Bab 8

2013 Words
Sherry kembali bekerja setelah bicara penting dengan Arka. Ia bahkan menemani Arka metting di sebuah restoran dengan klien pria itu. Tanpa protes Sherry menuruti kemauan Arka. "Pak, kita sudah selesai meeting apa boleh saya pergi?" Arka melirik kesal sambil menatap jam tangan melingkar di tangannya. "Ini belum jam pulang, kamu mau kemana? Kamu tidak lupakan Sherry tadi pagi sudah telat datang ke kantor. Dan sekarang kamu ingin pulang lebih awal, jangan seenaknya!" Sungut Arka terlihat tak terima. Sherry tampak jengkel dengan penolakan Arka, padahal ia ingin kembali ke rumah sakit. Karena setelah menikah dengan si penguasa ini, sudah pasti ia tak bisa menemui Nathan lagi seperti biasa. "Saya ada urusan, Pak. Lagi pula saya udah temani bapak selesai metting." "Itu tugas kamu!" Sherry menghentakkan kakinya kesal mendengar ucap Arka enteng. "Tapi, Pak. Sa--" "Diam! Jangan berisik kamu, mendingan kamu pesan makanan apa aja boleh." "Saya nggak lapar." Ucap Sherry ketus, dia masih tak Terima prilaku Arka. Padahal ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Nathan, lagi pula ibunya minta pulang lebih awal itu artinya ia tak bisa ke rumah jika pulang jam kantor seperti biasa. "Kamu harus ingat ya Sherry. Kamu itu calon istri saya, selama jadi istri kamu harus menuruti saya. " "Tapi, kita hanya nikah sirih dan kita lakukan itu hanya sebuah sepakatan. Tidak akan ada pernikahan sesungguhnya di antara kita." Gerutu Sherry yang saat ini ingin membenturkan kepalanya sendiri di meja hadapannya. Arka dengan arogannya tidak suka dibantah Sherry, ia mulai berprilaku dengan kekuasaannya yang ada. "Kamu mau kita nikah resmi." Sherry melotot tak percaya, membayangkannya juga tidak! Apalagi harus menjalani pernikahan yang harus banyak orang tau. Sherry dengan cepat menggeleng membuyarkan pikiran bodohnya. "No! Saya nggak mau. Pak Arka jangan macam-macam!" Ucap Sherry dengan nada mengertak. Arka tersenyum miris, ia tidak akan membiarkan Sherry melakukan kebodohan sampai mereka menikah sirih. Apalagi sampai ketemu mami bisa gagal semua rencananya. "So.. Kalau begitu turut kata-kata saya. Jangan melakukan kesalahan, hanya tunggu sampai kita menikah." Sherry muak, tapi ini sudah jadi pilihannya. Dia harus menuruti laki-laki yang sebentar lagi jadi suaminya. Tak bisa ia bayangkan hidupnya bersama Arka dalam enam bulan, sepertinya ia harus memiliki sikap sabar yang lebih banyak terhadap sih arogan satu ini. "Iya, Pak." Pasrahnya. "Bagus. Besok kamu bawa kartu keluargamu. Diaz akan lakukan daftar nikah dengan salah satu ustad yang dia kenal untuk menikahi kita." "Baik, Pak." Sekarang yang Sherry bingung, alasan apa yang harus ia berikan pada Ibunya, pasti Ibunya Fatim tidak mudah mengijinkannya pergi jauh. Lebih lagi Sherry belum pernah jauh dengan ibunya begitu lama, enam bulan bukan waktu yang singkat. Bagaimana jika ibunya curiga? Belum Luna, tambah lagi Raga yang otomatis akan banyak tanya padanya. Beberapa saat kemudian akhirnya Arka mengantar Sherry pulang ke rumahnya. Sebenarnya Sherry sudah menolak di antar pria itu, kemarin saja dia pulang bersama Arka, Luna sudah heboh seperti apa. Dan sekarang ia pulang bersama Arka lagi, pasti tambah curiga Luna. Diperjalanan tidak ada yang mereka bicara, hanya suara musik di mobil Arka yang terdengar. Sherr sejenak memejamkan matanya, ia tidak berniat untuk tertidur. Wanita itu