Menyerah

909 Words
Karenina menoleh saat Aidan datang menjemputnya makan siang. “Sebentar lagi, ya?” ucapnya tanpa mengalihkan pandang dari layar laptop. “Udah, dong… makan dulu,” kata Aidan sambil mengecup pipinya. “Ten minutes?” Karenina memohon. Namun Aidan tak menghiraukan. Ia menutup layar laptop itu begitu saja, menyingkirkan pekerjaannya. “Kerjaan enggak akan ada habisnya,” ujarnya santai. Karenina mendengus kecil. “Kita mau makan di mana?” “Terserah kamu.” “Kantin?” Langkah Aidan terhenti. “Hah? Di kantin?” “Katanya terserah aku,” Karenina menggodanya. Aidan menghela napas panjang. Ia memang tak suka makan di kantin—bukan soal makanannya, tapi keramaian dan antrean yang kerap menguras kesabarannya. Namun, karena ini permintaan Karenina, ia akhirnya mengalah. Di tengah hiruk-pikuk kantin, Karenina memejamkan mata sejenak, membayangkan dirinya sedang menekan sebuah tombol *reset* yang dingin di dalam kepalanya. Ia memutuskan untuk kembali ke pengaturan pabrik; menjadi Karenina yang Aidan inginkan. Karenina yang tenang, indah, dan patuh. Ia tidak lagi ingin menjadi manusia yang memiliki kehendak, karena memiliki kehendak hanya membuatnya sesak. Ia memilih menjadi robot cantik yang bergerak sesuai perintah peta hidup yang telah dirancang Aidan. Dengan cara ini, ia tidak perlu lagi merasa sakit. Sebab, sebuah aset tidak seharusnya memiliki rasa—ia hanya perlu menjaga nilainya agar tetap tinggi di mata pemiliknya. Dari kejauhan, Danisa memandangi keduanya sambil tersenyum lega. Akhirnya drama mereka berakhir. Semuanya kembali normal, dan perusahaan pun bisa berjalan seperti seharusnya tanpa ancaman penutupan dari Aidan. Danisa membuka pesan di ponselnya yang belum sempat ia baca, lalu membalasnya singkat. “Dia baik-baik saja, Bin. Aku enggak bisa nyampein sekarang. Aidan baru saja jemput dia buat makan siang.” *** Di kantin, Aidan menatap heran Karenina yang menyantap nasi Padang di piringnya dengan begitu lahap. “Kamu beneran lapar?” tanyanya, takjub. Karenina mengangguk dengan mulut penuh. “Memangnya kamu takut aku gendut?” Aidan menggeleng. “Aku enggak pernah larang kamu makan apa pun.” “Nanti malam aku mau masak makan malam. Kamu mau makan apa? Seafood?” Aidan mengangguk, senyumnya merekah. Senyum yang lama tak dilihat Karenina. Saat ini, Karenina benar-benar ingin melupakan Bintang. Ia tidak ingin lagi memperjuangkan cinta yang hanya akan melukai banyak orang. Terlalu banyak yang telah ia korbankan. Mungkin menyerah memang jauh lebih mudah daripada terus berjuang di atas penderitaan orang lain. *** Bintang mengangkat wajah dari layar laptop saat melihat Naira berjalan menghampirinya. Ia tertegun. Penampilan istrinya tak seperti biasanya. Gaun ketat, riasan wajah yang sedikit berani, dan potongan rambut yang baru. “Kamu… cantik sekali…” gumam Bintang, meski hatinya mencelos. Naira tersipu. “Kamu suka?” Bintang mengangguk, namun matanya seolah memproyeksikan sosok lain. Kenapa penampakan Naira terasa begitu mirip Karenina? Gaya rambutnya, warna lipstiknya... sebuah deja vu yang membingungkan sekaligus menyakitkan. Bintang menyadari kebenaran pahit: kebahagiaannya bersama Naira kini terasa palsu. “Apa kamu mau nemenin aku mandi?” tanya Bintang tiba-tiba, terdorong oleh impuls sesaat. Ia ingin membuktikan apakah dengan keintiman itu, ia bisa menemukan kembali gairah yang hilang itu. Naira menoleh seketika, wajahnya memerah bahagia. Akhirnya, setelah sekian lama ia merasa diabaikan, Bintang kembali menginginkannya. Ia tak tahu bahwa bagi Bintang, ini adalah eksperimen putus asa untuk mencari Karenina dalam raga yang berbeda. *** Pagi harinya, Bintang masih berbaring sendirian. Tubuhnya enggan bergerak meski aroma nasi goreng buatan Naira sudah menguar. Matanya menatap kosong langit-langit. Di sana bayangan Karenina begitu nyata. Entah mengapa semakin mereka menjauh, ia semakin merindukannya. Ia menyesal. Menyesal atas komitmen yang ia pilih, namun ia juga benci pada dirinya sendiri karena tak bisa memberikan hati yang utuh pada Naira yang tulus. Sebelum kehadiran Karenina kembali, hidup bersama Naira terasa cukup. Namun kini ia sadar, hidup tak cukup hanya 'baik-baik saja'. Hatinya berhak bahagia, namun ia sadar kebahagiaan itu adalah utopia. Bintang meraih ponselnya, mengetik pesan terakhir—sebuah upaya untuk tetap terhubung dengan satu-satunya versi dirinya yang merasa hidup. Pintu terbuka pelan, Naira menyembul dari sana. Ia melihat suaminya terpaku pada layar, jarinya sibuk mengetik dengan intensitas yang tak pernah ia berikan untuknya. Naira tahu pesan itu bukan untuknya. Perlahan, ia menjauh, menahan pedih di hatinya yang kembali ditusuk kenyataan yang coba ia abaikan. Ia tidak bisa menyerah begitu saja. Pernikahannya baru seumur jagung. Tak sebanding dengan perjuangannya yang begitu panjang dan melelahkan. Sementara itu di pagi yang sama, di ruang kerjanya, Karenina sibuk menatap layar laptop saat Danisa masuk. “Nin, ada pesan dari Bintang,” bisik Danisa sambil menunjukkan ponsel di tangannya. Karenina menoleh sambil menarik napas lelah. “Tolong, Sa. Kamu saja yang balas pakai ponselnya. Aku enggak mau bikin masalah lagi. Lima hari lagi aku nikah,” ujarnya. “Oke.” Danisa memutar tubuhnya, melangkah pergi dengan senyum mengembang. *** Malam itu di apartemennya, Aidan tak berhenti menatap Karenina yang sibuk di dapur. Senyumnya mengembang lebar. Matanya berbinar memandangi Karenina bagaikan koleksi karya seninya yang kembali ke tempatnya semula setelah lama dicuri. Ia merasa menang. Dan lima hari lagi, pernikahan akan menyempurnakan kebahagiaannya. Tak ada lagi penghalang. Tak ada lagi drama. Jika lelaki pengecut itu berani muncul lagi, ia tak akan segan untuk benar-benar menghancurkannya. “Dinner ready!!” Aidan berjalan mendekat, lalu memeluk Karenina dari belakang dengan erat. “I love you so much,” bisiknya. Pelukan itu membuat tubuh Karenina menegang. Dadanya terasa sesak, memori akan trauma itu kembali menyerang. “Aidan…” napasnya tertahan. Dengan cepat ia menarik kedua tangan Aidan dari pinggangnya, lalu berbalik badan. “Kita makan sekarang,” ucapnya, memaksa senyum yang terasa getir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD