Sementara itu, di tempat lain.
“Kiri, Pak! Kiri-kiri ...,” pekik Halimah yang duduk persis di depan muka pintu angkot.
Sepersekian detik sepasang mata terlihat mengintip dari spion atas. Tepat sebelum angkutan kota yang sedang dinaiki Halimah bergerak melambat pelan-pelan.
Sang sopir menginjak rem. Tangannya dengan cekatan memutar setir ke kiri. Membawa angkutan kota miliknya yang penuh penumpang menepi, lantas keempat rodanya berhenti berputar.
“Nih Pak ongkosnya,” ucap Halimah lagi.
Terakhir sebelum turun dari angkutan warna jingga tua itu. Memberikan selembar uang lima ribuan pada sopir angkot. Kemudian sambil berjalan merunduk, menggandeng tangan Novita yang ada di depannya.
Rasa penat setelah berjejal di dalam angkot. Aroma keringat para penumpang dan sang sopir. Tumpukan barang bawaan yang diletakkan sembarangan sampai menghalangi jalan. Kursi tua yang sempit. Kursi yang akan menghantam p****t sama kerasnya dengan besi saat roda-roda angkot menghantam lubang jalan.
Semuanya kini terlewat sudah. Diganti keringat yang keluar dari kening dan wajah Halimah.
“Ayok sayang, kita buru-buru jalan. Biar nggak kepanasan,” ajak Halimah pada Novita.
Angkot yang menghubungkan kontrakan Halimah dan rumahnya itu sudah pergi beberapa detik yang lalu. Menyisakan aroma asap yang hitam pekat. Hasil dari pembakaran oli yang sudah lama tidak diganti.
“Sayang capek?” tanya Halimah lembut sambil menundukkan kepala. Menatap ke arah putri semata wayangnya. Gadis berpipi gembul dengan rambut kucir dua yang berjalan di sebelahnya.
Novita tidak menjawab. Tidak menggeleng, tidak juga mengangguk. Ia hanya melangkah. Matanya kosong, hanya ikut ke mana tangan Halimah membawanya.
“Sayang .... kok diem sih? Novi masih marah sama mama ya?” tanya Halimah lagi dengan nada lebih lembut dari sebelumnya.
Namun hasilnya masih sama seperti sebelumnya, Novita anaknya masih mengunci mulutnya rapat-rapat. Acuh, hanya berjalan lurus dengan bibir bersungut-sungut.
“Hmm ... kamu pasti marah sama mamah ya. Ma–“
“OPAAAAA .... !!!!”
Kalimat Halimah dipotong teriakan Novita. Gadis kecil kelas satu sekolah dasar itu tiba-tiba berteriak. Menunjuk ke depan, melepaskan gandengan tangannya dari Halimah. Berlari sambil berteriak memanggil Opa-nya.
Laki-laki di depan sana itu. Laki-laki yang berseragam baju olahraga warna hijau tua dengan handuk melingkar di leher.
Acara lari-lari kecil keliling kompleksnya refleks berhenti saat mendengar suara Novita. Tubuh tuanya seketika berbalik dan terkejut melihat gadis kecil cucunya itu sudah berlari ke arahnya.
“Novi?” gumam laki-laki yang kepalanya sudah dipenuhi uban tersebut. Tanpa berpikir panjang langsung berlari menyusul Novita.
“Opaaa ...!!” pekik Novita lantas melompat memeluk laki-laki tua itu.
Laki-laki paruh baya itu balas memeluk Novita. Merundukkan badannya, melingkarkan tangan di punggung cucu semata wayangnya tersebut.
“Sayangnya Opa kenapa? Hah? Kok nangis sih? Kenapa sayang? Siapa yang berani-beraninya nakal sama cucu Opa? Sini biar Opa hajar,” ujar laki-laki bernama Eko itu.
Menyibak anak rambut yang jatuh menutupi wajah Novita. Melihat wajah cucunya yang memerah berkubang air mata. Menyapu cairan yang keluar dari kelopak matanya itu berkali-kali walau rasanya air mata itu tidak juga berhenti jatuh.
Novita tak menjawab, masih menangis sesenggukan. Membuat sepasang mata ayah Halimah tersebut refleks berpindah. Suara sandal Halimah yang beradu dengan aspal gang menuju perumahan. Membawa sorot mata penuh curiga itu padanya.
“Maaf, Yah. Aku nggak tahu lagi harus pergi ke mana,” keluh Halimah lemas. Penyesalan, putus asa, dan beban hidup itu tergambar jelas di wajahnya.
Ayah Eko yang terlalu sayang pada anak perempuan satu-satunya itu hanya bisa menghela napas panjang. Mengusap punggung Novita, sebelum menggendong cucunya itu.
“Sudah ayo pulang,” tegasnya. “Nggak enak dilihat banyak orang. Mau ditaruh mana muka ayah nanti.”
Halimah menelan ludah, tenggorokannya bergerak naik turun. Kalimat ayahnya barusan memang keputusan yang benar. Tapi sekarang bertambah lagi kegundahan yang ia rasakan.
Merasa tidak becus jadi anak. Merasa tidak becus jadi seorang ibu dan istri. Merasa kalau yang terjadi, masalah yang menimpanya, itu semua karena dirinya sendiri. Menyesakkan d**a tapi tak ada yang bisa ia lakukan selain menghardik dirinya sendiri.
Sekarang ketiganya berjalan beriringan. Ayah Eko dan Novita di gendongan berjalan di depan. Sementara Halimah mengekor dari belakang dengan kepala tertunduk. Malu dan merasa tidak pantas berjalan sejajar dengan ayahnya sendiri.
Ayahnya seorang pensiunan tentara. Semua orang di kompleks perumahan tahu siapa dia. Semua hormat dan menghargai Ayah Eko. Sementara Halimah? Hanya seorang istri dari laki-laki tukang batu.
Seperti cahaya dan bayangan, siang dan malam, gunung dan palung. Nasib ayah dan suami Halimah layaknya bumi dan langit.
“Kamu udah sarapan?” tanya Ayah Eko saat mereka bertiga sampai di depan pintu gerbang rumah.
Halimah yang sebelumnya sudah cukup berani mengangkat wajah kembali harus tertunduk lemas. Kemudian menggelengkan kepalanya.
“Be–belum, Yah.”
“Kamu ini gimana sih!” ketus Ayah Eko. “Lihat, udah hampir jam sepuluh sekarang. Kalau kamu aja belum makan udah pasti si Novita juga belum makan. Kamu mau siksa ini anak kamu?!”
Halimah menelan ludah sekali lagi. Meski tidak membentak dan hanya menggunakan nada datar, tapi suaranya yang besar dan berat Ayah Eko berhasil mengiris hati Halimah. Apalagi dengan kalimat barusan. Kalimat yang melukai hatinya. Memecahnya jadi berkeping-keping.
“Iy–iya tadinya kita rencana udah mau makan, Yah. Tapi ada sedikit masalah. Kami serumah habis dari pasar trus ...”
“Masalah uang lagi kan?” potong Ayah Eko. “Masalah uang bukan masalah kecil namanya. Kamu kira bisa hidup tenang tanpa uang? Kamu kira bisa makan dan tidur nyenyak kalau dihantui masalah uang?”
Terkunci, bibir Halimah seketika tertutup rapat. Dibungkam kalimat laki-laki di depannya yang masih menggendong Novita anaknya. Laki-laki yang kini bergerak menutup pintu gerbang depan yang tinggi besar.
Tak lama kemudian, dari arah garasi, dari balik deretan 3 mobil mewah pribadi muncul seorang perempuan. Usianya tak terpaut jauh dari Ayah Eko. Mengenakan daster coklat dengan perhiasan berbaris di pergelangan tangan. Rambut lurus itu digelung ke belakang seolah memang ingin memamerkan emas berkilauan di lehernya.
“Loh Novita?” Perempuan itu mempercepat langkahnya. Menyusul cucu yang sekarang ada di gendongan suaminya. Tapi pandangannya seketika berubah saat tubuh Halimah yang sebelumnya terhalang mobil, terlihat.
“Hmm ... pantes. Kenapa lagi kali ini? Masalah apalagi?” ketusnya sambil melipat tangan di d**a. Tidak jadi menghampiri cucunya. Memilih berdiri mematung dan menghardik anaknya sendiri.
Sementara yang ditatap masih saja terdiam. Menundukkan kepala sambil meremas jari tangannya sendiri.
“Sttt ... udah, Mah. Jangan bertengkar di sini. Nggak baik dilihat Novita,” ucap Ayah Eko sambil melirik ke arah anak kecil di gendongannya.
“Emang bener-bener nggak tahu diri ya itu si Jaka. Baru juga dua minggu yang lalu bikin masalah. Sekarang apalagi? Uang lagi?”
Halimah menghela napas panjang, kemudian terpaksa mengangguk lemas. “Ma–maaf, Mah. Ta–tapi Halimah bener-bener nggak tahu lagi harus pergi ke mana.”
“Itu lagi ... itu lagi ....,” dengus kesal perempuan itu lagi. “Nggak ada kalimat lain ya yang bisa bikin ayah sama mamahmu ini senang? Apa kek gitu. Tiap datang ke sini pasti karena masalah dan masalah lagi. Sebenarnya si Jaka suamimu itu becus nggak sih jadi suami?”
“Mahh .... udah dong, Mah.” Ayah Eko menyela. “Udah. Sekarang biar Halimah makan dulu. Kasihan dia belum makan.”
“Terserah deh. Emang gini kalau punya anak dari kecil kamu manja, Yah. Jadinya pas gede nggak bisa mikir! Bisanya nyusahin terus ...,” ketus perempuan itu terakhir.
Sebelum memutuskan berbalik badan. Mengurungkan niatnya menghampiri Novita. Melenggang pergi begitu saja meninggalkan Halimah dan Ayahnya di depan garasi dengan wajah bersungut-sungut.
Ayah Eko pun serupa juga dengan sang istri. Menghela napas panjang penuh rasa kecewa. Sebelum akhirnya pergi meninggalkan Halimah tanpa mempersilakan putrinya tersebut masuk atau mengajaknya sarapan.
##
Rumah keluarga Halimah ini adalah satu dari yang beberapa rumah paling mewah di kompleks Perumahan Asoka. Berdiri dua lantai di atas tanah 3 hektar. Luas, lebar dan mewah, ini semua tidak lepas dari dua orang hebat penghuninya.
Ayah Halimah adalah pensiunan abdi negara. Sementara Mamah Catur adalah bidan senior yang sekarang menjabat jadi kepala rumah sakit daerah Tulangabu.
Tapi kenapa nasib Halimah bisa berbanding terbalik? Jawabannya ada pada Halimah sendiri.
Dua belas tahun yang lalu tepatnya ia kenal dengan Jaka. Laki-laki sederhana kakak kelasnya waktu SMA dulu. Laki-laki yang terus bisa membuatnya jatuh cinta setiap hari. Bahkan setelah melewati ujian untuk menyatakan cintanya di depan kedua orang tua Halimah.
Tapi cinta adalah hal terhebat yang selalu gagal didefinisikan umat manusia. Ia bisa melemahkan, juga bisa menguatkan. Bodohnya, Halimah percaya yang kedua.
Percaya jika selamanya ia bisa mencintai Jaka maka hidup akan mudah. Kalau pun keras, ia percaya pasti akan tetap kuat karena besar cintanya pada Jaka.
Siapa yang mengira hidupnya kemudian menjelma bak meja judi. Pernikahan jadi pertaruhan. Berkali-kali Halimah dan Jaka kalah dalam segi ekonomi. Tapi kemenangan tak juga berkunjung berpihak pada mereka.
Menikah dengan uang orang tua Halimah. Mengandung dan melahirkan Novita dengan uang dari mereka juga. Novita yang lahir prematur butuh uang berkali-kali lipat banyaknya dari anak lain. Belum lagi penyakit yang sering hinggap di tubuhnya karena Halimah terpaksa puasa saat hamil karena tidak ada yang bisa mereka makan.
Hanya cinta yang selama ini menguatkan Halimah dan Jaka. Sampai-sampai mereka lupa kalau sekarang, kuatnya cinta justru jadi racun dan membunuh mereka pelan-pelan.
“Sudah makannya?” tanya Ayah Eko.
Laki-laki itu tiba-tiba muncul bersamaan dengan istrinya. Membawa segelas s**u putih di tangannya. Meletakkan gelas itu di depan Halimah yang baru saja memasukkan suapan terakhir nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Sudah kok, Yah.” Halimah mengangguk.
Menjawab pertanyaan ayahnya setelah menelan kunyahan terakhir di dalam mulutnya. Ganti meneguk s**u putih yang dibawakan ayahnya. Perutnya sudah sangat lapar. Bayangan sarapan yang romantis pagi ini dengan Mas Jaka kesayangannya harus musnah begitu saja.
Dua orang itu duduk mendaratkan tubuhnya di kursi depan Halimah. Mata mereka tak melepaskan barang sedetik pun pandangannya dari Halimah.
Halimah sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia sudah beberapa kali berada di posisi ini.
Namun bagi Halimah, hari ini jelas berbeda dari hari-hari sebelumnya. Ia tak mungkin mengelak terus. Semakin ia mengelak, semakin gampang juga ia terjerat ludahnya sendiri.
Mulai detik ini Halimah sadar, hidupnya dan Mas Jaka memang akan tidak baik-baik saja jika diterus-teruskan.
“Sekarang kamu cerita apa yang sebenarnya terjadi? Tenang saja, anakmu udah dijaga Bi Endang. Kamu nggak perlu khawatir. Kami lebih tahu bagaimana memperlakukannya,” ucap Ayah Eko.
Halimah menghela napas panjang. Matanya kosong menatap meja di depannya. Melamun, pikirannya beterbangan tak tentu arah. Tak mau menatap ke arah kedua orang tuanya. Tapi di satu sisi tidak orang lain yang bisa menyelamatkan hidupnya selain mereka berdua.
“Uang kontrakan,” ucap Halimah setelah terdiam cukup lama. “Kami menunggak uang kontrakan dan Mas Jaka nggak bisa bayar.”
“Astaga .... cuma masalah kontrakan doang sampai harus kabur kemari?!” hardik Mamah Halimah. “Bener-bener kelewatan ya itu Jaka. Trus ke mana aja uang kalian selama ini? Si Jaka nggak kerja?”
“Iy–iya kerja, Mah. Tapi kan uangnya cuma cukup buat makan,” kelit Halimah. “Belum lagi biaya berobat kalau lambung Novita kambuh.”
“Tapi kan pas kemarin Novita sakit itu juga pakai uang kami, Halimah. Kamu nggak bisa dong kambing hitamin Novita. Orang pas dia lahir juga pakai uang kami kok,” tampik Ayah Halimah.
“Iya ayah, Halimah tahu. Makasih banget kalian berdua udah bantuin Halimah dan Mas Jaka. Tapi kan itu biaya-biaya yang terlihat aja. Yang nggak terlihat kan jauh lebih banyak. Obat jalan, belum lagi makanan dan minuman sehat, belum biaya sekolah Novita. Uangku dan uang Mas Jaka habis buat itu semua,” kilah Halimah.
“Nggak ada! Mamah masih nggak terima ya kalau cucu mamah dijadikan kambing hitam gitu. Iya kan yang pilih menikah kamu. Jaka juga pilihan kamu sendiri. Kamu juga yang pilih punya anak. Nggak bisa dong kamu salahin Novita kayak gitu,” sambar perempuan di depan Halimah dengan wajah bersungut-sungut.
Suasana ruang makan yang sebelumnya tenang berubah jadi memanas. Halimah tersudut tidak bisa membela diri lagi.
Ayah Eko menggeleng, memijat keningnya. “Sudah, untuk yang satu ini Ayah dan Mamah udah sepakat buat lepas tangan. Kami berdua nggak mau bantu sepeser pun buat kalian. Kamu bayar sendiri gimana pun caranya. Atau kalau enggak ...”
“Cari aja suami lain,” timpal Mamah Halimah.
Jawaban yang membuat Halimah tersentak. Matanya terbelalak, dadanya bergemuruh.
“Tapi, Mahh ....,”
Bersambung ....