hanya stress dengan alasan yang tepat harus ia berikan pada keluarganya. Waktunya hanya tinggal beberapa hari menikah dengan pria yang fokus dengan setirannya. Jika wanita lain menikah dengan hati yang bahagia, tapi tidak untuk Sherry yang harus patah hati dengan pernikahannya sendiri. Satu-satunya pria yang ingin sekali ia habiskan hidupnya masih terbaring di rumah sakit, setiap detik hanya harapan yang Sherry miliki sampai pria itu akan terbangun dan mereka menikah. Itu adalah salah satu impian kecil yang Sherry punya. Arka seketika melihat Sherry dari kaca spion, ia melihat wajah Sherry lebih terlihat polos saat terpejam seperti sekarang, seolah semua keburukan wanita itu di mata Arka tertutup. 'Ternyata dia cantik saat tidur' batin Arka. Arka bahkan tanpa sadar mengenggam jemari lentik Sherry, ia seakan tak sabar menunggu hari pernikahan mereka. Entah apa yang membuatnya senang atas pernikahan di atas kertas itu. Cinta.. Tidak Arka tidak suka hal dengan berbau cinta. Ia terus menyakinkan itu, apalagi mereka baru mengenal mana mungkin semudah itu dia jatuh hati pada Sherry yang sungguh kadang membuatnya muak. *** Sekarang akhirnya mereka sampai tepat di depan rumah Sherry, wanita itu masih termangu dalam kesunyian yang ia buat sendiri. Di teras rumah Sherry tampak ada Luna maupun Raga tengah mengobrol disana. Arka sudah mengetahui siapa Luna? Namun Raga? Arka sama sekali tidak tahu. Sambil menatap Sherry sesekali ia melirik kedua orang itu yang sepert sudah menunggu Sherry untuk keluar dari mobil. "Eh.. Udah sampai! Mau sampai kapan kamu tiduran di mobil saya." Cibir Arka sambil menggoyang pundak Sherry. Wanita itu langsung membuka mata, ia tersadar jika sudah sampai depan rumahnya. Astaga gawat! Kiamat sudah kau Sherry!! Sherry mencebik melihat ada Raga di depan rumah, bahkan tak lama dari itu ibunya juga keluar dari rumah. Sekarang benaran habis dirinya, kalau sampai Arka keluar dari mobil pasti ibunya meminta bosnya itu masuk. Sedangkan Raga pasti akan banyak tanya tentang Arka padanya. Oh God! Dia harus apa? Sherry menyimpukan senyum termanis ia miliki pada Arka. "Hmm.. Pak, saya turun. Pak Arka langsung pulang aja. Terima kasih sudah repot mengantar saya pulang." Ucapnya dengan suara lembut. Arka tepelongo heran, tidak biasa Sherry bersikap semanis itu padanya pasti ada suatu yang ia takutkan. "Eits.. Tunggu sayang." Arka menarik rambut Sherry yang tersimpul rapih. "Saya mau turun! Laki-laki itu siapa? Saya harus tau seluruh keluarga kamu. Sepertinya Diaz terlewat dengan laki-laki itu." Tambahnya sambil mendongak kearah Raga. Ah tidak! Bagaimana ini? Masa iya dia bilang Raga itu saudaranya, tidak mungkin. Raga sahabatnya bagaimana ia menjelaskan itu pada Arka, sementara Arka sudah menekan dirinya untuk tidak dekat dengan pria manapun saat mereka memiliki hubunganhubungan kalau dia tahu tentang Raga bisa habis diberi pidato dengan sih Arka ini. Sepertinya ia harus berbohong tentang Raga. Napas Sherry sekarang seakan tercekat saking dia terlalu khawatir dengan keadaan seperti sekarang. "Pak, lain kali saja saya kenalkan dia sama bapak." Ucap Sherry berusaha membuat pengertian pada Arka, namun Arka semakin penasaran dengan sosok Raga. "Saya akan tetap turun." Ucap Arka keras kepala. Sherry merasa dongkol sambil mengelus d**a sendiri yang seakan menyabarkan dirinya. "Pak, laki-laki itu hanya keluarga jauh saya. Dia memang sering main kesini karena di rumah saya nggak ada laki-laki. Jadi dia khawatir pada kami." Ucap Sherry berasalan. "Alasan yang klasik. Saya akan turun. Titik. No debat lagi." Huft Sherry menghela napas berat, ia tak bisa menyakinkan Arka. Pria itu ternyata sulit tidak seperti Raga dan Nathan yang ia kenal. Ini pertama kalinya ia bertemu lelaki begitu keras kepala sepeti Arka. Dasar menyebalkan!! Brensek.. Sherry mengumpat Arka berulang kali dalam hatinya, melawan Arka sama saja melawan takdir. Sekarang dia terpaksa membawa Arka masuk ke rumahnya. Luna akan semakin mengejeknya nanti. 'Ya Tuhan selamatkan aku.' Gusar Sherry dalam hatinya. Arka turun lebih dulu, lalu ia membukakan pintu mobil untuk Sherry. Arka tau muka Sherry sangat tidak bersahabat. Pria itu yakin Sherry tidak suka ia memasuki hidup pribadinya terutama keluarganya, tapi Arka tidak perduli ia tetap melakukan yang menurutnya benar. Arka harus tahu seluruh kerabat Sherry karena jika suatu terjadi dengan Sherry, ia akan lebih mudah menghubungi salah satu dari mereka. Raga terkejut Sherry pulang dengan seorang pria, ia sontak berdiri dari duduknya. Terlihat sorotan mata penuh tanya di mata Raga, belum juga ia mendapat jawaban dari Sherry tentang kemana dia semalam tadi sekarang ia malah melihat Sherry dengan sosok yang bahkan sama sekali tidak dikenalinya. Jantung Sherry bertalu kencang, ia ketakutan dengan semua pertanyaan yang akan terlontar. Tapi tidak untuk ibunya yang justru tersenyum melihat Sherry dengan pria lain. Fatim selama ini diam-diam seringkali melihat Sherry menangisi Nathan, ia berpikir mau sampai kapan putrinya menunggu Nathan yang bahkan tidak tau apakah ada harapan untuk sadar dari komanya. Setiap sholat Fatim selalu mendoakan agar putrinya Sherry segera menemukan pria yang tepat untuk hidupnya. Kadang Fatim ingin sekali Raga menggantikan posisi Nathan di hati Sherry tapi Fatim tahu jika Luna memiliki perasaan terhadap Raga, ia tidak bisa melihat putrinya bahagia akan tetapi ada putrinya lainnya menangis. Raga berdiri paling depan saat Sherry sudah hampir mendekati mereka. "Siapa?" Lontar Raga membuat Sherry terteguk. "Lo apaan sih? Udah kayak satpam aja." Sherry berusaha bersikap santai seperti biasa, meski hatinya tentu sudah tak karuan bahkan mungkin saat ini mendidih. "Dia siapa, Sher. Ngapain lo pulang sama dia?" Oceh Raga. Arka menatap sinis Raga dengan santai mengulurkan tangannya. "Perkenalkan saya Arka. Sa--" "Dia bos tempat aku bekerja." Sebelum Arka dapat melanjutkan kalimatnya Sherry sudah mencela ucapannya, wanita itu takut Arka mengatakan sesuatu yang tidak diinginkannya. Seketika Arka langsung menatap tajam Sherry, berani sekali Sherry menyambar ucapannya. "Saya bos Sherry bekerja. Kebetulan kami meeting di luar, itu kenapa saya mengantar dia pulang. Khawatir karena dia perempuan harus pulang sendirian." Sherry melebarkan matanya, bijak sekali alasannya. Sok khawatir! Dasar muka dua!! "Sekali lagi kamu berani mencela omongan saya. Kamu akan menyesal." Bisik Arka pada Sherry berhasil membuat sekujur seluruh tubuhnya merinding. "Ternyata nak Arka ini baik sekali, kebetulan ibu ada masak gimana kalau masuk dulu." Ucap ramah ibu Fatim membuat Sherry menggeleng kearah Arka. Sherry berpikir jangan sampai Arka menerima tawaran ibunya, bisa besar kepala pria ini. Lagi pula tidak ada perjanjian perkenalan antara keluarga. Tapi Arka justru tersenyum menandai setuju. "Kalau tidak merepotkan, tante." "Panggil ibu saja. Jangan sungkan ya nak Arka." Ujar Fatim. Sherry menghempaskan napas kasarnya. Ibunya nampak menyukai Arka, dan kesalnya lagi Arka pandai mengambil hati ibunya. Saat masuk rumah, Raga mencekal lengan Sherry. Setahunya Sherry sangat membenci bosnya itu tapi lihat sekarang kenapa mereka begitu akrab. Sedangkan Luna sedari tadi sudah menggoda kakaknya denag muka sumringah. "Apaan sih, Ga?" Sherry membalikkan tubuhnya, wanita itu merasa kesal dengan kehadiran Arka yang mendadak bisa berperilaku seenaknya. "Seharusnya pertanyaan itu untuk lo, Sher? Apaan ini? Lo dan dia. ." "Jangan sembarangan, Ga. Gua masih punya Nathan nggak mungkin juga punya perasaan sama orang lain." Raga memicingkan matanya masih curiga, ia tak bisa percaya dengan Sherry begitu mudah. "Tapi, kak. Ganteng dia daripada Kak Nathan, lagian sampai kapan kakak tunggu yang nggak pasti." Ucap Luna bermaksud menggoda sang kakak. "Luna! Jaga bicara kamu, aku sama dia nggak ada apa-apa." "Masa sih." Luna menggamit dagu Sherry membuat wanita itu sebal pada Luna yang terus menggodanya sejak tadi. " Tapi kelihatannya nggak seperti itu." Tambah Luna semakin membuat Sherry mendidih hatinya. "Sekali lagi kamu bicara, aku nggak mau bayarin semester kamu." Geram Sherry mengancam Luna membuat bibir Luna mengerecut. "Astaga.. Kalian bertiga mau sampai kapan berdiri depan pintu. Ayo masuk." Tegur Fatim langsung ketiganya masuk kedalam rumah. Arka sudah duduk santai di ruang tamu sederhana rumah Sherry, pria itu melihat seisi dalam rumah itu yang jauh berbeda dengan miliknya. Ternyata Sherry hanya wanita sederhana, sontak membuat Arka berpikir mungkin salah satu alasan Sherry menerima tawaran karena kebutuhan uang, apalagi yang ia dengar Sherry yang membiayai kuliah Luna selama ini. Arka semakin kagum pada pribadi Sherry, hidupnya berprinsip namun ia tak malu dengan apa yang dihadapannya, Arka ingat betul saat ia menabrak ojek Sherry, ia memaksa Arka untuk minta maaf, namun Arka tetap tidak ingin melakukan itu. Dari sana pula berawal kebencian mereka satu sama lain. Sherry duduk di hadapan Arka, ia seakan meminta Arka untuk tidak mengatakan apapun pada ibunya. "Bu, Pak Arka sepertinya capek, lebih kita persilakan dia pulang." Ucap Sherry asal justru mendapat cubitan dari ibunya membuat Sherry meringgis kesakitan. "Sherry! Kamu jangan suka bersikap seperti itu. Nak Arka ini bos kamu, seharusnya kamu hormat sama dia, dia itu udah baik karena terima kamu bekerja. Jadi orang itu bersyukur, sekarang kamu ke dapur buat minum untuk nak Arka." "Tapi, Bu.." "Sherry, nggak ada tapi-tapian." Tegas Fatim membuat Sherry pasrah pergi ke dapur. Arka terkekeh melihat kepergian Sherry, namun pandangannya beralih pada Raga yang berdiri dibelakang Luna. Raga sedari tadi terus menatapnya seakan Arka mangsa yang berbahaya untuknya. Arka jadi penasaran sebenarnya siapa Raga, setelah pulang dari rumah Sherry ia harus meminta Diaz menyelidiki tentang Raga ini. Akan tetapi tidak untuk Fatim maupun Luna yang selalu bersikap ramah dan baik padanya. Seolah-olah dia malaikat penyelamat mereka. Entah apa yang terjadi pada keluarga ini. Tapi satu yang pasti Arka semakin yakin meminta Sherry jadi istri sirihnya dengan begitu maminya tidak memaksa untuk menikahi Rea.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD