Bekas Bibir Siapa, Mas?

2000 Words
Satu hari itu jadi hari paling memuakkan bagi Halimah dan Jaka. Hari minggu yang mereka harapkan jadi indah. Membuka pagi hari dengan anggota keluarga yang lengkap dan sehat semua. Merayakan rasa syukur itu dengan berjalan-jalan bertiga ke pasar. Semuanya musnah, luluh lantak hancur berantakan saat menemukan Bu Khosim berdiri di depan rumah sepulang mereka dari pasar. Air mata, marah, kecewa, beradu dengan bentakan, cemoohan, dan perdebatan yang melelahkan. Membuat Jaka dan Halimah terpaksa harus berpisah. Tapi ternyata cinta mereka yang kuat, lagi dan lagi tak bisa mengalahkan kenyataan kalau mereka memang tidak terpisahkan. “Kamu yakin mau pulang sekarang?” tanya Pak Eko dengan nada datar pada Halimah. Pada putrinya yang sudah mengemasi beberapa barang bawaannya. “Iya, Yah. Nggak enak kalau Halimah tinggalin Mas Jaka sendirian. Lagian kan besok Novita juga harus sekolah.” “Halah ... Jaka lagi ... Jaka lagi ...,” potong Mamah Catur. Berdiri di dekat suaminya dengan muka tidak mengenakkan. Bersungut-sungut dengan kedua tangan terlipat di atas perut. “Udah sih biarin aja suamimu tercinta itu mikirin cara lunasin kontrakan kalian. Ngapain juga kamu pusing-pusing ikut mikirin? Kamu di sini aja beberapa hari lagi,” lanjutnya. “Iya, Halimah. Kamu tuh harusnya di sini dulu, minimal beberapa hari. Biar suamimu tuh ngerti apa yang udah dia lakuin. Kesalahan apa yang bikin kamu nggak mau pulang. Halah kalau urusan Novita biar Ayah sama Mamah deh yang mikirin. Ayah masih kuat kok kalau antar jemput ke sekolah Novita. Kalau perlu pindahin aja Novita ke Sekolah Dasar yang dekat-dekat sini,” timpal Ayah Eko. Halimah menghela napas panjang. Matanya terpejam sambil menggeleng pelan. Dari raut wajahnya yang muram, jelas sekali beban itu. Beban yang ia sendiri tak tahu bagaimana cara melepaskannya. Beban yang terasa menumpuk di pundaknya. Apa yang dikatakan Ayah dan Mamahnya memang benar. Tidak ada yang salah, semua nasehat itu baik untuk Halimah. Tapi Halimah bukan lagi anak kecil mereka. Halimah sudah hampir tiga puluh tahun usianya hari ini. Bagaimana pun cerita ini nanti akan berakhir, Halimah merasa kalau pilihan yang ia ambil tidak salah. Ia harus bisa bertahan dengan Jaka, apa pun yang terjadi. “Halimah berangkat dulu ya, Yah ... Mah ...,” ucap Halimah sambil berdiri dari kursinya tiba-tiba. Meraih tangan kedua orang tuanya. Mencumbu punggung tangan mereka bergantian. Mamah Catur sama terkejutnya dengan Pak Eko. Mereka berdua sama-sama tidak mengira kalau Halimah akan sekeras ini. Bahkan semua kalimat nasehat yang keluar dari mulut mereka diabaikan Halimah begitu saja. “Ayo sayang, salaman sama Opa dan Oma dulu, pamitan. Biar kita bisa buru-buru pulang,” ujar Halimah pada Novita yang berdiri di sebelah kaki Opanya. “Engg ... gakk ...!!! Enggak mau, Mamah. Novi mau sama Opa,” rintih anak kecil itu. Meringkik, bersembunyi di balik kaki Opanya. “Tuh ... anak kamu aja ngerti loh. Udah kamu tidur di sini aja dulu malam ini,” sahut Pak Eko. Halimah tidak peduli dengan apa yang keluar dari mulut ayahnya. Matanya tidak lepas dari Novita yang mengintipnya dengan separuh matanya. “Sayang ....” panggil Halimah lagi. Kali ini kedua matanya melotot lebar. Tajam menatap Novita anaknya. “Buruan pamitan. Novita mau besok nggak sekolah? Nggak jajan? Ayo, buruan salim sama Opa dan Oma!” Anak kecil mana yang tidak takut kalau ibunya sudah melotot. Itu juga yang terjadi pada Novita. Dengan tubuh yang gemetaran setengah menahan takut keluar dari persembunyiannya. Tubuh kecil dengan rambut kucir dua itu bergerak. Mengacungkan tangannya ke atas. Disambut tangan Opa yang tersenyum saat Novita menempelkan punggung tangannya di pipi. Begitu juga saat Novita menyalami tangan Oma. Saking gemasnya bahkan Oma sampai membungkukkan tubuhnya. Tak hanya menjabat tangan Novita tapi menciumi wajah cucu kecilnya itu berkali-kali. “Halimah pulang dulu, Yah-Mah. Terima kasih buat sarapan dan makan siangnya,” ucap Halimah dengan nada sedikit pedas. “d**a sayang ke Opa sama Oma.” Lagi dan lagi, Novita hanya menuruti apa kata Mamahnya. Mengangkat dan melambaikan telapak tangannya. Sebelum akhirnya kembali ia harus berjalan kaki bersama Mamahnya menuju pinggir jalan raya tempat biasa angkutan kota berhenti. ## ‘Tak ... Tak ... Takkk .... !!!’ “Pak depan kiri, Pak.” Halimah berteriak pada sopir angkot sambil mengetuk-ngetuk jendela angkot dengan koin di tangannya. “Iya, Neng. Gang depan yok kiri-kiri,” balas sopir angkot. Memutar setir di tangannya dengan cekatan. Tak lupa sambil menginjak pedal rem di kakinya. Halimah membawa Novita turun dari angkot setelah memberikan selembar uang lima ribuan kepada si sopir. Lagi dan lagi, mereka berdua masih harus berjalan lagi sampai rumah seperti yang mereka lakukan tadi pagi saat meninggalkan rumah. Hari sudah malam, sinar jingga yang menghiasi langit ufuk barat sudah hilang beberapa jam yang lalu. Ditelan Gunung Guntur yang tinggi gagah memayungi Desa Tulangabu. Lampu-lampu jalan sudah dinyalakan. Gelap mengantar hewan-hewan malam pergi memulai kelananya. Kelelawar, tikus, kunang-kunang dan jangkrik mulai mengambil alih riuh peradaban manusia. Di jam yang sudah lewat isya seperti ini, orang-orang Desa Tulangabu lebih banyak diam di rumah. Menonton TV atau sekedar minum kopi dengan sanak famili. Namun tentu saja hal tersebut tidak berlaku bagi Halimah dan Novita. Ya, ibu dan anak itu masih harus terus berjalan untuk beberapa menit ke depan. Jalan yang sepi, sorot lampu jalan yang temaram dan keduanya yang sama-sama membisu. Semua pemandangan menyedihkan itu bertahan sampai Halimah dan putri semata wayangnya tiba di rumah. “Bapak .... !!” Novita memekik saat pintu terbuka. Berteriak memanggil laki-laki yang sedang duduk di ruang tengah bersama segelas kopi di depannya itu. “Uhhh ... sayangnya bapak udah pulang,” sambut Jaka. Menangkap tubuh Novita. Menggendongnya, membawanya terbang seperti tengah naik biang lala pasar malam. Suasana rumah yang sebelumnya sunyi dan senyap jadi riuh dan ramai karena kedatangan Novita. Suara teriakannya, tawanya saat Jaka membawa tubuhnya terbang layaknya pesawat terbang memenuhi semua sudut ruangan. Namun sayang, kegembiraan itu sama sekali tidak terasa di hati Halimah yang terlanjur panas. “Mas tolong jaga Novita ya,” ketus Halimah sambil melepas jaket yang ia kenakan. Jaket lamanya yang ia bawa dari rumah. “Aku capek. Aku mau mandi trus tidur. Itu pun kalau bisa.” Kalimat Halimah barusan seketika membuat tawa Jaka dan Novita surut. Jaka tahu Halimah lelah. Tapi bukankah baiknya kalau tidak harus mengucapkan itu di depan Novita? Apalagi dalam posisi ini, bukan hanya Halimah yang lelah. Tapi juga semua orang termasuk Jaka. Namun Halimah yang terlanjur dongkol dengan keadaannya sendiri sama sekali tidak peduli. Tanpa menunggu kata setuju sang suami, ia langsung pergi ke belakang. Menanggalkan semua pakaiannya, lantas menyiram tubuhnya dengan air dingin kamar mandi. Tubuhnya yang masih cukup terawat hari ini harus bermandikan keringat. Belum lagi asap knalpot, aroma angkot dan para penumpangnya yang campur aduk. Halimah sampai-sampai tidak mengenali aroma tubuhnya sendiri. Cukup lama Halimah mandi. Air yang mengalir. Bulir-bulir yang melewati celah-celah rambut dan tubuhnya. Busa dari sabun batang yang menyelimuti kulitnya. Setelah semua yang terjadi hari ini Halimah seakan enggan keluar dari tempat ini. Meski tak semewah kamar mandi di kompleks rumahnya. Hanya sepetak kecil yang berbatasan langsung dengan sawah. Tapi Halimah selalu suka saat-saat menyiram tubuhnya. Terasa muda lagi, apalagi saat ia mematutkan diri di depan cermin di dalam kamar mandinya. Jaka mengabulkan permintaannya untuk punya cermin besar di dalam kamar mandi. Permintaan yang sedikit konyol tapi demi Halimah, Jaka dengan senang hati mengabulkannya. Meski sudah punya anak Novita, tapi tubuh Halimah seolah tidak berubah. Lahirnya Novita yang harus dengan operasi sesar membuat pinggulnya tidak banyak mengembang. Pinggangnya masih melekuk seksi bak gitar Spanyol. Wajah cantik yang mewari mamahnya. Hidung mancung yang mewarisi Pak Eko. Didukung tubuh yang tinggi dan berisi. Tak jarang membuat Halimah jadi bahan godaan di warungnya. ‘Klekkk ... !!!’ Kunci kamar mandi terbuka. Derit engsel pintu mengiringi papan seng itu terbuka. Halimah keluar dari balik pintu. Dengan balutan handuk yang menutup separuh tubuhnya, ia berjalan cepat menuju kamar. “Eh??” pekik Halimah pelan saat melihat Novita putrinya sudah tertidur di atas ranjang tidurnya. Rumah ini hanya punya 2 kamar. Satu kamar yang sekaligus jadi tempat salat dan ganti pakaian jadi tempat tidur Novita. Sementara kamar satunya adalah tempat Halimah dan Jaka tidur. Halimah membungkuk. Melambaikan tangannya di depan wajah Novita. “Tidak ada gerakan bola mata. Novita pasti kecapekan jalan hari ini sampai tertidur,” gumamnya dalam hati. Tanpa pikir panjang Halimah berganti pakaian. Mengambil celana dalam dan daster terusan. Mengenakannya tanpa bra. Lantas keluar kamar pelan-pelan. Tidak ingin membangunkan Novita yang sudah jatuh tertidur lelap. Ia menengok ke kamar sebelah. Mencari Jaka suaminya tapi tak menemukan pria itu di sana. “Kamu belum ngantuk, Mas?” tanya Halimah setelah menemukan laki-laki itu yang ternyata masih duduk di ruang tengah. Duduk terdiam melamun dengan tatapan kosong. Kedatangan Halimah membuyarkan lamunannya. Membuat Jaka tersentak. Tersenyum kemudian menggelengkan kepala sambil meraih gelas kopinya yang sudah hampir mencapai dasar. “Hufff .... pasti berat banget ya hari ini?” tanya Halimah pelan sambil mendaratkan tubuhnya duduk di sebelah suaminya. “Nggak kok. Udah kelewat sayang. Jangan dipikirkan,” jawab Jaka sambil menggeleng sekali lagi. “Maaf ya, Mas. Aku nggak bisa bantu banyak,” ucap Halimah dengan wajah memelas. Jaka tersenyum. Membuka kedua lengannya lebar-lebar. “Nggak sayang, kamu udah bantu banyak banget. Sini peluk aku. Aku kangen sama kamu.” Tanpa pikir panjang lagi, Halimah merebahkan tubuhnya di dalam pelukan Jaka. Hampir sepuluh tahun umur pernikahan mereka. Halimah paham betul apa yang suaminya mau. Jaka model orang yang tak mau banyak bicara. Tapi apa saja yang ia urus akan selesai sesuai omongannya sendiri. “Aku sayang banget sama Mas Jaka,” bisik Halimah lirik. “Muachhh ....” Jaka mendaratkan kecupan di kening Halimah. “Aku juga sayang banget sama kamu. Ngomong-ngomong, kamu keramas sayang? Harum banget.” Halimah terkekeh, mengangkat wajah menatap suaminya. “Kamu tuh ya. Dari dulu nggak pernah berubah. Tahu aja kalau istrinya habis keramas.” Melihat wajah Halimah istrinya yang tengadah ke atas, Jaka seperti menangkap sinyal-sinyal itu. Ia balas merundukkan kepalanya. Menurunkan wajahnya pelan-pelan, menyambut bibir Halimah yang tebal di bawahnya. “Ummmm ....,” lenguh Halimah. Ciuman yang awalnya hanya ciuman kecil itu jadi menguat. Seperti bergerak sendiri, tangan Halimah memanjat kepala Jaka. Meremas, menjelajah sela-sela rambut dan menarik kepala Jaka. Tak ingin menyudahi ciuman itu. Tak ingin melepaskan bibir Jaka barang sedikit pun. “Sshhhh .... !!!” Lenguhan-lenguhan kecil kian menjadi-jadi. Dari lenguhan sekarang jadi desahan-desahan panjang saat tangan Jaka mulai bergerak nakal. Turun dari tengkuk, ke leher lanjut meremas dua bukit kembar milik Hamilah yang sintal. “Kau tahu sayang? Kalau ini dilanjutkan bisa-bisa kamu harus keramas lagi besok pagi.” Jaka menyeringai. Halimah terkekeh. Mencubit nakal d**a bidang suaminya. “Jangan sok polos kamu ya, Mas. Kamu tahu kan apa artinya kalau aku udah nggak pake bra? Toh kita masih ada uang kan buat beli sampo?” “Hahaha ...” tawa Jaka pecah. “Ada kok, ada. Jangankan buat beli sampo. Buat bikin Novita satu lagi juga masih ada kok uangnya.” Mendengar itu Halimah sontak melotot. “Husshhh ... nggak ada! Enak aja kamu ya, Mas.” Jaka tidak menjawab pertanyaan Halimah. Ia hanya tersenyum menyeringai. Sebelum kembali menyerbu bibir istrinya tersebut. Menghujaninya dengan kecupan dan ciuman berkali-kali. Tangan kekarnya tak mau kalah. Daster tipis yang Halimah kenakan bukan lagi halangan bagi Jaka. “Aahhhh .... Massshhh ... !!!” desis Halimah. Hanya butuh waktu kurang dari dua menit, sekarang Halimah yang dibuat pasrah. Hanya bersandar di kursi panjang ruang tamu. Tengadah membusungkan dadanya. Di sana bibir Jaka berada. Di dua bongkah daging kenyal dengan ujung kecokelatan mancung itu. Bibirnya yang basah, lidahnya yang hangat menari-nari di atas putih Halimah. Membuat istrinya itu menggeliat hebat. Menikmati rasa nikmat yang menjalar di sekujur syaraf tubuhnya. Tapi tiba-tiba saja, Halimah berubah drastis. “Akhhh ... tunggu, Mas! Tunggu!” teriak Halimah. Tangannya mendorong kasar kepala suaminya itu. Jaka yang kaget karena Halimah tiba-tiba berubah, mengerutkan dahi. Tapi keheranannya segera terjawab saat Halimah dengan kasar menarik kerah kaos dan menunjuk ke arah lehernya. “INI APA MAS?! HAH? BEKAS BIBIR SIAPA INI?” bentak Halimah saat menyadari ada bekas memerah di leher Jaka. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD