Pagi-pagi sekali Sherry sudah berada di rumah menemani Nathan sambil menunggu Raga, seperti hari yang sudah ia rencanakan ia membawa sebuah cake ulang tahun sederhana spesial untuk Nathan, harusnya malam tadi ia merayakan ulang tahun Nathan namun karena Arka semua rencananya berantakan.
Mata Sherry berkaca menatap Nathan yang sampai detik ini belum juga sadar. Sudah lama Sherry menanti Nathan, kadang ia sendiri lelah dengan penantianpenantian. Tapi ia selalu merasa pasti akan ada harapan untuk Nathan.
"Udah lama lo?" Sambar Raga yang baru masuk ke ruangan itu. Sherry menengadahkan kepalanya menatap pria itu sambil nyengir tanpa wajah berdosa.
"Nggak juga! Gua nggak bisa lama, gua dapat ijin satu jam doang telat."
Berkat memohon pada Arka pagi-pagi sekali ian menelpon bos super galaknya untuk telat ke kantor. Awalnya pria sombong itu menolak tapi ia tak berputus asa membuat Arka mengijikan. Alhasil Arka memberikan ijin hanya satu jam, jarang sekali ia mendapatkan pria itu baik dan sekarang ia harus memanfaatkan waktunya sebaik mungkin. Jika tidak Arka akan mengamuk padanya.
"Ya udah cepatan. Setelah ini lo utang penjelasan sama gua." Sherry sejenak terdiam, ia bingung apa yang harus ia jelaskan sementara tidak mungkin untuknya mengatakan tentang Arka yang berniat menjadikan istri kontraknya.
Apalagi ia harus sudah mengambil keputusan hari ini, sepertinya Sherry harus berbohong pada Raga. "Sher.. Sherry." Raga menegurnya karena tidak ada satu kata apapun yang keluar dari mulutnya.
"Apaan sih lu, Ga. Ngagetin gua aja." Sungut Sherry sambil menepuk pundak Raga. Pria itu memicingkan mata curiga, ia yakin ada yang Sherry tutupi darinya.
Raga tak menggubris, ia menyiapkan kue ulang tahun yang telah di bawa Sherry spesial untuk Nathan. "Makanya jangan melamun! Pacar lu ada di depan mata, mikirin apa sih?" Sahut Raga. Wanita memajukan bibirnya kesal.
"Gua juga tau soal itu. Buruan deh' lagian lu ngomel udah kayak perempuan aja. Lu mau kemana hari ini."
"Menurut lo biasa gua dimana? Hmm..??" Basa-basi Sherry ternyata garing, harusnya ia tak melontarkan kalimat yang sudah jelas ia tahu apa jawaban Raga.
"Siapa tau lu mau kemana gitu?" Seru Sherry sambil melirik Raga.
Raga tak menghiraukan Sherry ia meletakkan kue ulang tahun di atas d**a Nathan, Sherry berpindah posisi kanan sedangkan Raga masih tetap yang sama posisi kiri. Mereka berdua menyanyikan lagu ulang tahun, setelah itu memotong kue saling bersuapan. Seketika air mata Sherry begitu saja bercucuran, ia tak bisa membendung kesedihan dihatinya lagi.
Sherry teringat hari-harinya dulu bersama Nathan dan ia tak percaya harus merayakan ulang tahun kekasihnya kali ini di rumah sakit. Hatinya susah menerima kenyataan tapi apa daya semuanya terasa pahit.
Melihat betapa hancurnya hati Sherry Raga langsung mendekatinya wanita itu langsung merangkulnya. "Jangan nangis lagi, Sher.. Gua akan selalu untuk lo."
"Hiks.. Gua kangen sama Nathan, Ga. Gua mau Nathan yang dulu kembali, sampai kapan dia terbaring disini." Sherry mengusap air matanya kasar, ia tersadar sudah lebih dari satu jamjl berada di rumah sakit.
Mati..
Dia bisa kena semprot Arka hari ini, apa yang harus dia katakan pada pria gila itu. Tapi melihat ekspresi Raga, Sherry tau pria itu tidak mungkin membiarkan pergi tanpa menjelaskan apapun. "Ga, gua harus balik kantor." Ucap Sherry mengambil tasnya di atas nakas samping ranjang Nathan.
"Eits.. Tunggu." Raga menarik lengan Sherry, ia masih penasaran kemana Sherry pergi malam tadi. "Mau kemana lo? Jelasin dulu kemana lo semalam." Tambahnya dengan nada galaknya.
"Ya Tuhan.. Raga! Gua nggak ada waktu jelaskan. Wait for the right time." Sherry tergesa hendak meninggalkan tempat itu. Raga semakin curiga Sherry pasti tidak ingin menceritakan apa yang terjadi padanya, lantaran Sherry tidak biasa sikap seperti ini, ia selalu blakan menceritakan masalah apapun pada Raga.
"Ya udah gua antar."
"Jangan! Gua bisa sendiri. Bye." Sherry tidak ingin Arka mengenal banyak orang terdekatnya.
Sherry menuju kantor menaiki ojek online yang sudah ia pesan dan sekarang ia harus memikirkan alasan apa yang dia berikan pada Arka. Dan apa dia sudah siap menjadi istri kontrak Arka.
DASAR ARKA RIBET!!
Setelah beberapa saat Sherry akhirnya sampai di kantornya, ia mencebikkan bibirnya ketika melihat mobil Arka terpampang rapi disana.
Matilah kau Sherry!
Sherry berlari menuju lift, ia harap mood bos baik pagi ini, kalau tidak dia seharian bisa jadi babu lagi. Entah kenapa itu hal menjengkelkan, tentu saja! Dia kuliah dengan memiliki otak cerdas yang ujungnya hanya bersih-bersih doang. Untuk apa?!!
Napas Sherry tersenggal berlari menuju mejanya, tapi di saat ia sampai ternyata buruknya Arka sudah menunggu dengan tatapan iblis b***t, dan sekarang dia sungguh tamat.
"Kamu masuk keruangan saya!" Ucap Arka dengan suara baritonnya sambil menunjuk Sherry yang masih berdiri mengatur napasnya.
'Sherry nih orang udah kayak serigala. Dalam hitungan detik bisa jadi apa gua dibuat sih galak ini' Gumam Sherry dalam hatinya sambil melangkahkan kakinya menuju ruangan Arka.
Kaki Sherry sudah gemetar menatap pria yang tidak ada akhlaknya di hadapannya. Kalau bukan dia perlu uang, dia sejak awal akan berhenti. Tapi lagi-lagi ia tak bisa mengambil keputusan, karena Raga. Sherry sudah terlanjur berjanji pada Raga akan membantu dalam waktu dekat.
Sherry menelan salivanya kasar sebelum mengeluarkan kalimatnya. "Pa-- Pak Ar-- Arka Sa--saya minta maaf.. "
"Diam! Yang minta kamu bicara siapa?" Potong Arka. Bibir Sherry mengerucut sebal, sial sekali Sherry harus memiliki bos seperti Arka yang tak memiliki perasaan.
"Maaf." Ucap Sherry tertunduk. Pria itu menahan kekehan, ia senang sekali melihat muka Sherry mucat mendapat amarahnya.
"Jangan berdiri disana, duduk disini samping saya." Arka berkata sembari menepuk sofa sampingnya. Sherry ketakutan sekali menghampiri Arka bahkan dia tak berani menatap muka Arka, ia menebak jika wajah pria itu sekarang tengah murka padanya.
Arka pertama kali tersenyum karena wanita, dan Sherry mampu melakukan hal sederhana itu. Tapi Arka tentu hanya mengira itu sesuatu yang biasa, bukan perasaan atau kekaguman. "Maaf, Pak. Tadi saya telat." Ucap Sherry masih merunduk takut. Arka tak bisa lagi menahan tawanya melihat muka bodoh Sherry, biasanya wanita selalu berusaha ingin melawannya dan sekarang ia seperti ayam yang belum makan.
Sherry tentu mendongakan mukanya, ia tercengang melihat Arka yang terkekeh. Apa ada yang lucu.
Ajaib sekali!!
Pria belaku sepertinya bisa melebarkan senyumannya juga. Sherry seketika memegang jidat Arka, ia takut Arka mendapat gejala depresi, dia bisa tidak waras. "Sherry!! Kamu apaan sih? Saya tidak sakit." Protes Arka. Sherry menyengir polos di hadapan Arka.
"Habis bapak senyum sendiri, saya pikir gila." Arka melotot mendengar kalimat polos yang keluar dari mulut Sherry.
"Berani kamu katain saya gila. Kamu nggak mau tanya kenapa saya panggil kamu." Ujar Arka. Sherry mengidik bahunya.
"Mana saya tau, orang Pak Arka nggak bilang apapun." Gumam polos Arka.
Arka menghempaskan napas beratnya, lalu menatap Sherry sebal. Kalau saja ia tidak butuh wanita ini, ia sudah menendang dari hadapannya detik itu juga. "Saya minta jawaban kamu."
Astaga..!!
Pria ini tidak ada basa-basinya sama sekali, setidaknya membiarkan menapas lega sejenak, Sherry mengerucut bibirnya kesal, ia tidak bisa bayangan jadi apa hidup seatap dalam enam bulan dengan bos menyebalkannya itu. "Baik.. Saya setuju dengan tawaran Pak Arka hanya enam bulan tidak lebih tapi saya harus meminta ijin keluarga saya." Jawab Sherry membuat Arka tersenyum puas.
"Masalah itu kamu tidak perlu khawatir, karena selama menikah kita akan tinggal di kota Malang. Disana saya ada salah satu perusahaan juga, dan masalah keluarga kamu, saya akan meminta Diaz membiayakan hidup mereka." Ucap tegas Arka.
Ternyata diam-diam Arka meminta Diaz mencari tahu tentang keluarga Sherry termasuk ibu dan Luna adik dari Sherry. Arka yakin Sherry tidak akan mengatakan tentang pernikahannya pada keluarganya.
"Kenapa harus di Malang?" Sherry merasa kesal karena ia harus berjauhan dengan keluarganya. Dan sekaligus ia tak bisa bertemu Nathan setiap harinya seperti biasa.
Apa yang harus ia lakukan?
Dasar bodoh!
"Karena disana saya dibesarkan. Dan saya mau menikah disana, tiga hari lagi kita akan berangkat."
Ah.. Enteng sekali Arka mengatakan itu, bertanya saja tidak! Sherry mulai merenggut kesal, dan sekarang ia tidak memiliki pilihan apapun selain pasrah. "Lalu saya harus meninggalkan ibu dan adik saya." Komentar Sherry. Arka sudah bisa menebak wanita itu tidak mudah menerima keputusannya.
"Hanya enam bulan. Setelah itu kamu bebas, dan saya mau kamu saat kamu jadi istri, jangan pernah bekerja di perusahaan saya. Paham!"
What! Apa maksud Arka dia dipecat. Oh no! Bagaimana dia hidupi keluarganya. Memang Arka akan memenuhi semua kebutuha keluarganya tapi Sherry ada harga diri, ia tak mau semakin di injak pria tak punya perasaan itu. "Pak Arka memecat saya? Pak, saya baru beke---"
"Ssstttsss.." Arka membungkam mulut Sherry dengan tangannya. "Saya tidak suka dibantah, dan kamu jadi istri saya. Semua kebutuhanmu, saya akan menanggungnya."
Deg..
Entah kenapa mendadak jantung Sherry tak karuan, suaranya bergebu kencang. Bahkan matanya tak sanggup berkedip menatap pria satu ini. Padahal yang ia tahu, jika dirinya sangat membenci Arka. Apalagi mengingat pertemuan pertama mereka, sangat menjijikan jika ia sampai berdebar seperti sekarang.
Melihat Sherry terdiam tak bersuara, Arka memetik jarinya. "Apa yang kamu pikirkan? Jangan berpikir aku tertarik padamu. Aku melakukan ini karena mamiku." Ujar Arka membuat bibir Sherry mencebik.
'Harusnya dia tau aku juga tidak akan tertarik padanya. Aku masih punya Nathan.' Sherry membatin jengkel dalam hatinya.
"Lalu kenapa Pak Arka tidak menikahi saja dengan wanita tadi malam itu." Cecar Sherry langsung membuat Arka mendekati. Sherry terperanjat saat hidung Arka hampir bertemu dengan hidungnya.
"Ah tidak! Pak jaga batasan anda." Arka tertawa lepas, ternyata Sherry sepolos ini. Dia hanya mendekat sedikit wanita itu langsung gelagapan takut padanya. Sepertinya Sherry memang pilihan yang tepat dijadikan istri kontraknya.
Untungnya dia bisa pastikan tidak akan pernah ada cinta antara mereka. "Kenapa tertawa? Saya tidak suka Pak Arka dekat-dekat saya! Kita belum menikah, jangan macam-macam." Ucap Sherry lagi justru membuat semakin tertawa.
"Kamu pikir kalau sudah nikah saya akan melakukan suatu yang tidak-tidak. Dengarkan sebaik mungkin ya Sherry. Saya Arka Alzahri tidak akan menyentuh kamu, kita hanya sebatas bisnis."
Muka Sherry memerah, bodohnya dia berpikir seperti itu. Entah kenapa seakan mereka akan menikah benaran, padahal ini hanya sebuah sepakatan antara dirinya dan Arka.
Mana mungkin juga Arka tertarik padanya. Lihat saja wanita semalam tadi cantik jelita seperti nanti bidadari di tolaknya apalagi Sherry yang hanya perempuan biasa. Tidak akan bisa membuat Arka tertarik. Dia harus bersyukur tentang itu, karena ia harus berjaga diri termasuk hatinya.
Sherry harus pastikan setelah enam bulan tidak ada cinta diantara mereka sama seperti saat ini. Tidak ada perasaan apapun, dan ia lakukan ini semua hanya untuk Raga dan keluarga, tidak lebih. Ia merasa berhutang budi pada Raga selama ia susah biaya hidupnya selalu sahabatnya itu yang menolak. Sekarang saatnya ia balas kebaikan Raga selama ini.