamu bandel lagi." Nada suaranya lembut, namun sarat peringatan.
Karenina hanya mengangguk patuh. Saat mobil yang mengantar Mama ke bandara melaju pergi, ia menghela napas lega.
"Aku lebih menyukai Ibumu daripada Ibuku sendiri," gumam Aidan, cukup keras untuk didengar Karenina.
"Karena kamu membenci Ibumu," balas Karenina datar.
"Aku punya alasan untuk membencinya." Aidan menatap lurus ke depan, enggan berbagi.
"Dan aku perlu tahu alasannya. Karena dia akan menjadi Ibuku juga."
Karenina menatap Aidan, menantangnya. Ia ingin tahu-sangat ingin tahu-alasan di balik kebencian itu. Namun selama ini Aidan selalu menutup rapat bagian hidupnya tersebut.
"Aku enggak mau bicara tentang dia." Suara Aidan mengeras.
"Kenapa? Kamu takut?" Karenina memancing.
"Aku bilang jangan bicarakan dia!" Aidan menoleh tajam, matanya menyala, tak ingin dibantah.
Karenina akhirnya mengalah. Aidan memang tak pernah suka membicarakan keluarganya, terutama Ibunya. Ia hanya tahu kedua orang tuanya telah lama berpisah dan masing-masing memiliki keluarga baru. Selebihnya adalah misteri yang Aidan simpan rapat-rapat.
"Sekarang kamu pindah lagi ke apartemenku." Aidan menarik tangan Karenina, membawanya kembali.
Karenina tak membantah. Ia sudah pasrah. Ia akan mengikuti pesan Mama-melakukan apa pun yang Aidan inginkan. Ia akan kembali menjalani hidupnya seperti dulu.
Cintanya pada Bintang telah ia kubur dalam-dalam, bersama semua harapan yang pernah mereka ucapkan. Ia akan menyimpannya dalam mimpi, seperti dulu.
"Aku sudah kasih foto Bintang ke security apartemen. Mereka akan menahannya kalau dia berani culik kamu lagi," ucap Aidan, nadanya penuh ancaman.
"Dia bukan penjahat, Aidan. Kamu jangan berlebihan."
"Bagaimana aku bisa percaya sama kamu, Nin? Kamu masih saja membelanya." Aidan mendengus.
"Aku enggak akan ke mana-mana lagi, Aidan. Aku enggak mau mati di tanganmu."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Karenina-pahit, jujur, dan memilukan. Aidan terkejut. Ia terdiam.
"Aku mau ke kantor," kata Karenina cepat, berusaha mengalihkan suasana.
"Aku bilang enggak boleh," potong Aidan tegas.
"Sebentar lagi peluncuran produk baru. Danisa enggak bisa mengurus sendirian. Atau kamu mau membantunya?" Karenina menantang.
Aidan menghela napas, wajahnya tampak kesal. "Oke. Tapi setelah kita nikah, kamu enggak boleh ke kantor lagi. Aku akan cari penggantimu."
"Kamu akan membuatku mati kesepian," ucap Karenina putus asa.
"Kamu enggak akan kesepian selamanya. Kita akan punya anak-anak. Kamu akan sibuk." Aidan tersenyum. "Kamu adalah masa depanku. Aku tak bisa memikirkannya dengan yang lain."
"Jadi itu mimpimu?"
Aidan mengangguk. Matanya berkaca-kaca. "Aku tak pernah memikirkan pernikahan sebelum bertemu kamu. Bahkan sejak pertemuan pertama, aku sudah membayangkan kamu jadi istriku. Melahirkan anak-anakku, membesarkan mereka bersamaku. Kita akan melihat mereka tumbuh. Kita akan selalu ada buat mereka-saat senang dan susah. Kita akan tertawa dan menangis bersama. Kita tidak akan membiarkan mereka sendirian, ketakutan, dan kesepian. Kita tidak akan pernah meninggalkan mereka..."
Suara Aidan bergetar, memperlihatkan kerentanan yang belum pernah Karenina lihat sebelumnya.
Karenina tertegun. Sebuah pertanyaan menikam hatinya. Apakah Aidan pernah mengalami itu? Ditinggalkan sendirian, ketakutan, dan kesepian? Apakah itu yang membuatnya membenci Ibunya? Luka yang tersembunyi di balik topeng kesempurnaan.
---
Danisa terkejut melihat Karenina sudah berada di ruangannya sepagi itu. Wajahnya menunjukkan keterkejutan sekaligus kelegaan. "Kamu... ngantor lagi?"
Karenina mengangguk, tersenyum kecil.
"Selamanya?"
"Enggak tahu. Tergantung mood Pangeran Aidan." Karenina berseloroh. Danisa ikut tersenyum.
"Aku minta tolong kamu balikin ini ke Bintang, Sa." Karenina mengulurkan sebuah ponsel.
"Ini punya Bintang yang kamu bilang waktu itu?"
Karenina mengangguk.
"Jadi kamu udah benar-benar move on?" tanya Danisa lega.
"It's over. Aku akan nikah sebentar lagi. Aku akan melupakannya." Kata-kata itu terdengar seperti usaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Memangnya Aidan udah berubah?"
Karenina menggeleng. "Aku yang berubah, Sa. Sekarang aku kembali jadi Karenina yang dulu." Sebuah pengakuan getir.
"Aku senang dengarnya, Nin. Kisah kamu dan Bintang memang cuma untuk dikenang. Terlalu complicated kalau diterusin."
Karenina tersenyum tipis. "Bilang ke dia aku baik-baik aja. Aku udah lama enggak nyalain ponsel itu. Dia pasti nanyain kabarku."
"Oke."
"Ini apa, Sa?" Karenina menunjuk paket di mejanya.
"Oh, itu kiriman Bu Sita. Sampel botol kemasan yang desain akhirnya. Dia minta konfirmasi dari kamu biar bisa langsung diproduksi."
"Oke, thanks."
Danisa pergi, meninggalkan Karenina sendiri.
Karenina mengeluarkan botol-botol itu. Jemarinya meraba gambar bunga matahari yang tercetak indah—simbol harapan yang kini terasa begitu jauh.
Bunga matahari selalu dipaksa setia mengikuti arah cahaya untuk tetap hidup. Seperti dirinya yang harus terus memalingkan wajah pada Aidan, satu-satunya matahari yang tersisa baginya, meski ia tahu cahaya itu tak lagi menghangatkan, melainkan menghanguskannya perlahan hingga menjadi abu