Raga kebingungan kemana lagi ia harus mencari Sherry, pria itu kembali ke rumah sakit memastikan apakah Sherry datang. Tapi, sepertinya tidak! Sherry menghilang. Ia pun mencoba menghubungi Luna, mungkin sahabatnya itu sudah pulang ke rumahnya.
Akan tetapi Raga dikejutkan melihat layar ponselnya ada panggilan tak terjawab dari Sherry. Lalu ia menghubungi kembali, ia berharap kali ini Sherry mengangkatnya. "Halo.. Astaga Sherry! Lo kemana aja? Lo tahukan gua khawatir sama lo? Sekarang bilang sama gua lo ada dimana biar gua jemput."
"Sssttsss.. Berisik lo ah, Ga. Gua udah menuju pulang ke rumah, sorry gua nggak kabari lo. Besok pagi aja ketemuan di rumah sakitnya." Mendengar jawaban Sherry dari seberang sana membuat Raga kecewa, pasalnya ini pertama kalinya Sherry tidak merasa bersalah sama sekali gagal merayakan ulang tahun Nathan.
Apalagi Sherry tiba-tiba memutuskan panggilan, padahal Raga belum selesai bicara pada sahabatnyasahabatnya karena ia mendengar suara laki-laki dari ponsel Sherry.
Me
Sher, lo lagi sama siapa? Kok lo sampai nggak datang?
Raga memutuskan mengirimkan pesan itu pada Sherry, berharap Sherry cepat membalasnya.
Sherry
Gua nggak bisa cerita sekarang! Besok kita ketemu di rumah sakit sebelum gua berangkat kerja.. Janji besok gua datang.
Lagi-lagi Raga kecewa mendapat jawaban yang tidak memuaskan. Raga mengenal betul sifat Sherry sejak lama, dan sekarang kenapa mendadak wanita itu berubah.
Me
Lo nggak bohongkan! Gua udah kayak orang bodoh nungguin lo, cari lo pula. Harus lo kabari gua kalau nggak bisa datang, gua jadi nggak perlu khawatir. Luna juga telpon gua melulu gara-gara lo hilang. Kasian dia..
Sherry
Ciye.. Udah care sama Luna. Bawel banget sih lo, gua udah kasih kabar ke Luna barusan. Lagian gua perjalanan pulang kok.
Raga mengacak mukanya frustasi, ia kembali mengendarai motornya. Ia berpikir untuk pulang, karena sudah larut malam. Dia akan meminta penjelasan pada Sherry besok harinya.
Di tempat lain Sherry baru saja sampai di kediamannya yang sederhana. Ia lega akhirnya bebas dari penjara yang menganaskan. "Pak, saya masuk dulu." Ucap santai wanita itu sambil keluar dari mobil.
"Kamu nggak mau minta saya singgah gitu."
"Ah.. Bapak ribet banget! Jangan deh ibu saya pasti udah tidur, lain kali aja. Mendingan Pak Arka pulang aja, besok harus pergi ke kantor bukan." Arka justru dengan sengaja turun dari mobil.
Dan kebetulan Luna keluar karena ia sudah menunggu Sherry sejak tadi. Adiknya itu bingung siapa yang pulang bersama kakaknya, pasalnya Sherry tidak pernah pulang dengan laki-laki lain terkecuali Raga.
"Kak Sherry.." Tegur heran Luna. "Astaga kakak darimana? Aku itu khawarir jam segini belum pulang." Tambahnya.
Sherry mengelus pundak sang adik menenangkannya, ia juga memberikan kod untuk tidak ribut agar ibu mereka tidak bangun. "Maaf.. Kakak ada kerjaan tadi. Kamu kok belum tidur?" Jawab Sherry. Arka sendiri bisa menyimpulkan mereka ini kakak adik.
"Adik Sherry?" Luna mengangguk canggung karena ia belum mengenal Arka.
"Iya, saya adik kak Sherry. Kamu..??" Tutur Luna yang berdiri di hadapan pria yang berparas sempurna itu.
Arka yang terlihat santai ia mengulurkan tangannya pada Luna membuat Sherry semakin kesal ingin mengusir pria yang sudah menjajahnya hari ini tanpa izin, dan sekarang ia tidak menyimpan rasa bersalahnya sama sekali pada Sherry. Lebih lagi dia seolah ramah pada adiknya.
"Pak Arka, lebih baik anda pulang. Tidak baik kerumah wanita selarut ini." Arka sengaja mempermainkan amarah Sherry agar wanita itu jengkel dan bencinya padanya dengan begitu tidak ada luang perasaan apapun diantara mereka berdua.
"Sherry, kamu tidak ingin kenalkan adikmu sama saya." Gumam enteng Arka disambut kekesalan memuncak pada pria yang sudah diklaim tak tau diri oleh Sherry.
Sherry merengkuh kuat tangan Arka memintanya memasuki mobilnya dan pergi dari rumahnya. Sebelum ibunya keluar mendengar keributan mereka. "Pak, saya mohon sekarang juga bapak pulang." Sherry terpaksa memasang wajah kelasnya.
Arka akhirnya menuruti keinginan Sherry, ia pun pergi dari tempat tersebut.
Sherry lega akhir biang masalah dalam hidupnya pergi, ia masuk kerumah bersama Luna, sebelum menuju kamarnya ia melihat ibunya yang sudah tidur nyenyak. Untunglah ibunya tidak keluar kalau tidak pasti akan banyak pertanyaan yang harus ia jawab.
Menyebalkan..
Setelah itu Sherry membanting tubuhnya saat sudah masuk kamarnya, ia merebahkan tubuhnya di ranjang yang tidak terlalu besar itu. "Ah Arka sialan!! Kenapa dia harus jadi bos tempat aku kerja sih? Arka brensek!!" Umpat Sherry sendiri berkali-kali. Seperti kebencian tumbuh begitu besar, dia bahkan mungkin ingin membunuhnya.
Sherry sesaat termangu ia heran kenapa Arka ingin sekali menikah kontrak, sebenarnya tidak ada rugi untuk Sherry. Lagi pula imbalan yang dapat akan membantu orang-orang terdekatnya, termasuk juga dengan adiknya Luna. Hanya saja ia harus mengatakan kemana pada ibunya. Masa iya dia harus bilang akan menikah sirih dengan bos..
Arghh.. Itu tidak mungkin!!
Luna yang baru masuk memperhatikan
kegelisahan sang kakak, ia jadi ingin tahu siapa pria yang bersama kakaknya. Selama ini Luna tau setiap malam Sherry selalu menangis merindukan Nathan, tapi malam ini untuk pertama kalinya ia melihat sang kakak tidak memikirkan Nathan. "Hmmm.." Luna menaiki alis dengan senyum menggodanya.
Sherry belum juga sadar kehadiran Luna, ia masih dalam anggannya sendiri memikirkan Arka. Diluar nalarnya Arka sudah berada di otak menganggunya malam yang selalu ia habiskan untuk menangis. "Astaga.. KAK SHERRY." Luna berteriak tidak mendapat jawaban apapun dari Sherry. Wanita itu terjenggit mendengar suara Luna yang melengking membuat telinga Sherry sakit.
"Ya Tuhan.. Luna! Kamu apaan sih, kakak nggak tuli ngapain teriak." Oceh Sherry sebal yang telah membuyar lamunan. Luna terkikik melihat muka Sherry yang merenggut padanya, akhirnya dia tidak perlu memeluk kakaknya menangis malam ini.
"Abiz kakak aku panggil daritadi nggak dengar malah asik melamun, mikirin siapa sih? Towok tampan tadi ya." Sherry melebarkan mulutnya, ini mulut Luna bisa membahayakan dirinya, bisa saja besok pagi ia keceplosan sama ibunya.
Mati dah!!
"Kamu anak kecilnya tau apa sih?" Ketus Sherry. Luna semakin semarak menggodanya, kapan lagi bisa beradu mulut dengan Sherry, setiap hari kerjaan Sherry di hadapannya menangis, di depan ibu mereka saja Sherry tampak kuat padahal hatinya sangat rapuh.
"Kak, aku tuh bukan anak kecil. Lagian aku udah gede. Aku ngertilah beginian. Kakak jangan bohong deh siapa sih tampan tadi. Hmm... Pacar kakak ya?" Mendengar gamblaknya Luna, Sherry menarik rambut Luna hingga mengeluarkan teriakan gadis itu. "Ish.. Kak Sherry sakit tau!" Ringis Luna sambil mengusap kepalanya.
Sherry tertawa puas melihat adiknya kesakitan dengan memanyubkan wajahnya. "Makanya jangan sok tau! Kamu lupa atau apa sih pacar aku Nathan bukan laki-laki galak tadi." Ucapnya galak.
"Masa sih."
"LUNA!!" Luna lari terbirit-b***t menghindari kemarahan Sherry, ia bisa diterkam Sherry jika masih disana.
***
Arka senyum sendiri saat sampai di rumah pribadi miliknya, pria itu sengaja memisahkan diri dengan orang tuanya karena ia lelah selalu di paksa menikah dengan anak teman orang tuanya. Belum lagi ia malas bertemu ayah tirinya, ayahnya memang sudah lama meninggal dunia sejak Arka masih umur tujuh belas tahun, bahkan ia sudah mulai belajar mengurus perusahaan saat ia masih sangat mudah.
Pria itu teringat kejadian di rumah Sherry, bagaimana tidak Sherry dengan berani mengusir walau dengan nada memohon. "Sherry.. Sepertinya dia perempuan yang tepat jadi nyonya rumah ini." Ucapnya sendiri.
Arka berharap Sherry mau menerima tawaran besok pagi. Karena ia sudah muak berurusan dengan Rea meski wanita itu teman kampusnya dulu. Tapi tidak bisa jadi alasan hidup bersama Rea yang sangat manja.
"Arka! Apa-apaan kamu ini.." Tiba-tiba ada wanita paruh baya memasuki kamar Arka. Pria itu menghela napas bosan, siapa lagi yang bisa memasuki rumah kecuali maminya Indira.
"Sejak kapan mami disini?" Sahut Arka santai. Indira tampak sebal, selama ini Arka selalu bisa saja beralasan dan sekarang dia malah semakin membuatnya marah.
"Arka, Rea cerita sama mami, kalau kamu sudah menikah. Siapa wanita yang kamu kenali sebagai istrimu?"
Sudah bisa Arka tebak kedatangan maminya pasti soal pesta ia bertemu Rea. Wanita itu cepat sekali mengadu pada Indira. "Ck.. Mami udahlah aku nggak mau ribut. Mami ngapain kemari, nanti suami mami cari." Gumam Arka tanpa berdosa sama sekali. Indira mendengus kesal sambil menatap satu-satu putranya, ia sudah bisa mendapati sikap angkuh Arka.
Kali ini ia harus alasan apalagi, jika ia mengatakan sudah menikah, bisa gawat jika mendadak Sherry besok malah menolak tawarannya.
"Arka.. Kamu ini bisa nggak sekali aja jangan berdebat sama mami. Apa yang mami lakukan untuk kebaikan kamu darling." Arka tertawa miris, ia masih tak percaya maminya bisa mengeluarkan kalimat bijak.
"Mami.. Mami.. Arka sudah dewasa, aku bisa bedakan yang mana baik atau buruk. Dan untuk pernikahan, itu benar aku sudah menikah sirih. Apa akan jadi masalah untuk mami." Timpal Arka sambil bangkit dari ranjangnya. Indira belum parcaya apa yang ia dengar, mana mungkin Arka menikah tanpa mengabarinya.
"Kamu jangan bercanda, Arka. Ini bukan sesuatu yang lucu untuk kamu jadikan lelucon." Arka bukan tersenyum miring seolah meremehkan ucapan Indira.
"Kalau mami nggak percaya, mami bisa langsung bisa tanya pada Diaz."
"Lalu dimana istrimu? Kenapa tidak ada dirumah ini."
"Aku meminta istriku tinggal tempat lain, aku tidak ingin ada satu orang menyakitinya termasuk mami dan Rea."
Tiba-tiba mata Indira berkaca, ia tak percaya jika Arka berpikir negatif tentangnya. Mana mungkin ia menyakiti seseorang yang sudah menjadi pilihan putranya. Ya memang selama ini ia yang keras kepala ingin sekali menjodohkan Arka dengan Rea tapi jika memang Arka sudah memiliki pilihan sendiri harusnya mengenali padanya. "Apa kamu berpikir mami sanggup melakukannya?" Lirih sedih Indira.
"Mami mungkin tidak! Tapi, orang terdekat mami bisa jadi iya." Indira bingung siapa yang dimaksud Arka. Anaknya itu selalu membuatnya bingung sendiri dengan kalimat yang sontak menjadi teka-teki.
"Arka, mami tidak tau siapa yang kamu maksud? Tolong jangan bermain dengan mami." Arka tertawa seolah itu menjadi candaannya tersendiri.
"Mi, aku ingin istirahat kalau tidak ada keperluan lagi mami bisa pergi dari rumahku." Ucap arogan Arka membuat Indira tak dapat berkata-kata lagi dengan tingkah angkuh Arka yang bahkan ia tak bisa mengendalikan sejak dulu.
Indira memutuskan pergi, dan ia akan meminta seseorang mencari tau siapa istri Arka. Apakah benar Arka sudah menikah atau hanya tipu muslihat anak itu pada Indira.