Bab 5

2302 Words
Sherry terkejut saat ia melihat dirinya di cermin. Kenapa dia bisa secantik ini, apalagi saat ini ia mengenakan dress minim yang terlihat mewah cocok sekali dengan tubuh putihnya. Sherry merasa ini terlalu berlebihan untuknya, sebenarnya mau kemana Arka membawanya sampai ia harus berpenampilan secantik ini. Sherry menjadi ngeri sendiri. Arka sudah rapih dengan jas pesta miliknya, sebenarnya ia malas harus pergi ke pesta. Namun karena ini permintaan orang tuanya untuk hadir, ia terpaksa menurutinya. Seketika ia terdiam dalam saat melihat Sherry keluar, matanya sontak tak berkedip menatap Sherry yang terlihat lebih berbeda. 'Cantik.' membatin Arka. "Pak, gimana penampilannya? Apa sesuai keinginan bapak?" Tanya Diaz yang berdiri disamping Arka. Pria itu tak bergemimg, ia masih terpana dengan kecantikan Sherry. "Pak.." Tegur Diaz lagi berhasil menghilang dari lamunannya. Arka baru tersadar jika Sherry memiliki wajah yang begitu cantik, namun ia memastikan dirinya tidak mungkin jatuh hati pada wanita itu, Arka sangat anti pada wanita manapun. Ia tidak ingin hidupnya runyam karena masalah percintaan yang tidak jelas. "Hmm.. Biasa saja." Jawabnya terlihat acuh, harus Arka akui hatinya berkata lain. Ah.. Mendengar kalimat Arka yang terkesan biasanya saja membuat Sherry menghentakkan kakinya kesal. Jelas-jelas ia terlihat cantik malam itu, tapi dengan sombongnya Arka tidak berkenan memujikan walau sekali. Muak rasanya Sherry memandang tingkah Arka pada saat itu. "Biasa saja? Kalau begitu Pak Arka terhormat bagaimana anda cari wanita lain saja untuk menggantikan saya berpakaian badut seperti ini." Ngedumel Sherry yang masih tak terima. Arka tersenyum remeh, ia memberi kode pada Diaz untuk membawa para make over yang beberapa menit lalu telah mengubah Sherry bisa secantik sekarang. Diaz cepat paham, lalu ia pergi bersama mereka semua meninggalkan tempat itu yang hanya menyisakan mereka berdua. Sial! Kenapa Diaz pergi! Sherry sontak ketakutan apalagi melihat tatapan b******n Arka. Ia memundurkan langkahnya hingga punggungnya sudah menumbruk dinding membuat tak bisa lari kemanapun. Arka mendekat bahkan pria itu dengan santai membuat wajah yang intens hanya sejengkal dengan bibir Sherry. Ya Tuhan selamatkan aku dari pria brensek satu ini! Sherry menelan ludahnya sambil membatin sendiri. "Pak.. Mau apa anda? Saya mohon jangan lakukan apapun pada saya." Cicit Sherry yang sudah memelas takut. Arka membuyar tawanya, ia tak menyangka dirinya bisa tertawa didepan wanita yang tak berarti untuknya. "Sherry.. Sherry.. Kamu lucu sekali. Kamu dengar ya 'Saya - Bukan - Pria - Seperti - Yang - Kamu - Pikirkan - Saat - Ini..' Paham!!" Ucap Arka dengan menekan kalimatnya akhirnya. Sherry melotot mendengar kata-kata Arka, ternyata Arka bukan p****************g yang seperti ada diotak beberapa saat lalu. Lalu setelah itu, Arka menarik tangan Sherry. Ia meminta Sherry untuk menggandengnya agar terkesan mereka seperti suami istri pada umumnya. Sebenarnya Sherry sendiri enggan bergandeng dengan pria yang sudah ia klaim sangat dibencinya namun Arka mengancam akan memecatnya jika berani menolak. Dia tak bisa berbuat apa-apa selain menurutinya, apalagi ia sangat butuh pekerjaan ini. Selain membantu Raga ia juga harus membayar uang kuliah Luna adiknya. Lebih-lebih saat ini ibunya Fatim sering sakitan, dia harus membantunya. "Pak, apa harus kita bergandeng seperti ini." Sherry berusaha protes dengan bibir yang terus mengerucut kesal. "Wajib! Saya harus membawa kamu sebagai istri saya. Dan kamu harus menuruti keinginan saya." Sherry menghela napas malas, percuma saja rasanya berdebat dengan bos angkuh seperti Arka. Dasar tak berperasaan!! Semaunya!! Sherry harus pasrah tertekan seperti sekarang, kedua orang ini sudah berada diparkiran. Arka memutuskan menyetir sendiri membawa Sherry menuju pesta. Jalan malam itu tidak terlalu sepi dan tidak juga ramai, mungkin karena cuaca malam itu sedikit hujan. Tidak terlalu banyak orang berkeliaran di jalanan. Keadaan dalam mobil Arka sangat hening. Tidak ada yang bisa mereka bahas. Sherry hanya memperhatikan jalan dari dalam mobil mewah Arka. Lalu seketika ia melihat Raga di pinggir jalan, ia baru teringat memiliki janji seperti tahun sebelumnya merayakan ulang tahun Nathan. Dan sekarang ia yakin Raga mencarinya karena khawatir. Astaga.. Bagaimana ini? Sherry berkata dalam hatinya, dia tak bisa menolah Arka, ia juga tak mungkin mengingkari janjinya pada Raga. Sekarang apa yang harus ia lakukan. Sherry merogoh ponsel didalam tas kecil yang gunakan. Ia tampak gelisah menghubungi Raga, namun Raga tidak mengangkat ponselnya. Arka melirik Sherry yang panik, ia penasaran siapa yang wanita itu hubungi. "Kamu telpon siapa?" Tanyanya tanpa ragu sambil menyetir mobil dengan santai. Sherry semakin gelisah, ia ingin sekali turun dari mobil itu tapi itu tidak mungkin!! "Ada apa? Kenapa kamu menatap saya seperti mangsa." Ucapnya lagi menyadari Sherry yang telah memicingkan matanya.. "Jangan ge'er ya pak. Saya sebenarnya ada janji dengan seseorang tapi karena perbuatan anda rencana saya gagal." Timpal Sherry yang sudah sangat jengkel, ingin sekali ia memukuli kepala Arka berkali-kali. Mustahil!! Dia tidak akan bisa melakukan itu, belum juga menyepakati kemauan Arka, dia sudah menderita seperti ini. Apalagi menjadi istrinya, pasti hidupnya serasa di neraka. Dasar setan jadi-jadian!! "Oh.. Begitukah?" Mendadak Arka menghentikan membuat detak jantung Sherry seperti terhenti. Untung saja ia tak memiliki penyakit jantung. "Pak Arka! Kenapa anda berhenti mendadak, saya 'kan jadi kaget. Nyebelin!" Sungut Sherry menyilang tangan di dadanya. Lalu dengan berani ia menatap penuh tantangan pada Arka. "Apa lihat-lihat!! Kamu berani sama saya! Sherry dengar apa yang saya katakan jika kamu menyetujui permintaan saya, kamu jangan pernah memiliki hubungan dengan siapapun." Sherry terperangah tak percaya, pria ini tampak posesif. "Pak, apa anda lupa jika itu hanya pura-pura. Lagi pula saya udah punya tu---" "Sssttsss.. Diam kamu! Saya tidak suka dibantah." Decak Arka membuat Sherry semakin menggedumel jengkel dalam hatinya. *** Setelah hampir satu jam diperjalanan Arka dan Sherry akhirnya sampai juga di tempat pesta digelar. Arka keluar mobilnya lalu ia membukakan pintu untuk Sherry. Melihat sikap baik Arka yang hanya sandiwara membuat Sherry kesal, dan sekarang dia sungguh terjebak dengan bos galak dan super menyebalkan ini. "Terima kasih, pak." Ucap Sherry harus berpura sikap baik. "Sayang.. Panggil sayang. Sekali saja kamu memanggilku pak, aku akan memotong gajimu." 'Astaga.. Tega sekali dia ingin memotong gajiku. Dasar menyebalkan.' Umpat Sherry dalam hati. "Baiklah sayang." Sherry berkata lembut dengan raut muka yang terpaksa. Arka memagut jemari lentik Sherry, ia berjalan memasuki tempat itu. Semua mata tertuju pada pria itu, waja saja ini pertama kali Arka membawa seseorang ke acara kliennya. Sherry mulai gugup, karena jujur ia tak bisa diperhatikan seperti sekarang. Benar-benar membuat risih seketika ponselnya berbunyi namun ia tak bisa mengangkatnya. Bagaimana tidak tangan Arka selalu menempel tak membiarkan ruangnya bergerak bebas. Di tempat itu ada beberapa rekan kerja Arka menyapa, Sherry berharap Arka menjauh sebentar darinya. Karena ia ingin segera menghubungi Raga. Saat Arka tengah asik bicara dengan kliennya, mendadak ada seorang wanita tak kalah seksi dari Sherry menghampiri Arka. Pria itu terlihat tak suka kehadiran Wanita yang bisa disebut dengan nama Reana. "Arka.. Siapa perempuan yang berani pegang tangan kamu ini?!" Ucap manja Rea sambil menyingkirkan tangan Sherry. Huft.. Sherry sedikit lega karena bisa lepas sejenak dari Arka. Ia berpikir bisa leluasa menjauh dari cengkraman bosnya ini. Tapi ia sepertinya salah, Arka sekarang justru kembali mengenggam erat jemari Sherry. Baru juga ia berharap bisa bebas, sepertinya itu hanya mimpinya sesaat. "Rea.. Jaga sikap kamu dia istri saya Sherry." Ucap Arka dengan suara baritonnya membuat Sherry terjenggit pelan, namun ia bisa mengontrol kekesalannya. Tapi tidak untuk Rea, ia tidak mudah percaya jika Sherry istrinya. Mana mungkin seorang Arka menikahi wanita lain yang jelas mereka berdua sudah dijodohkan sejak lama. Reana adalah anak dari sahabat orang tua Arka, ia memiliki klub malam salah satu bisnis keluarganya. Ia juga pewaris tunggal, bukan hanya itu Rea dulu kuliah london satu universitas dengan Arka. Mereka sudah lama saling mengenal. Tidak mudah untuk Rea percaya begitu saja. Apalagi ia tahu betul sulit mencairkan hati betul seorang Arka. Dari Rea ketahui Arka memang sering menolak perjodohan mereka halus maupun kasar. Melihat Arka mengenali wanita dihadapannya sebagai istri, ia menyanggah semua itu. "Tidak mungkin. Arka, kamu jangan bercanda sama aku." Ujar Rea yang tak mudah percaya. Arka tahu sulit untuk menyakinkan Rea tapi ia harus lakukan itu demi membatalkan perjodohan mereka, apalagi sampai menikah. Sangat tidak diinginkan oleh Arka. "Apa kelihatan wajah saya bercanda. Dia istri saya, kami memang menikah tidak memberitahu siapapun tapi karena istri saya pencemburu, jadi saya berniat mengenalinya pada semua orang termasuk kamu." Sherry memajukan bibirnya kesal, kalau saja dia diperbolehkan untuk mencengkik bos super duper membuatnya dalam waktu singkat memanas sendiri hingga ubun-ubunnya. Mendengar penjelasan Arka tentu tidak membuat Rea terima begitu saja, ia langsung dengan kejudesan menatap iblis pada Sherry yang berdiri di samping Arka. Bahkan tanpa segan Rea mendorong tubuh Sherry, untungnya Arka menahan punggung wanita itu agar tidak terjatuh. "Eh.. Berani sekali kau menjadi penghalang hubunganku dan Arka. Arka itu calon suamiku dan sekarang kau malah menjadi penganggu." Racaunya membuat d**a Sherry turun naik menahan amarahnya. Ya Tuhan mimpi apa Sherry harus dikatain seperti ini, dia sudah memiliki Nathan mana mungkin ia tertarik pada Arka yang sama sekali bukan tipe dirinya. Tapi bodohnya Sherry ia pasrah saja ketika Arka mengenali dia sebagai istrinya. "Rea, jaga sikap kamu." Suara Arka terdengar menggelegar saat membentak Rea. Sherry hanya bisa diam melihat kalimat kasar yang keluar dari mulut Arka. Rea tak terima Arka bersikap kasar padanya. "Arka! Kamu sadar apa yang kamu lakukan. Apa tante Winda tahu soal ini?" Arka tetap bersikap santai bahkan sama sekali tidak takut mendengar ucapan Reana. "Mama tahu atau tidak itu urusan saya! Kamu jangan ganggu hidup saya. Paham!! Apalagi sampai menyentuh istri saya." Ucap Arka mengintimidasi pada Rea. 'Enteng sekali dia bicara! Memangnya dia pikir aku mau dia jadikan istri kontraknya.' Gerutu Sherry dalam hati sambil menatap kedua orang ini berargumen. "ARKA! KAMU KERTELALUAN!! KAMU TAHUKAN SIAPA AKU! DAN AKU BISA PASTIKAN ISTRI KAMU INI--" "STOP!! JANGAN MENGANCAM ATAU BERANI MENYAKITI ISTRI SAYA. KAMU SENTUH UJUNG KUKUNYA SAJA. SAYA PASTIKAN KAMU MENYESAL!!" Sherry hampir tak percaya jika Arka ini terlihat cool saat marah, lebih-lebih pria itu memastikan dia baik-baik saja. Sherry berpikir seketika jika Arka ini sebenarnya memiliki hati yang baik, namun dia hanya sedikit arogan. Tapi ada sisi baik dari pria ini tersembunyi bahkan mungkin jarang orang lain bisa melihatnya. Arka meninggal tempat itu dengan keadaan emosional, ia tanpa pamit pada pemilik acara. Lalu ia merengkuh erat tangan Sherry menuju mobil miliknya. "Masuk.." Perintah Arka. Sherry hanya menurutinya sembari berdecak kagum padanya. Arka masuk mobil, ia memukul berulang kali setir mobil hingga membuat Sherry mencoba hentikan kelakuan Arka masih meluapkan amarahnya. "Pak, sudah kasian setir mobilnya dipukuli bapak." Bukannya meredakan emosi pria itu, Sherry malah membuatnya menatap sinis. "Siapa yang minta kamu berkomentar! Hah?" "Ish.. Galak amat sih!" "Sekarang kasih tau alamat kamu, saya antar pulang." "Jangan!!" Arka mengeryit heran, sepertinya Sherry tidak mau pria itu mengantarnya. Tapi bukan Arka namanya jika tidak melakukan sesuatu sesuai keinginannya. "Kalau begitu saya akan telpon hrd kantor untuk memberikan alamat kamu." Sherry memasang wajah sebalnya, ia dengan berani kali ini menarik rambut Arka yang sudah rapi itu. "Berani sekali kamu jambak rambut saya. Kamu mau saya pe.." "Kita tidak dikantor jadi Pak Arka yang terhormat anda tidak bisa mengancam saya." Arka mendengus mendengar suara Sherry lantang yang berani menantangnya. "Kamu.." Arka mulai geram, ia menarik tubuh Sherry hingga menempel padanya. Sherry mendadak takut pasalnya bibir mereka sudah saling bersentuh. Dia hanya bisa tertegun dengan posisi yang seperti ini. "Sekali lagi kamu berani melawan saya, bibir kamu ini saya pastikan akan dapat saya nikmati." Laki-laki biadap!! Sherry mendorong tubuh Arka menjauh, ia bahkan tampak takut mendengar kalimat Arka yang sangat tajam. "Kamu takut sama saya." Timpal Arka lagi membuat Sherry membungkam. Arka pun tersenyum puas, ia langsung menyetur mobil dengan kecepatan tinggi. Jantung Sherry berdetak cepat seiring lututnya sudah gemetar takut. Parah lagi ia terkaku memegang self beat karena takut. Sherry sungguh ketakutan, ia trauma dengan kejadian Nathan kecelakaan. Bayangan menyakiti kembali menghantamnya. Dimana ia mendapat Nathan kecelakaan dengan tubuhnya terluka parah. Dan sampai detik ini Nathan belum juga sadar dari komanya. Mendadak air mata bercucuran begitu saja, ia tidak bisa menahan sakit itu dimana harusnya mereka bahagia pada saat itu. Arka kaget melihat Sherry menangis, ia memelankan mobilnya. Lalu memberikan tissue padanya Sherry. "Ada apa? Kenapa menangis? Apa kamu secenggeng ini." Cecarnya malah membuat Sherry semakin menangis. Sherry tidak mungkin menceritakan tentang Nathan pada Arka, lagi pula mereka hanya sebatas kerjaan tidak lebih. "Maaf, Pak. Saya takut kalau bapak ngebut seperti tadi, jantung saya bisa copot pak." Bohong Sherry linglung. Arka mengulum kekehan, ia terhibur melihat wajah Sherry sudah pucat ketika itu. "Kamu takut? Saya nggak nyangka, kamu yang suka nyolot bisa takut juga." Hardik Arka. Sherry menghembuskan napas kasarnya. "Ish.. Dasar bos nggak peka! Saya juga manusia. Pokoknya saya nggak mau tau bapak harus tanggung jawab kalau sampai jantung saya nggak sehat." Runggut Sherry. Sherry merasakan kesal, otaknya sekarang melambung dengan prilaku Arka yang bin ajaib. Bisa-bisanya membuat Sherry hampir mati, belum lagi sifat semaunya. Demi apa Sherry harus memiliki bos seperti Arka, ia bersumpah jika saja tidak membutuhkan pekerjaan ini, saat itu juga Sherry pastikan akan berhenti dari perusahaan besar milik Arka. "Jadi kamu suka laki-laki pengertian gitu." Arka tertawa miris, dalam hidupnya mengerti wanita itu sangat menyusahkan. Sama seperti mengertikan ibunda tercinta, membuatnya pusing dan otaknya harus berpikir keras. "Jangan suka mimpi aneh-aneh kamu. Saya bukan tipe orang pengertian apalagi dengan perempuan, itu nggak ada dikamus saya." Tambahnya membuat Sherry menggeleng tak percaya jika ada laki-laki yang seperti Arka di dunia ini. Oh My God.. Ingin sekali Sherry tidak terjebak dengan dunia bodoh Arka. Sebenarnya tidak pantas di bilang bodoh lantaran Arka seorang ceo, mana ada ceo bodoh. Mungkin tepatnya memang dasar Arka ceo menyebalkan. Arka bisa menebak apa yang ada di isi kepala Sherry saat ini, apalagi kalau bukan kejelekannya. Arka sebenarnya menyadari keangkuhan yang ia miliki terhadap wanita itu memang keterlaluan. Bukan saja Sherry, perempuan lain juga pernah merasakan kesombongan Arka bahkan bisa dibilang Arka menginjak harga dirinya. Namun Arka bisa apa? Sifatnya memang sudah begitu dari sana. Dia tidak membenci wanita, hanya ia selalu beranggapan semua wanita itu menyebalkan, ribet. Itu kenapa sampai hari ini ia belum bisa komitmen dengan siapapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD